Cinta Sang Ilmuwan

Written on 07.49 by Unknown


Seperti quark
Kecil sekali namun terasa keberadaannya
Tersimpan rapi di sudut hati yang istimewa
Seperti struktur kimia
Rasa itu membentuk cabang antar molekul dengan cepat

Begitu juga dengan dirimu
Layaknya akar tanaman rambat
Semakin erat menambat
Menjerat

Ketahuilah,
Cintaku bukanlah kisah cinta klasik di TV
Sayangku bukan pula sebuah fiksi
Atau hanya ilusi pribadi

Cintaku akan selalu ada
Walau kau tak pernah melihatnya
Tapi kuyakin aku mampu membuktikannya
Tak perlu rasanya mulutku berbusa-busa
Mengucapkan janji setia padamu
Karena aku tahu
Kau yakin akan diriku

Sesungguhnya,
Aku hanya ingin bertanya
Jika kukatakan aku cinta padamu,
Kau akan bilang apa?

'Kan Ada Aku

Written on 07.48 by Unknown

Telah menahun kita bersama
Bersahabat dan berbagi cerita
Kau dengan dia dan
Aku dengan yang lainnya
Tak ada yang berbeda

Hingga kita beranjak dewasa
Saat kita mulai terhanyut dalam racun yang memabukkan
Aku ingin mengatakan rasa ini
Namun aku takut itu malah akan membuatmu menghindar
Dan aku tak pernah ingin kehilangan kebersamaan kita

Saat aku tahu kita merasakan hal yang sama
Dan kau juga sama takutnya untuk mengungkapkannya
Lalu di bibir pantai itu
Kau dan aku terdiam
Hanya debur ombak yang terdengar
Karena mata kita, menyiratkan segalanya

Saat kau lisankan
‘Kita memang tetap bersahabat....dengan komitmen,
Dengan ikatan,
Dan aku menginginkanmu,
Disini dan sekarang’
Dan kini aku tahu kau selalu bisa diandalkan
Ketika kau berbisik di telinga ini
‘Kan ada aku’




Putri Hujanku

Written on 07.43 by Unknown





Pagi itu aku duduk di dekat jendela


Seperti hari-hari yang lalu


Memandangi rintik-rintik air membasahi bumi


Kunikmati secangkir kopi dan sepotong kue


Yang entah mengapa tak berasa apa-apa


Hambar saja dan membuat rasa kesal hinggap pada diriku



Lalu kulayangkan pandang pada sebuah taman di seberang jalan


Dan mataku terkunci


Pada titik fokus itu


Padamu


Yang waktu itu mengenakan baju biru


Dan tak terlihat sebuah payung pun di genggamanmu


Tapi mengapa kau malah terlihat bahagia


Menari-nari dengan jelita


Tak pedulikan titik-titik hujan menerpa


Apa yang kau lakukan disana kira-kira?


Tak dapat aku menerka



Ya, kini kutahu rasa hambar ini telah berganti


Menjadi secangkir kasih dan sepotong kue sayang


Lalu sesaat tatapan kita beradu


Matamu seakan mengajakku untuk


Menikmati hujan bersama


Merasakan tetes hujan dan berbagi cinta denganmu,


Putri hujanku

Pungguk Merindukan Bulan-kah?

Written on 07.33 by Unknown

Mungkin aku memang diciptakan
Hanya untuk memuja
Mengagumi dan
Menyimpan rasa ini
Di palung jiwa yang terdalam

Tapi tak apa
Aku rela

Menjadi biasa saja
Karena tak kuasa
Bersaing dengan mereka
Yang kaya harta di sekolah kita

Tapi tak apa
Aku bisa terima

Meski hanya dipandang sebelah mata
Bahkan, sekedar dilirik pun
Aku tak pernah mengharapkannya
Apalagi mendapat kesempatan
Untuk kau sapa

Tapi tak apa
Aku berkata

Meski kita bertetangga
Rumahku disini
Rumahmu disana
Tapi mengapa hati kita
Tak bisa sedekat jarak rumah kita

Tapi tak apa
Aku ikhlas saja
Karena untuk bertukar sapa
Hanya berani kulakukan
Saat lebaran saja
Itu pun hanya
Beberapa patah kata

