Written on 07.40 by Unknown
Dua saudara kembar, Biru dan Jingga, keduanya bersekolah di sekolah yang sama meski dengan kelas yang berbeda, Biru di kelas XI IPA 7 dan Jingga di kelas XI IPA 1, kedua kelas ini memang telah bersaing untuk mnjadi kelas unggulan. Terutama di bidang prestasi, kelas XI IPA 1 memiliki Jingga, si Jenius sains yang pendiam, dan jago menulis, baik itu prosa maupun puisi. Di kelas XI IPA 7, mereka memiliki Biru sang bintang olahraga, selain itu seorang vokalis band sekolah dan menguasai berbagai macam instrumen musik, ia juga pandai mengabadikan gambar dalam bentuk foto maupun dalam bentuk sketsa atau karikatur.
Meski saudara kembar dan wajah mereka nyaris sama, mereka berdua dapat dibedakan dengan mudah, Biru lebih tinggi dan tegap daripada Jingga, sedangkan Jingga selain agak kurus ia pun memakai kacamata minus 3 yang selalu bertengger di hidungnya. Karena Jingga menderita berbagai penyakit akibat komplikasi dari penyakit jantungnya, ia selalu mendapat perhatian dari seluruh keluarganya. Hal ini membuat Biru merasa tersisihkan dan ia selalu acuh tak acuh pada Jingga.
Hingga suatu malam.
“Baru pulang?” tanya Jingga.
“Ya, kenapa? Nggak boleh?” sahut Biru ketus.
“Tidak, aku hanya..”
“Oh, jadi sekarang lo mau ngusir gue? Setelah perhatian Papa Mama dan yang lain lo rebut? Oke, emang udah nggak ada tempat lagi buat gue disini!”
“Biru! Biru! Tunggu!!!”
Namun Biru terlanjur pergi dengan raungan sepeda motornya. Ia tidak melihat Jingga megap-megap karena asma bawaannya kambuh, dan sesaat kemudian Jingga roboh ke lantai.
3 hari berlalu sejak ia pergi dari rumah dan memutuskan untuk mendaki Gunung Gede, sejak ia pergi malam itu HP-nya ia matikan. Hingga saat ia sampai di kaki gunung lagi, ia mengaktifkan HPnya karena akan menelpon temannya. Tetapi sebelum ia menelepon ada Papanya menelepon.
“Biru!! Kamu dimana, nak? Apa kau baik-baik saja?”
“Biru baik-baik saja, Pa. Biru di kaki Gunung Gede, Pa. Ada apa?”
“Jingga, Biru. Jingga..”
“Kenapa dengan Jingga, Pa?” ada sebersit khawatir dalam nada suara Biru.
“Ji..Jingga masuk ICU sejak kamu pergi, nak.”
“Apa? Sekarang Jingga dimana Pa?”
“Di Rumah Sakit Harapan Kita, nak.”
Biru pun langsung memacu motornya pulang. Sejujurnya ada rasa bersalah yang menyelimutinya. Sesampainya di ruang ICU Biru langsung menghampiri Jingga yang terlihat lemah dan setengah sadar. Papa terlihat sedang merangkul Mama yang sedang menangis tersedu-sedu.
“Jingga! Kau tak apa-apa? Maafkan aku, Jingga. Atas segala sikap burukku selama ini.”
“Bi..Biru? Kau disini?”
“Jingga? Ya! Aku disini! Aku disini Jingga.”
“Biru.. aku akan pergi..”
“Tidak, kau tidak akan pergi kemana-mana. Kau akan sembuh dan pulang ke rumah.”
“Biru, aku tidak akan pulang. Aku akan pergi… Biru, senang melihatmu disini..”
Lalu kelopak mata Jingga terpejam untuk selamanya.
“Biru, Jingga menitipkan ini pada Mama untuk diberikan padamu.”
Kau ingat? Saat aku sakit kau duduk menemaniku dan menceritakan cita-citamu yang ingin menjadi seorang pilot, kau bilang agar bisa selalu terbang di langit. Waktu itu kau bilang bahwa kau akan mengajakku melihat bumi dari ketinggian yang tinggi. Dari awal hari dengan birunya langit hingga langit berganti menjadi jingga. Aku selalu berharap itu akan terjadi, tapi ku rasa itu tidak akan terjadi pada jasadku. Atau kau akan menceritakan kisah-kisah petualanganmu.
