Written on 07.11 by Unknown
by: Viny Alfiyah
Do you follow an extracurricular activities at your school? Are you a member of Organization of Intra-School Students management? It's excellent if you following it both.
According to Wikipedia.org, extracurricular activities are activities performed by students that fall outside the realm of the normal curriculum of school or university education. Extracurricular activities exist at all levels of education, from 4th-6th, junior school/high school, college, and university education.
Such activities are generally voluntary as opposed to mandatory, non-paying, social, philantropic as opposed to scholastic, and often involve others of the same age. Students often organize and direct these activities under faculty sponsorship, although student-led initiatives, such as independent newspapers, are common.
Extracurricular activities itself could like the events of arts, sports, personality development, and other activities to meaning on the positively progressive from the students themselves.
In Indonesia, extracurricular activities are based on the Decree of the Minister of Education No. 0461/U/1964 and Decree of Director General (Primary and Secondary) Dikdasmen No. 226/C/Kep/O/1992. Stated that extracurricular is one of the pathway for the students, besides Organization of Intra-School Students, Leader Training and Environmental Insight.
Example of sport extracurriculars are:
Basket ball
Volley ball
Soccer
Badminton
Swimming
Some school added their sport extracurricular with Rock climbing, Gymnastic, Parkour, Free Running, etc.
Sport clubs activities at schools mostly focused on practice, not in theory. Therefore, a sport club have many agenda's activities performed, which the members of the club activities by exercising together, whether it will be a championship or not. It just a routine exercise only or to adding skill. Sport activities definitely requires a lot of energy, which means a lot of movement by the muscles too, and muscle get the energy from respiration or breathing.
It makes the circulation of oxygen in the brain becomes more smoothly and will make our brain easier to catch material from the teacher, and make our memory better. Moreover, the right side of the brain associated with motoric nerves and kinesthetic ability to balance the development from the left side of our brain. Thus, the two parts of our brain become balanced and more optimal.
So, being a member of a sport club, we could achieving our skill, we could get a healthy lifestyle by following it. We could make our body looks great, great muscles, an ideal body shape, etc. You can’t being sick easily because you have a great immune in your body.
Be healthy and smarter with the sport club!
Reference : Narmoatmojo, Winarno. 2009. Ekstrakurikuler di Sekolah: Dasar Kebijakan dan Aktualisasinya. (Accessed:
18 Oktober 2012).
Picture: personal document
Posted in
Artikel
|
Written on 01.22 by Unknown
Ketegaran seorang perwira berpadu dengan kelembutan dan keanggunan seorang wanita yang sedang di terpa teriknya sinar mentari. Itulah yang penulis lihat di mata seorang Polwan saat mengatur arus lalu-lintas di sebuah jalan raya. Menurut Wikipedia, Polwan adalah satuan Polisi khusus yang berjenis kelamin wanita. Sejarah telah menuliskan bahwa kelahiran Polisi Wanita (Polwan) di negeri kita ini tidaklah jauh berbeda dengan kelahiran Polisi Wanita di negara lain di dunia. Polwan biasanya bertugas dalam penanganan dan penyidikan terhadap kasus – kasus kejahatan yang melibatkan kaum wanita, baik sebagai korban maupun sebagai pelaku kejahatan.
Polisi Wanita lahir di Republik Indonesia pada tanggal 1 September 1948. Daerah yang pertama kali memiliki Polwan adalah Bukit Tinggi, Sumatera Barat ketika Pemerintah Indonesia tengah menghadapi peristiwa Agresi II dan terjadi pengusian warga secara besar-besaran dari daerah Semenanjung Malaya yang sebagian besarnya berjenis kelamin perempuan. Para pengungsi ini tidak mau diperiksa dan digeledah secara fisik oleh Polisi pria.
Permasalahan ini membuat Pemerintah Indonesia menunjuk SPN (Sekolah Polisi Negara) Bukit Tinggi untuk mengadakan “Pendidikan Inspektur Polisi” bagi kaum perempuan. Setelah melalui seleksi yang ketat, terpilihlah enam orang gadis remaja yang kesemuanya asli orang Minang, yaitu : Mariana Saanin, Nelly Pauna, Rosmalina, Dahniar, Djasmaniar, dan Rosnalia yang secara resmi memulai Pendidikan Inspektur Polisi a 1 September 1948. Sejak saat itulah dinyatakan telah lahir Polisi Wanita (Polwan) yang juga merupakan para wanita ABRI pertama di NKRI yang saat pensiun rata – rata telah berpangkat Kolonel Polisi (Kombes).