Tapi tak apa

Itu cukup membuatku bahagia
Bagiku
Mencintaimu saja
Adalah
Hal yang luar biasa

Kembalinya Handphone yang Hilang

Written on 07.30 by Unknown



“Eh, hp-ku mana ya? Kok nggak ada?” tanya Vandri pada Danu sambil menghentikan langkahnya.
“Lha? Mana aku tahu?” sahut Danu yang ikut berhenti berjalan.
“Beneran nggak ada!” seru Vandri terdengar agak panik. Kedua tangannya meraba-raba ke dalam saku baju dan celana tapi ia tetap tidak menemukan wujud alat komunikasi berbentuk balok kecil itu.
“Seriusan, Dan. Hp-ku nggak ada di kantong, nih! Padahal tadi jelas-jelas aku taro di saku depan!”
“Oke, tenang dulu. Mendingan kita balik lagi ke Labkom aja, mungkin kamu lupa naro di sana, Van.”
“Tadi kamu duduk disini ‘kan? Sekarang sambil nyari hp kamu, coba inget-inget pas terakhir kamu ngeluarin hp. Gimana?”
“Oke, lah.”

Danu dan Vandri pun berkeliling Labkom untuk menyisir tempat-tempat yang mungkin menjadi area jatuhnya hp Vandri. Kolong kursi dan meja tak luput dari pencarian mereka. Setelah beberapa lama mencari tapi hasilnya tetap nihil.
“Masa nggak ada? Terakhir aku pegang hp ‘kan disini?” kata Vandri sedikit frustasi.
“Gimana kalo aku call hp kamu? Di-silent nggak? Mungkin kalo di-call bakal kedengeran ringtone hp kamu..”
“Ahhh, tapi masalahnya hp-ku itu di-silent, Dan!”
“Hmm, agak susah sih kalo di-silent. Tapi patut dicoba.”
“Oke.”
“Nyambung, Van. Tapi kok malah di-reject ya, Van?”
“Coba telepon lagi, Dan..”
Danu mencoba menelepon 5 kali lagi. Tapi pada saat ia akan menelepon untuk yang ketujuh kalinya, hp Vandri tidak aktif. Danu pun mengirimkan SMS yang berisi bahwa hp itu adalah milik Vandri dari kelas X.1.
“Kita coba cari di kelas dulu, Dan.”

“Ada nggak, Van?”
“Nggak.”
“Udah, mending kamu ke mushala, berdo’a dan serahin semuanya sama Allah, lagian sekarang udah waktunya sholat Dhuhur.”
Saat melaksanakan shalat dhuhur, Vandri mencoba mempraktekan cara shalat khusyuk yang pernah dipelajarinya. Ia pun berdo’a sambil bersujud, ia yakinkan jika hp itu memang rezekinya, hp itu pasti akan kembali padanya. Jika tidak, maka Vandri bertawakal serta sabar terhadap takdir Allah SWT. Saat memakai sepatu sambil membilang zikir, seseorang bertubuh kecil dan memakai kacamata menghampiri Vandri.
“Mmmm, Vandri?”
“Ya? Eh, kamu kan..”
“Aku tahu kamu Romi.” Vandri memang tidak begitu mengenal Romi yang dicap kuper oleh teman-teman sekelas mereka.
“Ngg, kamuu hilang hp?”
“Kok kamu tahu?”
“Aku tadi nemuin hp di koridor Labkom, kayaknya jatoh pas kamu mau pake sepatu. Maaf tadi aku reject soalnya aku takut dituduh nyuri hp kamu...” ujar Romi sambil mengulurkan hp Vandri.
“Alhamdulillah, tuh kan Van, Allah pasti akan menolong mereka yang meminta pertolongan.” kata Danu.

“Wah, Alhamdulillah. Duhhh, terimakasih ya Allah, Engaku masih mempercayakan hp itu pada hamba. Makasih juga ya, Rom. Nggak kok, kita nggak nuduh kamu nyuri, justru aku sangat berterimakasih sama kamu udah nyimpen hp aku. Kalo bukan kamu yang nyimpen mungkin hp ini nggak bakal balik lagi ke aku.” kata Vandri sambil tersenyum.
“Nah, masalah hp udah selesai. Yuk, kita balik ke kelas. Bel masuk juga udah bunyi tuh!” ajak Danu yang diikuti anggukan oleh Vandri dan Romi yang kini menjadi teman baru mereka.