Kakakmu,
Jingga Prasetyo
Posted in
Fiksi
|
Written on 07.30 by Unknown
“Eh, hp-ku mana ya? Kok nggak ada?” tanya Vandri pada Danu sambil menghentikan langkahnya.
“Lha? Mana aku tahu?” sahut Danu yang ikut berhenti berjalan.
“Beneran nggak ada!” seru Vandri terdengar agak panik. Kedua tangannya meraba-raba ke dalam saku baju dan celana tapi ia tetap tidak menemukan wujud alat komunikasi berbentuk balok kecil itu.
“Seriusan, Dan. Hp-ku nggak ada di kantong, nih! Padahal tadi jelas-jelas aku taro di saku depan!”
“Oke, tenang dulu. Mendingan kita balik lagi ke Labkom aja, mungkin kamu lupa naro di sana, Van.”
“Tadi kamu duduk disini ‘kan? Sekarang sambil nyari hp kamu, coba inget-inget pas terakhir kamu ngeluarin hp. Gimana?”
“Oke, lah.”
Danu dan Vandri pun berkeliling Labkom untuk menyisir tempat-tempat yang mungkin menjadi area jatuhnya hp Vandri. Kolong kursi dan meja tak luput dari pencarian mereka. Setelah beberapa lama mencari tapi hasilnya tetap nihil.
“Masa nggak ada? Terakhir aku pegang hp ‘kan disini?” kata Vandri sedikit frustasi.
“Gimana kalo aku call hp kamu? Di-silent nggak? Mungkin kalo di-call bakal kedengeran ringtone hp kamu..”
“Ahhh, tapi masalahnya hp-ku itu di-silent, Dan!”
“Hmm, agak susah sih kalo di-silent. Tapi patut dicoba.”
“Oke.”
“Nyambung, Van. Tapi kok malah di-reject ya, Van?”
“Coba telepon lagi, Dan..”
Danu mencoba menelepon 5 kali lagi. Tapi pada saat ia akan menelepon untuk yang ketujuh kalinya, hp Vandri tidak aktif. Danu pun mengirimkan SMS yang berisi bahwa hp itu adalah milik Vandri dari kelas X.1.
“Kita coba cari di kelas dulu, Dan.”
“Ada nggak, Van?”
“Nggak.”
“Udah, mending kamu ke mushala, berdo’a dan serahin semuanya sama Allah, lagian sekarang udah waktunya sholat Dhuhur.”
Saat melaksanakan shalat dhuhur, Vandri mencoba mempraktekan cara shalat khusyuk yang pernah dipelajarinya. Ia pun berdo’a sambil bersujud, ia yakinkan jika hp itu memang rezekinya, hp itu pasti akan kembali padanya. Jika tidak, maka Vandri bertawakal serta sabar terhadap takdir Allah SWT. Saat memakai sepatu sambil membilang zikir, seseorang bertubuh kecil dan memakai kacamata menghampiri Vandri.
“Mmmm, Vandri?”
“Ya? Eh, kamu kan..”
“Aku tahu kamu Romi.” Vandri memang tidak begitu mengenal Romi yang dicap kuper oleh teman-teman sekelas mereka.
“Ngg, kamuu hilang hp?”
“Kok kamu tahu?”
“Aku tadi nemuin hp di koridor Labkom, kayaknya jatoh pas kamu mau pake sepatu. Maaf tadi aku reject soalnya aku takut dituduh nyuri hp kamu...” ujar Romi sambil mengulurkan hp Vandri.
“Alhamdulillah, tuh kan Van, Allah pasti akan menolong mereka yang meminta pertolongan.” kata Danu.
“Wah, Alhamdulillah. Duhhh, terimakasih ya Allah, Engaku masih mempercayakan hp itu pada hamba. Makasih juga ya, Rom. Nggak kok, kita nggak nuduh kamu nyuri, justru aku sangat berterimakasih sama kamu udah nyimpen hp aku. Kalo bukan kamu yang nyimpen mungkin hp ini nggak bakal balik lagi ke aku.” kata Vandri sambil tersenyum.
