Review (Book) : Sebelas Patriot

Written on 03.49 by Viny Alfiyah

Title : Sebelas Patriot

Author : Andrea Hirata

Publisher : PT Bentang Pustaka

Genre : Novel

Page : 112 pages

Price : Rp. 39.000



"If there are another thing who very amazing in this world besides love, there is football"

On his first book who printed in Juny 2011, is like another book who was printed, telling Ikal's and his father experiences in Belitong, but on this book, Andrea very accentuate his father figure that in fact he is a great football player when he was a young man. This story begin when little Ikal found an old picture at an older photo album. He asked who is the one who wear a football uniform that hold a trophy on his hand to her mother, but Ikal's mother won't to answer this question. Ikal's searching take him to found the prior times of his father, when his father being a left winger player and has a (left kick?) like a lightning, but his career on football were destroyed when the Netherlands crush his left knee when his father's team won Distric Beheerder Trophy. That is the same story who burn Ikal's spirit being a PSSI's player, with weird methods and practices from Coach Toharun, Ikal try to being a PSSI's player, and fighting to get the last Real Madrid jersey with Luis Figo's signature for 250 Euro for his beloved father.


On this book Andrea Hirata specialy appending photos who will take the reader to diving the plot, for the curious toward Andrea's father you can see him on it. Besides that, this book accompanied with a song compact disc who has a title 'Indonesia Aku Datang' which a creation from Andrea Hirata's self!


This book dedicated Andrea Hirata for his beloved father, PSSI, and Indonesian people is very inspiring and entertain, it's very suitable to be your list book on weekend. Especially for Andrea's fans and football fanatic, this book being a liable book to complete your colection. Glory Indonesia! PSSI's Patriot Regard! Salut!

If i were you, i really won't miss it. :D

Resensi : Sebelas Patriot

Written on 01.43 by Viny Alfiyah

Judul : Sebelas Patriot

Penulis : Andrea Hirata

Penerbit : PT Bentang Pustaka

Genre : Novel

Tebal : 112 halaman

Harga : Rp. 39.000




“Jika ada hal lain yang sangat menakjubkan di dunia ini selain cinta, adalah sepak bola.” – Sebelas Patriot


Buku yang pertama kali dicetak pada Juni 2011 silam ini seperti buku-buku karangan Andrea Hirata yang telah terbit lebih dulu, yaitu menceritakan pengalaman Ikal dan ayahnya di Belitong, namun di dalam buku ini, Andrea sangat menonjolkan sosok ayahnya yang ternyata seorang pemain bola yang sangat hebat saat masih berusia belasan tahun. Cerita ini bermula dari Ikal kecil yang menemukan sebauh foto usang di album foto lama. Ditanyakannya siapa sosok remaja tanggung yang dengan gagah memegang sebuah piala dengan mengenakan seragam sepak bola pada ibunya, namun ibunya tak mau menjawab. Hingga pencariannya akan sosok di foto tersebut membimbingnya menemukan masa lalu ayahnya ketika belia, sebagai seorang pemain sayap kiri yang memiliki tendangan kaki kiri laksana halilintar menyambar, yang karir sepak bolanya ikut hancur ketika Belanda meremukkan tempurung lutut kirinya demi memenangkan piala Distric Beheerder. Kisah itu pula yang membakar semangat Ikal muda untuk menjadi pemain Timnas PSSI, dengan latihan dan metode-metode aneh dari Pelatih Toharun, Ikal berusaha menjadi pemain PSSI, dan berjuang mendapatkan kaus terakhir dengan tanda tangan asli Luis Figo seharga 250 Euro untuk ayah tercintanya.


Dalam buku ini Andrea Hirata secara khusus telah melampirkan foto-foto yang akan semakin membawa pembaca menyelami alur cerita, bagi yang penasaran terhadap sosok Ayah Andrea Hirata yang sangat hebat tersebut Andrea pun berbaik hati menampilkannya di dalam buku ini. Selain itu buku ini disertai CD lagu berjudul Indonesia Aku Datang yang merupakan ciptaan Andrea Hirata sendiri!


Buku yang dipersembahkan Andrea Hirata bagi Ayahnya, PSSI, dan Rakyat Indonesia ini sangat inspiratif dan menghibur, sangat cocok menjadi bacaan Anda di akhir pekan. Terlebih untuk para penggemar Andrea Hirata dan sepak bola, buku ini menjadi buku yang wajib melengkapi koleksi buku-buku Anda. Jaya slalu Indonesiaku! Salam Patriot PSSI!

Ini merupakan salah satu pose keren lulusan Sorbonne, Perancis -- dari Belitong itu



Andrea Hirata



Personal opinion:


Buku ini membawa angin segar disaat kita gerah dengan kisruh persepakbolaan di Indonesia, masalah dualisme antara PSSI dan KPSSI? ini mempengaruhi kualitas Timnas Indonesia, dimana para pemain yang bertanding di ISL tidak dapat ikut dalam laga internasional, babak belurnya kita di ajang piala AFF 2012 lalu menjadi akibat nyata dari keberadaan masalah tersebut.


Banyak rakyat, yang kerjanya jadi pedagang asongan, pengamen, pemulung, loper koran dan lain-lain rela menyisihkan rupiah demi rupiah yang dihasilkannya hanya demi melihat pemain timnas berlaga di SUGBK, meski harus duduk di kursi Tribun dimana para pemain terlihat sangattttt jauhhhh dan tampak sebesar bat baseball dan bolanya sebesar bola golf di lapangan hijau.


