Written on 01.00 by Unknown
Menit ke-1
Segar kurasakan
Saat kubasuh wajahku dengan
Air
Dari pancuran
Bambu kecil itu
Menit ke-2
Kubayangkan pandang pada
Bukit cadas itu
Kubiarkan mata ini berkelana menyusuri kelokan air
Hingga ke balik bukit, kututup kelopak mata sejenak dan membayangkan
Menit ke-3
Kering, tandus
Tak ada air, hanya cadas dan cadas
Lalu kau putuskan untuk mengadu kerasnya logam dengan cadas
Kau ulur rotan rapuh yang kau jadikan pegangan
Menit ke-4
Berhari-hari kau lakukan perbuatan mulia itu
Di sela-sela kesibukanmu mengurus keluarga
Tak terasakan semua lelah saat kau lihat jejak-jejak air di tanah
Menit ke-5
Dan kini air mengalir dengan lancarnya
Aku tersenyum dan berbisik lirih
Terimakasih, Mak Eroh . . .
Posted in
Puisi
|
Written on 05.28 by Unknown
Oleh : Viny Alfiyah
Street
Hooligans, itulah sebutan masyarakat Inggris bagi orang
yang terlibat geng-geng jalanan. Entah itu di London, Manchester, ataupun
kota-kota lainnya di kerajaan tersebut. Agaknya, hal tersebut tidak jauh
berbeda dengan situasi premanisme di kalangan pelajar, terutama di lingkungan
Sukabumi yang identik dengan aksi tawurann antar pelajar, penganiayaan, serta
sabotase kendaraan antar pelajar.
Dalam
Wikipedia, premanisme berasal dari kata bahasa Belanda, yaitu vrijman
yang mempunyai arti orang bebas, merdeka, dan isme atau aliran adalah
sebutan peyoratif yang sering digunakan untuk merujuk kepada kegiatan
sekelompok orang yang mendapatkan penghasilannya terutama dari pemerasan
terhadap kelompok masyarakat lain.
Orang
tua, guru, dan teman merupakan pihak-pihak yang sangat mempengaruhi perilaku
seorang pelajar, orang tua yang baik tidak akan membiarkan putra-putrinya
bergaul dengan teman-teman yang memiliki sifat-sifat yang tidak baik, dalam hal
ini orang tua dapat menjalin komunikasi dengan
pihak sekolah terutama dengan guru/wali kelas, wakil kepala sekolah
bidang kesiswaan dan BK. Sebagai sesama pelajar, penulis pun merasakan bahwa
kita memang harus mau berjiwa besar dan menerima dengan siapa pun teman kita,
tetapi itu bukan berarti kita tidak dapat memilih teman dan mencoba menyadarkan
teman kita yang masih tersesat dan bersama dengan guru ikut berperan serta
membimbingnya kembali ke jalan yang benar.
Tetapi
kondisi seperti yang penulis uraikan di atas sering tidak sejalan dengan
realita, orang tua terkadang seakan ‘menelantarkan’ anaknya sendiri dan
menyerahkan urusan pendidikan serta pengajaran anak kepada lembaga sekolah
dalam hal ini guru. Guru pun kadang kala kewalahan dengan perilaku siswa-siswi
di sekolah dan ‘lepas tangan’ jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tak
dapat dipungkiri bahwa memang banyak guru di Sukabumi yang ‘berkualitas’.
Namun, tak dapat dibilang tidak ada juga guru yang ‘kurang’ berkompeten dalam
menjalankan tugas mulianya. Lingkungan pergaulan yang salah seakan
memfasilitasi pelajar untuk semakin
berbuat onar. Contoh nyata akibatnya yaitu banyaknya gerombolan pelajar yang
sering nongkrong di Lapang Merdeka Sukabumi, paling sedikit satu kali
seminggu mereka sering terlihat bergerombol di sana. Terlebih jika diadakan
konser yang terbuka untuk umum, dapat dipastikan akan terjadi tawuran antar
pelajar. Jumlah aparat keamanan yang terbatas membuat para pelajar semakin
leluasa untuk saling adu jotos.
Memang
terdapat sanksi dari aparat kepolisian bagi para pelaku tawuran yang
tertangkap, sebagai contoh di aparat Polres Kota Sukabumi dapat menahan pelaku
aksi tawuran selama 12-24 jam, dibina dengan diberikan pencerahan keagamaan,
memberi peringatan kepada pihak lembaga sekolah dimana pelaku belajar lalu
siswa dipulangkan. Tetapi entah mengapa, pada akhir pekan selanjutnya siswa
tersebut akan melakukan hal yang sama dengan berulang-ulang hingga ia
dikeluarkan dari lembaga sekolah di mana ia belajar. Tentu saja hampir dapat dipastikan
tidak akan ada sekolah negeri yang akan menerima siswa tersebut karena pasti
akan terdapatt catatan di buku rapornya. Jika punya ketekunan dan keahlian
tertentu mungkin selepas drop out (DO) siswa tersebut dapat menjadi
seorang pengusaha layaknya Bob Sadino alih-alih seorang ahli software seperti
Bill Gates, almarhum Steve Jobs, atau pun sang CEO Facebook, Mark Zuckerberg.