Kini setelah 64 tahun berdiri, tugas Polwan di NKRI ini bukan hanya menyangkut masalah kejahatan wanita, anak – anak, dan remaja saja, tetapi telah merambah ke masalah administrasi bahkan nyaris menyamai tugas-tugas Polisi prianya. Bahkan Korps Polisi Wanita patut berbangga karena pada 23 Januari 2008 silam secara resmi telah memiliki seorang Kapolda wanita pertama di Indonesia, yaitu Kapolda Banten Brigjen Rumiah.
Jumlah Polwan di Indonesia memang masih sedikit dibanding dengan anggota Polisi pria. Wakapolri Komjen Nanan Soekarna menyebutkan jika Polri memerlukan taruni Akpol lebih banyak, karena dalam undang – undang Polri harus menyediakan kuota taruni sebanyak 30% dimana baru terpenuhi sebanyak 0,3% saja.

Di zaman modern ini, kenakalan remaja, tawuran antar pelajar, dan berbagai kasus kejahatan lainnya semakin marak di berbagai daerah merupakan tantangan bagi Korps Polisi Wanita untuk semakin bersemangat dalam membuktikan eksistensi diri sebagai anggota Polisi Republik Indonesia. Selamat Hari Ulang Tahun Polwan yang ke-64!
Dimuat di koran Harian Umum Pikiran Rakyat edisi 18 September 2012.
Posted in
Artikel
|
Written on 01.06 by Unknown
Air merupakan sumber kehidupan, dengan air kita masih dapat menghirup oksigen yang dihasilkan tumbuhan yang tumbuh dengan membutuhkan air. Manusia pun sangat membutuhkan air untuk berbagai kebutuhan, seperti minum, mandi, mencuci, dan lain – lain. Tak hanya manusia dan tumbuhan, hewan pun sangat membutuhkan air untuk kelangsungan hidupnya. Tanpa air, sepertinya seluruh makhluk hidup di dunia ini akan musnah.
Indonesia yang dianugerahi iklim tropis memiliki jumlah air yang melimpah karena curah hujan yang cukup tinggi dan berlangsung sepanjang tahun memiliki stok air yang melimpah. Tetapi lain halnya dengan daerah yang memiliki dataran padang pasir yang luas seperti benua Afrika dengan keadaan yang kering dan tandus diatasnya ternyata mempunyai cadangan air yang sangat banyak di dalam tanah.
Menurut Reuteurs.com para peneliti dari British Geological Survey and University College London merupakan tim pertama yang berhasil membuat peta wilayah keberadaan air bersih tersebut. Para peneliti memperkirakan terdapat sekitar 0,66 juta kilometer kubik cadangan air di bawah tanah yang sekitar 100 kali lipat dengan jumlah yang ada di permukaannya.
Cadangan air tanah terbesar ditemukan di negara-negara Afrika bagian utara, seperti Libya, Aljazair, Mesir dan Sudan. Bahkan beberapa cadangan air tanah terbesar berada di bawah Sahara, gurun terkering di Afrika, pada kedalaman 100-250 meter di bawah permukaan tanah.
Permasalahannya terletak pada bagaimana caranya mengakses air tanahlah yang menjadi persoalan utama yang harus dihadapi penduduk Afrika. Menurut Alan MacDonald, pemimpin tim penelitian mengungkapkan bahwa air pada la

pisan lebih dalam dari 50 meter tidak dapat diakses pompa tangan dengan mudah dan membutuhkan biaya yang lebih tinggi karena membutuhkan peralatan yang lebih canggih. Pengambilan air tanah pada skala kecil pun dinilai akan lebih baik karena tidak akan terlalu menguras cadangan air dengan cepat.