“Nah, masalah hp udah selesai. Yuk, kita balik ke kelas. Bel masuk juga udah bunyi tuh!” ajak Danu yang diikuti anggukan oleh Vandri dan Romi yang kini menjadi teman baru mereka.
Posted in
Fiksi
|
Written on 07.28 by Unknown
Aga termenung sendiri di bangkunya yang terletak di pojok kelas XI IPA 1, di SMA Paxton Nusantara. Merupakan sesuatu yang tidak biasa bagi seorang Aga yang biasanya selalu penuh energi yang meletup-letup itu. Hal ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran bagi sang sahabat sekaligus kawan sebangku Aga, yaitu Donovan yang lebih sering disapa dengan Dondon oleh teman-temannya.
“Kamu kenapa, Ga? Nggak biasanya jadi pertapa kayak gitu?” tanya Dondon setengah bercanda sambil menepuk bahu Aga pelan.
“Ah, enggak. Lagi nggak mood aja.” sahut Aga dengan acuh tak acuh sambil beranjak dari kursinya dan melangkah keluar kelas. Meninggalkan Dondon yang masih berdiri dengan roman wajah penuh tanda tanya.
Rrrrrriiiiingggg!!!!
Aga dengan tergesa-gesa pergi keluar kelas seperti yang dilakukannya tadi pagi, Dondon yang ingin tahu apa yang terjadi pada sahabatnya berusaha mengejarnya.
“Hei, Ga! Mau kamu tuh apa sih? Tadi pagi kabur, sekarang kabur. Pas pelajaran Pak Rahadian tadi aku tanya berapa kali juga kamu ngga ngejawab. Kalo ada masalah cerita dong!” kata Dondon setengah berteriak.
“Bukan urusanmu.” sahut Aga ketus tanpa menghentikan langkahnya.
Dondon terperangah dan berhenti mengejar Aga, ia tidak pernah menyangka akan mendapat jawaban sedemikian rupa dari sahabatnya sejak kelas X. Hari-hari berikutnya Dondon masih terus mencoba berbicara pada Aga, namun Aga selalu mengelak. Dondon pun memutuskan untuk pindah bangku. Hingga di hari ke 7 semenjak Dondon pindah, Dondon melihat Aga sedang duduk dibawah sebatang pohon mahoni yang rindang.
“Aku tak peduli kamu dengerin atau enggak, tapi aku hanya ingin kamu tahu Aga, sekalipun kamu nggak cerita ke aku, aku tetep sahabatmu. Asal kamu tahu, aku bakalan selalu ada dan dengerin saat kamu pengen cerita. Mungkin bagi kebanyakan orang dalam persahabatan itu kita harus menceritakan semua rahasia kita pada sahabat kita, bahkan yang paling gelap sekalipun. Tapi bagiku, hal itu sama sekali nggak berlaku. Kamu berhak nyimpan cerita dan rahasia kamu sendiri, toh aku yakin suatu saat nanti akan datang padamu saat yang tepat untuk menceritakan hal yang kamu simpan selama ini ke aku. Oke, aku balik duluan, ya.”
Mendengar penuturan panjang Dondon ini Aga tercenung, ia meresapi apa yang baru saja dikatakan oleh sahabatnya itu. Aga pun menghela napas dalam-dalam, lalu ia berdiri dan memanggil Dondon.
“Don! Tunggu!”
“Ya?”
“Kau benar tentang rahasiaku itu. Aku dapat memilih menceritakannya padamu sekarang tapi kurasa akan ada saatnya aku memberitahu hal itu padamu. Dan yang terpenting kini aku sadar bahwa kau tak pernah menuntut apa-apa dariku dan satu hal pula yang aku ingin kau tahu, kau selalu dan akan selalu menjadi sahabat terbaikku. Jadi, kuharap kita masih bersahabat, kan?” tanya Aga penuh harap.
“Tentu saja, kawan.” jawab Dondon tersenyum lalu merangkul pundak Aga brotherly. Akhirnya mereka berdua pun menjadi sahabat karib yang akrab selamanya.
Posted in
Fiksi
|