Tak Semua Rahasia

Written on 07.28 by Unknown

Aga termenung sendiri di bangkunya yang terletak di pojok kelas XI IPA 1, di SMA Paxton Nusantara. Merupakan sesuatu yang tidak biasa bagi seorang Aga yang biasanya selalu penuh energi yang meletup-letup itu. Hal ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran bagi sang sahabat sekaligus kawan sebangku Aga, yaitu Donovan yang lebih sering disapa dengan Dondon oleh teman-temannya.


“Kamu kenapa, Ga? Nggak biasanya jadi pertapa kayak gitu?” tanya Dondon setengah bercanda sambil menepuk bahu Aga pelan.

“Ah, enggak. Lagi nggak mood aja.” sahut Aga dengan acuh tak acuh sambil beranjak dari kursinya dan melangkah keluar kelas. Meninggalkan Dondon yang masih berdiri dengan roman wajah penuh tanda tanya.

Rrrrrriiiiingggg!!!!

Aga dengan tergesa-gesa pergi keluar kelas seperti yang dilakukannya tadi pagi, Dondon yang ingin tahu apa yang terjadi pada sahabatnya berusaha mengejarnya.
“Hei, Ga! Mau kamu tuh apa sih? Tadi pagi kabur, sekarang kabur. Pas pelajaran Pak Rahadian tadi aku tanya berapa kali juga kamu ngga ngejawab. Kalo ada masalah cerita dong!” kata Dondon setengah berteriak.

“Bukan urusanmu.” sahut Aga ketus tanpa menghentikan langkahnya.
Dondon terperangah dan berhenti mengejar Aga, ia tidak pernah menyangka akan mendapat jawaban sedemikian rupa dari sahabatnya sejak kelas X. Hari-hari berikutnya Dondon masih terus mencoba berbicara pada Aga, namun Aga selalu mengelak. Dondon pun memutuskan untuk pindah bangku. Hingga di hari ke 7 semenjak Dondon pindah, Dondon melihat Aga sedang duduk dibawah sebatang pohon mahoni yang rindang.

“Aku tak peduli kamu dengerin atau enggak, tapi aku hanya ingin kamu tahu Aga, sekalipun kamu nggak cerita ke aku, aku tetep sahabatmu. Asal kamu tahu, aku bakalan selalu ada dan dengerin saat kamu pengen cerita. Mungkin bagi kebanyakan orang dalam persahabatan itu kita harus menceritakan semua rahasia kita pada sahabat kita, bahkan yang paling gelap sekalipun. Tapi bagiku, hal itu sama sekali nggak berlaku. Kamu berhak nyimpan cerita dan rahasia kamu sendiri, toh aku yakin suatu saat nanti akan datang padamu saat yang tepat untuk menceritakan hal yang kamu simpan selama ini ke aku. Oke, aku balik duluan, ya.”

Mendengar penuturan panjang Dondon ini Aga tercenung, ia meresapi apa yang baru saja dikatakan oleh sahabatnya itu. Aga pun menghela napas dalam-dalam, lalu ia berdiri dan memanggil Dondon.

“Don! Tunggu!”
“Ya?”
“Kau benar tentang rahasiaku itu. Aku dapat memilih menceritakannya padamu sekarang tapi kurasa akan ada saatnya aku memberitahu hal itu padamu. Dan yang terpenting kini aku sadar bahwa kau tak pernah menuntut apa-apa dariku dan satu hal pula yang aku ingin kau tahu, kau selalu dan akan selalu menjadi sahabat terbaikku. Jadi, kuharap kita masih bersahabat, kan?” tanya Aga penuh harap.

“Tentu saja, kawan.” jawab Dondon tersenyum lalu merangkul pundak Aga brotherly. Akhirnya mereka berdua pun menjadi sahabat karib yang akrab selamanya.

Generation of Football Club Smansa

Written on 07.24 by Unknown

by: Viny Alfiyah



Football is the greatest sport in the whole world, this is makes football played in 200 difference country. Include in Indonesia to most of students and youth generation in Indonesia. At High School 1, GFCS available to facilitate the football talent from Smansa’s students. GFSCS is an abbreviation of Generation of Football Club Smansa, GFCS existed in 2004, by Mulia, one of the students of High School 1. Actually, when Mulia leading GFCS, firstly this sport club was not GFCS, but Sepak Bola Smansa, but because football is not only soccer but also ‘futsal’ is a football too.