Beberapa perkiraan menyebutkan penduduk Afrika yang tidak memiliki akses ke air bersih berjumlah lebih dari 300 juta. Hanya 5 persen saja lahan pertanian yang memperoleh pengairan. Masalah pengairan sangat diperhatikan di benua Hitam ini dan seharusnya membuat kita yang tinggal di Indonesia yang merupakan negeri yang kaya air menjadi lebih bersyukur akan anugerah dari Tuhan ini.
Posted in
Artikel
|
Written on 01.00 by Unknown
Menit ke-1
Segar kurasakan
Saat kubasuh wajahku dengan
Air
Dari pancuran
Bambu kecil itu
Menit ke-2
Kubayangkan pandang pada
Bukit cadas itu
Kubiarkan mata ini berkelana menyusuri kelokan air
Hingga ke balik bukit, kututup kelopak mata sejenak dan membayangkan
Menit ke-3
Kering, tandus
Tak ada air, hanya cadas dan cadas
Lalu kau putuskan untuk mengadu kerasnya logam dengan cadas
Kau ulur rotan rapuh yang kau jadikan pegangan
Menit ke-4
Berhari-hari kau lakukan perbuatan mulia itu
Di sela-sela kesibukanmu mengurus keluarga
Tak terasakan semua lelah saat kau lihat jejak-jejak air di tanah
Menit ke-5
Dan kini air mengalir dengan lancarnya
Aku tersenyum dan berbisik lirih
Terimakasih, Mak Eroh . . .
Posted in
Puisi
|
Written on 05.28 by Unknown
Oleh : Viny Alfiyah
Street
Hooligans, itulah sebutan masyarakat Inggris bagi orang
yang terlibat geng-geng jalanan. Entah itu di London, Manchester, ataupun
kota-kota lainnya di kerajaan tersebut. Agaknya, hal tersebut tidak jauh
berbeda dengan situasi premanisme di kalangan pelajar, terutama di lingkungan
Sukabumi yang identik dengan aksi tawurann antar pelajar, penganiayaan, serta
sabotase kendaraan antar pelajar.
Dalam
Wikipedia, premanisme berasal dari kata bahasa Belanda, yaitu vrijman
yang mempunyai arti orang bebas, merdeka, dan isme atau aliran adalah
sebutan peyoratif yang sering digunakan untuk merujuk kepada kegiatan
sekelompok orang yang mendapatkan penghasilannya terutama dari pemerasan
terhadap kelompok masyarakat lain.
Orang
tua, guru, dan teman merupakan pihak-pihak yang sangat mempengaruhi perilaku
seorang pelajar, orang tua yang baik tidak akan membiarkan putra-putrinya
bergaul dengan teman-teman yang memiliki sifat-sifat yang tidak baik, dalam hal
ini orang tua dapat menjalin komunikasi dengan
pihak sekolah terutama dengan guru/wali kelas, wakil kepala sekolah
bidang kesiswaan dan BK. Sebagai sesama pelajar, penulis pun merasakan bahwa
kita memang harus mau berjiwa besar dan menerima dengan siapa pun teman kita,
tetapi itu bukan berarti kita tidak dapat memilih teman dan mencoba menyadarkan
teman kita yang masih tersesat dan bersama dengan guru ikut berperan serta
membimbingnya kembali ke jalan yang benar.
Tetapi
kondisi seperti yang penulis uraikan di atas sering tidak sejalan dengan
realita, orang tua terkadang seakan ‘menelantarkan’ anaknya sendiri dan
menyerahkan urusan pendidikan serta pengajaran anak kepada lembaga sekolah
dalam hal ini guru. Guru pun kadang kala kewalahan dengan perilaku siswa-siswi
di sekolah dan ‘lepas tangan’ jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tak
dapat dipungkiri bahwa memang banyak guru di Sukabumi yang ‘berkualitas’.
Namun, tak dapat dibilang tidak ada juga guru yang ‘kurang’ berkompeten dalam
menjalankan tugas mulianya. Lingkungan pergaulan yang salah seakan
memfasilitasi pelajar untuk semakin
berbuat onar. Contoh nyata akibatnya yaitu banyaknya gerombolan pelajar yang
sering nongkrong di Lapang Merdeka Sukabumi, paling sedikit satu kali
seminggu mereka sering terlihat bergerombol di sana. Terlebih jika diadakan
konser yang terbuka untuk umum, dapat dipastikan akan terjadi tawuran antar
pelajar. Jumlah aparat keamanan yang terbatas membuat para pelajar semakin
leluasa untuk saling adu jotos.