Namun, kenyataan kadang tak sesuai harapan, alih-alih menjadi wirausahawan
malah menjadi preman.
Untuk
meredam dan menghilangkan kemungkinan terbentuknya jaringan premanisme,
diperlukan usaha dan sinergitas yang kuat antar komponen perangkat daerah,
seperti Disdik, Disporabudpar, Pemerintah Daerah, aparat kepolisian, lembaga
sekolah, serta masyarakat.
Salah
satunya dengan diadakannya sarana olahraga bela diri yang disukai masing-masing
individu ataupun diikutkan dalam Seni Bela Diri Campuran atau MMA (Mixed
Martial Arts). Sayang sekali jika terdapat nyali, kepercayaan diri, kekuatan
fisik yang tangguh, dan hasrat untuk menjadi seorang pemenang yang besar harus
disia-siakan dan malah menjadi bumerang bagi diri sendiri, yang harusnya
menjadi potensi untuk mendulang prestasi.
Semoga
saja pemerintah melihat hal ini dari negatif menjadi celah positif untuk
membawa nama Sukabumi menjadi yang terbaik di Nusantara.
Posted in
Artikel
|
Written on 05.23 by Unknown
Oleh : Viny Alfiyah
Langit utara
Tempatmu berada
Meski hanya berbeda
Satu derajat saja
Dari titik nol kesempurnaan
Dirimu sangat berguna
Bagi kami
Para kapten kapal yang lupa menyimpan kompas
Para nahkoda yang hilang arah
Para kelasi yang mabuk
Para nelayan yang lupa daratan
Dan jiwa-jiwa pelaut yang tersesat
Karenamu kami tahu
Kemana sang mawar menuju
Tertatih mngikuti garis-garisnya
Hingga kami bisa pulang
Ke tempat yang kami sebut
Daratan
Posted in
Puisi
|
Written on 22.19 by Unknown
Hmmm, aku punya cerita yang
Kuharap kau tidak akan pernah mengalaminya
Kukisahkan . . .
Seorang perempuan yang selalu diam
Yang dibalik kediaman itu
Yang dibalik tatapan itu
Tersimpan berjuta sayang untukku
Yang tak terlisankan
Namun, aku tak pernah menyadarinya
Hingga sampailah ia pada penghujung takdirnya
Aku tak sempat mengatakannya
Kata-kata yang selalu mencoba berontak keluar
Tapi tertahan di kerongkongan
Saat tubuhmu mulai kaku
Tahukah, kau?
Aku mau merentas lautan api
Aku mau ditusuk ratusan duri
Kehilangan harta duniawi
Akan kuarungi samudra
Kuhadapi badai menerpa
Hanya untuk menukar beberapa saat bersamamu
Hanya agar perempuan itu tahu
Aku sayang padamu
Ibu . . .
Posted in
Puisi
|
Written on 06.02 by Unknown
by: Viny Alfiyah
Tahun ajaran 2012/2013 baru saja dimulai setelah berhari-hari mengecap liburan panjang akhir semester dua. Tapi mungkin bagi belia yang bersekolah di SMA yang tahun ini menyandang status ‘pangais bungsu’ alias kelas XI, maka akan menghadapi apa yang dinamakan penjurusan. Penjurusan pada dasarnya adalah usaha membantu pelajar untuk mencocokkan pelajar dengan ‘jenis pekerjaan tertentu’. Namun, bukan tidak mungkin di awal semester ini masih ada pelajar yang masih bimbang menentukan arah ‘kapal’ mereka. Biasanya sekolah menyediakan kesempatan ‘kedua’ dengan memberikan pembelajaran tambahan selama beberapa minggu sebelum dilaksanakan tes yang akan menentukan jurusannya di SMA.
Menentukan penjurusan bagi pelajar bukanlah perkara yang mudah, guru-guru kita harus bekerja ekstra untuk ‘menjodohkan’ pelajar dengan jurusan IPA, IPS, ataupun Bahasa yang tentunya keinginan kita sebagai pelajar menjadi salah satu faktor yang akan dipertimbangkan.
Tapi banyak anggapan yang beredar jika masuk IPA itu keren dan penghuninya adalah orang – orang ‘pintar’, IPS yang katanya memiliki image yang kurang baik dimata orang tua, dan jurusan Bahasa yang cenderung bersifat netral. Nah, kita sebagai pelajar harusnya dapat menghadapi pandangan seperti itu dengan bijaksana. Meski memang menurut penulis ada sedikit ‘keuntungan’ bagi belia yang masuk penjurusan IPA dapat mengambil paket IPA atau paket IPC (jika ingin menyeberang ke jurusan IPS) pada saat SNMPTN nanti.Namun, dalam kehidupan ini ekonomi yang pada dasarnya merupakan mata pelajaran IPS merupakan ‘punggung’ suatu negeri, majunya pembangunan suatu negara tak lepas dari usaha-usaha yang dilakukan para ahli ekonomi. Bahasa pun memiliki keunggulan tersendiri, penulis selalu membayangkan betapa senangnya hidup ini jika penulis mampu menguasai banyak bahasa, jadi kita tidak mempunyai kendala berkomunikasi dimana pun kita berada. Apalagi negeri kita ini memiliki beragam suku yang mempunyai bahasa daerahnya masing-masing.