GFCS sport club, established to accommodate the interest and talent SMANSA’s (Senior High School 1) students. Not only A boy but also a girl could be the member of this sport club. Usually, besides as a player of the girl team, a girl caused to be a manager of the boy team. GFCS have more or less sixty students. GFCS was developed by a sport teacher of High School 1, his name is Dedi S.


Since 2004, there is so many achievement of this sport club. Such as become the champion of LPI 2011 Town/District Level, the second champion of LPI 2011 Region Level, the champion of The Specs Futsalogy Championship 2011/2012, the champion of The Specs Futsalogy Championship 2012/2013, and the GFCS’s player, Revi, become the top scorer of the championship.
There is a unique thing of the GFCS chief, the GFCS chief of 2011/2012 period is a chief of Class Conference Council and at his class and now, the GFCS chief of 2012/2013 period is a chief of Class Conference council and the chief of students too.
And another agenda of GFCS besides the regular exercise is ‘ifthor’, ifthor is from Arabic language, meaning of ifthor were when the muslim were fasting in the holy month of Ramadhan , the GFCS members always arrange ifthor, they could take place at school or at a member home. But usually they use the hall of High School 1.
Every year, there is the school’s agenda who held annually, usually it be held the second-half term, in January or March. In that time Smansa’s citizen called it with BP (Bulan Prestasi) or Achievement Month, every extracurricular must arrange a competition or tournament, included GFCS. In the last Achievement Month. GFCS arrange the Futsal Tournament at Tour / District Level, the tournament divided with 2 categories. Woman Championship and Man Championship for Junior or Middle School’s Student.


Actually, because GFCS is a sport club, that were so many sponsor, but they are from the cigarette corporation, one of the members said that, “Should we sell the cigarette to get much money?”. But they choose to refuse it, because they think that perhaps money is important, but money is not the most important, is it?
Nearly expiration date of period position of the managing an organization, there was a great agenda who called with LPTJ (Laporan Pertanggung Jawaban) or Responsibility Report. RR is the book where the chief made responsible what were he did in the past. In the same agenda, the last chief must choose a new chief with his or her staff. This agenda also witnessed by someone from the delegation of the vice headmaster and invite another extracurricular.



Reference: Sumarni, Sri. 2012. Yang Tersisa Dari The Specs Futsalogy Championship 2012. http://radarsukabumi.com/?p=29278. (Accessed October,12,2012)

Picture: google.com



Sabtu, 10 November 2012

Cinta Sang Ilmuwan


Seperti quark
Kecil sekali namun terasa keberadaannya
Tersimpan rapi di sudut hati yang istimewa
Seperti struktur kimia
Rasa itu membentuk cabang antar molekul dengan cepat

Begitu juga dengan dirimu
Layaknya akar tanaman rambat
Semakin erat menambat
Menjerat

Ketahuilah,
Cintaku bukanlah kisah cinta klasik di TV
Sayangku bukan pula sebuah fiksi
Atau hanya ilusi pribadi

Cintaku akan selalu ada
Walau kau tak pernah melihatnya
Tapi kuyakin aku mampu membuktikannya
Tak perlu rasanya mulutku berbusa-busa
Mengucapkan janji setia padamu
Karena aku tahu
Kau yakin akan diriku

Sesungguhnya,
Aku hanya ingin bertanya
Jika kukatakan aku cinta padamu,
Kau akan bilang apa?

'Kan Ada Aku

Telah menahun kita bersama
Bersahabat dan berbagi cerita
Kau dengan dia dan
Aku dengan yang lainnya
Tak ada yang berbeda

Hingga kita beranjak dewasa
Saat kita mulai terhanyut dalam racun yang memabukkan
Aku ingin mengatakan rasa ini
Namun aku takut itu malah akan membuatmu menghindar
Dan aku tak pernah ingin kehilangan kebersamaan kita

Saat aku tahu kita merasakan hal yang sama
Dan kau juga sama takutnya untuk mengungkapkannya
Lalu di bibir pantai itu
Kau dan aku terdiam
Hanya debur ombak yang terdengar
Karena mata kita, menyiratkan segalanya

Saat kau lisankan
‘Kita memang tetap bersahabat....dengan komitmen,
Dengan ikatan,
Dan aku menginginkanmu,
Disini dan sekarang’
Dan kini aku tahu kau selalu bisa diandalkan
Ketika kau berbisik di telinga ini
‘Kan ada aku’