Memang
terdapat sanksi dari aparat kepolisian bagi para pelaku tawuran yang
tertangkap, sebagai contoh di aparat Polres Kota Sukabumi dapat menahan pelaku
aksi tawuran selama 12-24 jam, dibina dengan diberikan pencerahan keagamaan,
memberi peringatan kepada pihak lembaga sekolah dimana pelaku belajar lalu
siswa dipulangkan. Tetapi entah mengapa, pada akhir pekan selanjutnya siswa
tersebut akan melakukan hal yang sama dengan berulang-ulang hingga ia
dikeluarkan dari lembaga sekolah di mana ia belajar. Tentu saja hampir dapat dipastikan
tidak akan ada sekolah negeri yang akan menerima siswa tersebut karena pasti
akan terdapatt catatan di buku rapornya. Jika punya ketekunan dan keahlian
tertentu mungkin selepas drop out (DO) siswa tersebut dapat menjadi
seorang pengusaha layaknya Bob Sadino alih-alih seorang ahli software seperti
Bill Gates, almarhum Steve Jobs, atau pun sang CEO Facebook, Mark Zuckerberg.
Namun, kenyataan kadang tak sesuai harapan, alih-alih menjadi wirausahawan
malah menjadi preman.
Untuk
meredam dan menghilangkan kemungkinan terbentuknya jaringan premanisme,
diperlukan usaha dan sinergitas yang kuat antar komponen perangkat daerah,
seperti Disdik, Disporabudpar, Pemerintah Daerah, aparat kepolisian, lembaga
sekolah, serta masyarakat.
Salah
satunya dengan diadakannya sarana olahraga bela diri yang disukai masing-masing
individu ataupun diikutkan dalam Seni Bela Diri Campuran atau MMA (Mixed
Martial Arts). Sayang sekali jika terdapat nyali, kepercayaan diri, kekuatan
fisik yang tangguh, dan hasrat untuk menjadi seorang pemenang yang besar harus
disia-siakan dan malah menjadi bumerang bagi diri sendiri, yang harusnya
menjadi potensi untuk mendulang prestasi.
Semoga
saja pemerintah melihat hal ini dari negatif menjadi celah positif untuk
membawa nama Sukabumi menjadi yang terbaik di Nusantara.
Posted in
Artikel
|
Written on 05.23 by Unknown
Oleh : Viny Alfiyah
Langit utara
Tempatmu berada
Meski hanya berbeda
Satu derajat saja
Dari titik nol kesempurnaan
Dirimu sangat berguna
Bagi kami
Para kapten kapal yang lupa menyimpan kompas
Para nahkoda yang hilang arah
Para kelasi yang mabuk
Para nelayan yang lupa daratan
Dan jiwa-jiwa pelaut yang tersesat
Karenamu kami tahu
Kemana sang mawar menuju
Tertatih mngikuti garis-garisnya
Hingga kami bisa pulang
Ke tempat yang kami sebut
Daratan
Posted in
Puisi
|
Written on 22.19 by Unknown
Hmmm, aku punya cerita yang
Kuharap kau tidak akan pernah mengalaminya
Kukisahkan . . .
Seorang perempuan yang selalu diam
Yang dibalik kediaman itu
Yang dibalik tatapan itu
Tersimpan berjuta sayang untukku
Yang tak terlisankan
Namun, aku tak pernah menyadarinya
Hingga sampailah ia pada penghujung takdirnya
Aku tak sempat mengatakannya
Kata-kata yang selalu mencoba berontak keluar
Tapi tertahan di kerongkongan
Saat tubuhmu mulai kaku
Tahukah, kau?
Aku mau merentas lautan api
Aku mau ditusuk ratusan duri
Kehilangan harta duniawi
Akan kuarungi samudra
Kuhadapi badai menerpa
Hanya untuk menukar beberapa saat bersamamu
Hanya agar perempuan itu tahu
Aku sayang padamu
Ibu . . .
Posted in
Puisi
|