Memang sulit untuk mengubah pandangan yang telanjur IPA-sentris ini, tapi penulis yakin sahabat belia sebagai insan yang berpendidikan pasti akan mampu memandang masalah penjurusan ini dengan lebih bijaksana. Jadi tidak ada salahnya masuk jurusan IPA, tidak ada kekurangannya dengan jurusan IPS, begitu pun dengan jurusan Bahasa karena masing – masing jurusan memiliki keunggulan dan kekurangannya masing – masing. Disanalah kita harus mampu menempatkan diri dengan arif dan terus berusaha menjadi yang terbaik di jurusan kita masing – masing. (Dimuat di Koran Harian Umum Pikiran Rakyat, edisi 14 Agustus 2012)
Posted in
Artikel
|
Written on 22.26 by Unknown
by: Viny Alfiyah
Berlalu sudah sebelas tahun di abad 21 ini, memasuki tahun ke dua belas pendidikan seakan menjadi keharusan bagi setiap insan manusia. 'Sekolah! Sekolah! Sekolah!' Begitu pesan Menteri Pendidikan Nasional Kabinet Bersatu II, Moh. Nuh beberapa waktu lalu. Tetapi pada kenyataanmnya tetap saja pendidikan yang berkualitas mumupuni masih terasa jauh dari jangkauan rakyat, terutama dari kalangan masyarakat menengah ke bawah.
Pendidikan seakan menjadi sesuatu yang mutlak, harga mati yang harus di bayar untuk mempermudah mencari kerja dan kehidupan sukses yang akan dituai kelak. Bantuan dana BOS seakan lenyap entah di mana, yang tidak akan pernah tersampaikan pada tangan – tangan yang berhak. Hal tersebut membuat kita mencari pilihan lain, yaitu mencari beasiswa. Namun, seringkali kita tidak mengetahui dari mana kita harus memulai dan apakah sebenarnya yang kita cari. Penulis ingin berbagi hal-hal tentang bagaimana cara mencari beasiswa yang tepat.
– Fokus, aktif mencari informasi tentang program beasiswa.
Jika kita mencari di Internet, utamakan mencari dulu informasi yang dibutuhkan, usahakan untuk menahan keinginan membuka situs jejaring sosial, karena akan menghambat pencarian kita dan akan sulit mengalihkan perhatian dari situs jejaring sosial pada tujuan awal kita.
– Perkuat kecakapan/kemampuan berbahasa.
Siapkan berbagai dokumen seperti
curicullum vitae, akta kelahiran, dll.
Transkrip nilai dalam bahasa Inggris.
Surat rekomendasi dari dosen/guru.
Hasil tes TOEFL/IELTS (biasanya diadakan di tiap sekolah pada kelas XI atau XII).
–
Motivation statement yang jelas.
Cermat dalam membuat surat motivasi, usahakan tidak lebih dari 2 halaman serta tidak lebih dari 1600 karakter. Terkadang memang sulit untuk mengawalinya, tetapi mulailah dari apa yang membuat kita tertarik dengan program itu, apa yang kita pikit dapat kita lakukan jika belajar di program tersebut. Janganlah terlalu berharap yang berlebihan, singkat, tetapi menceritakan segalanya dan menarik.
– Jangan pilih – pilih beasiswa.
Jangan andalkan hanya Internet, jangan ragu untuk menanyakan informasi dari orang-orang di sekitar Anda, seperti keluarga, kerabat, para dosen/guru dan staff karyawan universitas/sekolah, teman-teman Anda, koran, majalah, dll.
Mulailah mencari beasiswa skala lokal atau regional dan seterusnya hingga jenjang internasional.
Mulailah mencari beasiswa sedini mungkin seperti dimulai dari kelas X SMA atau tingkat I jika Anda telah kuliah.
Program beasiswa biasanya dibuka mulai pertengahan tahun ajaran pendidikan.
Untuk beberapa negara mungkin berlaku peraturan lain, seperti di Belanda bahwa Anda telah diterima di salah satu universitas lain sebelum mengajukan permohonan program ke salah satu universitas di negeri Kincir Angin tersebut.
Pahami dan pertimbangkan baik-baik program beasiswa yang ditawarkan oleh suatu instansi/lembaga.
Beberapa situs yang dapat Anda kunjungi, www.infobeasiswa.net/, www.pusatinfobeasiswa.com/, www.scholarships.com/, indonesianscholarship.com/.
Semoga sukses!!!!!.
PRIOR PREPARATION PREVENTS POOR PERFORMANCE
Posted in
Artikel
|