Putri Hujanku





Pagi itu aku duduk di dekat jendela


Seperti hari-hari yang lalu


Memandangi rintik-rintik air membasahi bumi


Kunikmati secangkir kopi dan sepotong kue


Yang entah mengapa tak berasa apa-apa


Hambar saja dan membuat rasa kesal hinggap pada diriku



Lalu kulayangkan pandang pada sebuah taman di seberang jalan


Dan mataku terkunci


Pada titik fokus itu


Padamu


Yang waktu itu mengenakan baju biru


Dan tak terlihat sebuah payung pun di genggamanmu


Tapi mengapa kau malah terlihat bahagia


Menari-nari dengan jelita


Tak pedulikan titik-titik hujan menerpa


Apa yang kau lakukan disana kira-kira?


Tak dapat aku menerka



Ya, kini kutahu rasa hambar ini telah berganti


Menjadi secangkir kasih dan sepotong kue sayang


Lalu sesaat tatapan kita beradu


Matamu seakan mengajakku untuk


Menikmati hujan bersama


Merasakan tetes hujan dan berbagi cinta denganmu,


Putri hujanku

Pungguk Merindukan Bulan-kah?

Mungkin aku memang diciptakan
Hanya untuk memuja
Mengagumi dan
Menyimpan rasa ini
Di palung jiwa yang terdalam

Tapi tak apa
Aku rela

Menjadi biasa saja
Karena tak kuasa
Bersaing dengan mereka
Yang kaya harta di sekolah kita

Tapi tak apa
Aku bisa terima

Meski hanya dipandang sebelah mata
Bahkan, sekedar dilirik pun
Aku tak pernah mengharapkannya
Apalagi mendapat kesempatan
Untuk kau sapa

Tapi tak apa
Aku berkata

Meski kita bertetangga
Rumahku disini
Rumahmu disana
Tapi mengapa hati kita
Tak bisa sedekat jarak rumah kita

Tapi tak apa
Aku ikhlas saja
Karena untuk bertukar sapa
Hanya berani kulakukan
Saat lebaran saja
Itu pun hanya
Beberapa patah kata

Tapi tak apa

Itu cukup membuatku bahagia
Bagiku
Mencintaimu saja
Adalah
Hal yang luar biasa

Kembalinya Handphone yang Hilang



“Eh, hp-ku mana ya? Kok nggak ada?” tanya Vandri pada Danu sambil menghentikan langkahnya.
“Lha? Mana aku tahu?” sahut Danu yang ikut berhenti berjalan.
“Beneran nggak ada!” seru Vandri terdengar agak panik. Kedua tangannya meraba-raba ke dalam saku baju dan celana tapi ia tetap tidak menemukan wujud alat komunikasi berbentuk balok kecil itu.
“Seriusan, Dan. Hp-ku nggak ada di kantong, nih! Padahal tadi jelas-jelas aku taro di saku depan!”
“Oke, tenang dulu. Mendingan kita balik lagi ke Labkom aja, mungkin kamu lupa naro di sana, Van.”
“Tadi kamu duduk disini ‘kan? Sekarang sambil nyari hp kamu, coba inget-inget pas terakhir kamu ngeluarin hp. Gimana?”
“Oke, lah.”

Danu dan Vandri pun berkeliling Labkom untuk menyisir tempat-tempat yang mungkin menjadi area jatuhnya hp Vandri. Kolong kursi dan meja tak luput dari pencarian mereka. Setelah beberapa lama mencari tapi hasilnya tetap nihil.
“Masa nggak ada? Terakhir aku pegang hp ‘kan disini?” kata Vandri sedikit frustasi.
“Gimana kalo aku call hp kamu? Di-silent nggak? Mungkin kalo di-call bakal kedengeran ringtone hp kamu..”
“Ahhh, tapi masalahnya hp-ku itu di-silent, Dan!”
“Hmm, agak susah sih kalo di-silent. Tapi patut dicoba.”
“Oke.”
“Nyambung, Van. Tapi kok malah di-reject ya, Van?”
“Coba telepon lagi, Dan..”
Danu mencoba menelepon 5 kali lagi. Tapi pada saat ia akan menelepon untuk yang ketujuh kalinya, hp Vandri tidak aktif. Danu pun mengirimkan SMS yang berisi bahwa hp itu adalah milik Vandri dari kelas X.1.
“Kita coba cari di kelas dulu, Dan.”

“Ada nggak, Van?”
“Nggak.”
“Udah, mending kamu ke mushala, berdo’a dan serahin semuanya sama Allah, lagian sekarang udah waktunya sholat Dhuhur.”
Saat melaksanakan shalat dhuhur, Vandri mencoba mempraktekan cara shalat khusyuk yang pernah dipelajarinya. Ia pun berdo’a sambil bersujud, ia yakinkan jika hp itu memang rezekinya, hp itu pasti akan kembali padanya. Jika tidak, maka Vandri bertawakal serta sabar terhadap takdir Allah SWT. Saat memakai sepatu sambil membilang zikir, seseorang bertubuh kecil dan memakai kacamata menghampiri Vandri.
“Mmmm, Vandri?”
“Ya? Eh, kamu kan..”
“Aku tahu kamu Romi.” Vandri memang tidak begitu mengenal Romi yang dicap kuper oleh teman-teman sekelas mereka.
“Ngg, kamuu hilang hp?”
“Kok kamu tahu?”
“Aku tadi nemuin hp di koridor Labkom, kayaknya jatoh pas kamu mau pake sepatu. Maaf tadi aku reject soalnya aku takut dituduh nyuri hp kamu...” ujar Romi sambil mengulurkan hp Vandri.
“Alhamdulillah, tuh kan Van, Allah pasti akan menolong mereka yang meminta pertolongan.” kata Danu.

“Wah, Alhamdulillah. Duhhh, terimakasih ya Allah, Engaku masih mempercayakan hp itu pada hamba. Makasih juga ya, Rom. Nggak kok, kita nggak nuduh kamu nyuri, justru aku sangat berterimakasih sama kamu udah nyimpen hp aku. Kalo bukan kamu yang nyimpen mungkin hp ini nggak bakal balik lagi ke aku.” kata Vandri sambil tersenyum.
“Nah, masalah hp udah selesai. Yuk, kita balik ke kelas. Bel masuk juga udah bunyi tuh!” ajak Danu yang diikuti anggukan oleh Vandri dan Romi yang kini menjadi teman baru mereka.


Tak Semua Rahasia

Aga termenung sendiri di bangkunya yang terletak di pojok kelas XI IPA 1, di SMA Paxton Nusantara. Merupakan sesuatu yang tidak biasa bagi seorang Aga yang biasanya selalu penuh energi yang meletup-letup itu. Hal ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran bagi sang sahabat sekaligus kawan sebangku Aga, yaitu Donovan yang lebih sering disapa dengan Dondon oleh teman-temannya.


“Kamu kenapa, Ga? Nggak biasanya jadi pertapa kayak gitu?” tanya Dondon setengah bercanda sambil menepuk bahu Aga pelan.

“Ah, enggak. Lagi nggak mood aja.” sahut Aga dengan acuh tak acuh sambil beranjak dari kursinya dan melangkah keluar kelas. Meninggalkan Dondon yang masih berdiri dengan roman wajah penuh tanda tanya.

Rrrrrriiiiingggg!!!!

Aga dengan tergesa-gesa pergi keluar kelas seperti yang dilakukannya tadi pagi, Dondon yang ingin tahu apa yang terjadi pada sahabatnya berusaha mengejarnya.
“Hei, Ga! Mau kamu tuh apa sih? Tadi pagi kabur, sekarang kabur. Pas pelajaran Pak Rahadian tadi aku tanya berapa kali juga kamu ngga ngejawab. Kalo ada masalah cerita dong!” kata Dondon setengah berteriak.

“Bukan urusanmu.” sahut Aga ketus tanpa menghentikan langkahnya.
Dondon terperangah dan berhenti mengejar Aga, ia tidak pernah menyangka akan mendapat jawaban sedemikian rupa dari sahabatnya sejak kelas X. Hari-hari berikutnya Dondon masih terus mencoba berbicara pada Aga, namun Aga selalu mengelak. Dondon pun memutuskan untuk pindah bangku. Hingga di hari ke 7 semenjak Dondon pindah, Dondon melihat Aga sedang duduk dibawah sebatang pohon mahoni yang rindang.

“Aku tak peduli kamu dengerin atau enggak, tapi aku hanya ingin kamu tahu Aga, sekalipun kamu nggak cerita ke aku, aku tetep sahabatmu. Asal kamu tahu, aku bakalan selalu ada dan dengerin saat kamu pengen cerita. Mungkin bagi kebanyakan orang dalam persahabatan itu kita harus menceritakan semua rahasia kita pada sahabat kita, bahkan yang paling gelap sekalipun. Tapi bagiku, hal itu sama sekali nggak berlaku. Kamu berhak nyimpan cerita dan rahasia kamu sendiri, toh aku yakin suatu saat nanti akan datang padamu saat yang tepat untuk menceritakan hal yang kamu simpan selama ini ke aku. Oke, aku balik duluan, ya.”

Mendengar penuturan panjang Dondon ini Aga tercenung, ia meresapi apa yang baru saja dikatakan oleh sahabatnya itu. Aga pun menghela napas dalam-dalam, lalu ia berdiri dan memanggil Dondon.

“Don! Tunggu!”
“Ya?”
“Kau benar tentang rahasiaku itu. Aku dapat memilih menceritakannya padamu sekarang tapi kurasa akan ada saatnya aku memberitahu hal itu padamu. Dan yang terpenting kini aku sadar bahwa kau tak pernah menuntut apa-apa dariku dan satu hal pula yang aku ingin kau tahu, kau selalu dan akan selalu menjadi sahabat terbaikku. Jadi, kuharap kita masih bersahabat, kan?” tanya Aga penuh harap.

“Tentu saja, kawan.” jawab Dondon tersenyum lalu merangkul pundak Aga brotherly. Akhirnya mereka berdua pun menjadi sahabat karib yang akrab selamanya.

Generation of Football Club Smansa

by: Viny Alfiyah



Football is the greatest sport in the whole world, this is makes football played in 200 difference country. Include in Indonesia to most of students and youth generation in Indonesia. At High School 1, GFCS available to facilitate the football talent from Smansa’s students. GFSCS is an abbreviation of Generation of Football Club Smansa, GFCS existed in 2004, by Mulia, one of the students of High School 1. Actually, when Mulia leading GFCS, firstly this sport club was not GFCS, but Sepak Bola Smansa, but because football is not only soccer but also ‘futsal’ is a football too.


GFCS sport club, established to accommodate the interest and talent SMANSA’s (Senior High School 1) students. Not only A boy but also a girl could be the member of this sport club. Usually, besides as a player of the girl team, a girl caused to be a manager of the boy team. GFCS have more or less sixty students. GFCS was developed by a sport teacher of High School 1, his name is Dedi S.


Since 2004, there is so many achievement of this sport club. Such as become the champion of LPI 2011 Town/District Level, the second champion of LPI 2011 Region Level, the champion of The Specs Futsalogy Championship 2011/2012, the champion of The Specs Futsalogy Championship 2012/2013, and the GFCS’s player, Revi, become the top scorer of the championship.
There is a unique thing of the GFCS chief, the GFCS chief of 2011/2012 period is a chief of Class Conference Council and at his class and now, the GFCS chief of 2012/2013 period is a chief of Class Conference council and the chief of students too.
And another agenda of GFCS besides the regular exercise is ‘ifthor’, ifthor is from Arabic language, meaning of ifthor were when the muslim were fasting in the holy month of Ramadhan , the GFCS members always arrange ifthor, they could take place at school or at a member home. But usually they use the hall of High School 1.
Every year, there is the school’s agenda who held annually, usually it be held the second-half term, in January or March. In that time Smansa’s citizen called it with BP (Bulan Prestasi) or Achievement Month, every extracurricular must arrange a competition or tournament, included GFCS. In the last Achievement Month. GFCS arrange the Futsal Tournament at Tour / District Level, the tournament divided with 2 categories. Woman Championship and Man Championship for Junior or Middle School’s Student.


Actually, because GFCS is a sport club, that were so many sponsor, but they are from the cigarette corporation, one of the members said that, “Should we sell the cigarette to get much money?”. But they choose to refuse it, because they think that perhaps money is important, but money is not the most important, is it?
Nearly expiration date of period position of the managing an organization, there was a great agenda who called with LPTJ (Laporan Pertanggung Jawaban) or Responsibility Report. RR is the book where the chief made responsible what were he did in the past. In the same agenda, the last chief must choose a new chief with his or her staff. This agenda also witnessed by someone from the delegation of the vice headmaster and invite another extracurricular.



Reference: Sumarni, Sri. 2012. Yang Tersisa Dari The Specs Futsalogy Championship 2012. http://radarsukabumi.com/?p=29278. (Accessed October,12,2012)

Picture: google.com