Sepak bola, dari gang-gang kecil di pinggiran kota, hingga stadion besar yang luas dan megah di ibukota. Dari buah jeruk busuk, bola plastik murahan, hingga bola resmi buatan perusahaan olahraga ternama layaknya Adidas dan Nike yang digunakan di berbagai kompetisi level dunia. Dari bertelanjang kaki, pakai sendal jepit, sendal kulit, sepatu kets/sneakers, hingga sepatu bola dengan desain khusus berlabelkan inisial nama sendiri dapat diraih dalam sepak bola.
Oh,ya buku ini dapat dikatakan cukup tipis dibanding dengan buku-buku karya Andrea Hirata yang lain, jadi sekali pegang, sebaiknya Anda menyelesaikannya, karena aku pribadi, carilah waktu senggang yang cukup karena saat kamu mulai membacanya, kamu bakalan dibuat tertawa sekaligus menangis disaat yang sama. Selamat membaca. :D

Hmm, buku ini hebat… (tanda titik tiga kali memiliki makna tak terhingga) :D

Resensi : Till We Meet Again

Written on 01.05 by Viny Alfiyah



Judul : Till We Meet Again

Penulis : Yoana Dianika

Penerbit : GagasMedia

Genre : Novel

Tebal : iv+294 halaman

Ukuran : 13 x 19 cm

Harga : Rp. 40.000




Novel karya penulis muda Yoana Dianika ini berkisah tentang kisah cinta Elena Sebastian Atmadja, seorang Indo blasteran Eropa yang saat masih sangat belia telah ditinggal pergi ibunya untuk selamanya karena kecelakaan pesawat yang tragis. Kesedihan yang begitu mendalam membuat ayahnya yang seorang notaris andala memilih untuk meninggalkan segala kenangan bersama istrinya di Wina, Austria, mengubur kesedihan yang tak tertahankan itu dengan pindah ke Bandung, Indonesia. Sesaat sebelum meninggalkan negeri kelahirannya Austria, Elena sempat berkunjung ke Istana Schönßrunn dimana ia kehilangan liontin berbentuk biola yang pernah diberikan mendiang ibunya, berjam-jam ia mencari namun tetap ia tidak menemukannya, karena kelelahan mencari dan menangis ia pun duduk di rerumputan halaman Istana tersebut, seorang bocah laki-laki bermata abu-abu menghampirinya dan mengusap air mata Elena kecil, ia pun berbaik hati memberikan kaiserschmarrn, sebuah panekuk khas Wina dengan saus cranberry yang sangat enak. Hingga ayah Elena menjemputnya, Elena dan bocah kecil itu tidak sempat berkenalan, namun bocah itu menolak mengucapkan selamat tinggal, ia lebih memilih mengucapkan Auf Wiedersehen – sampai jumpa lagi…


Bertahun-tahun kemudian, Elena menjalani kuliah di Universität Wien (Wina) untuk mengasah skill bermain biolanya – sekaligus mencari laki-laki yang dulu pernah memberinya kaiserschmarrn, di Wina pula ia berjumpa dengan Häns Steffano, seorang pria Jerman tulen yang menarik, tenang, rapi, dan memiliki warna mata abu-abu yang teduh - yang diyakini oleh Elena sebagai pangeran saus cranberry-nya dulu, Christopher von Schwind yang manis dan ramah, mata birunya yang dilindungi kacamata minus mencerminkan seorang ice breaker yang ceria. Serta seorang Jessica Pölzer, seorang Indo blasteran Asia yang makin memperumit kehidupan Elena di Austria.


Meski dalam beberapa bab awal novel ini terasa sedikit monoton, tetapi jika kamu mau sedikit bersabar, chemistry plot cerita akan segera terasa di bab-bab selanjutnya. Dengan latar Austria yang terasa kental karena penelitian dan observasi yang mendalam, Yoana menggambarkan suasana Wina dengan begitu hidup, seakan-akan ia tinggal atau setidaknya berkunjung ke sana.
Buku yang menjadi juara ke 3 di ajang 100% Roman Asli Indonesia ini dapat memberikan kita wawasan baru tentang kota Wina dan musik yang dikemas secara apik dengan cerita yang menarik menjadikan novel ini cocok menemani sore hari di saat senggang dengan secangkir teh hangat dan camilan. Selamat membaca!


Personal opinion:

Hal yang membuat aku tertarik membaca buku ini, jujur bukan karena prestasi penulisnya yang mendapat juara 3 100% Roman Indonesia (meski aku kagum juga), bukan pula dengan alur cerita romantisnya. Jujur, aku bukanlah orang yang terlalu menyenangi membaca novel roman macam chick-lit, teen-lit, (bukan berarti buku-buku semacam itu jelek untuk dikonsumsi) aku akan membacanya saat di lemari sudah tidak ada buku bacaan lain yang belum dibaca, atau sebagai pembunuh waktu, menghindari kebosanan saat menunggu sesuatu, tetapi tidak pernah benar-benar tertarik secara personal. Buku ini berhasil menarik perhatianku saat kubaca bahwa penulisnya menggambarkan setting tempat sesuai dengan aslinya, karena tidak mudah menuliskan cerita dimana kau tidak mengetahui latar seperti apa yang ingin kita sampaikan pada pembaca.

Tapi kurasa, bagi kamu yang suka dengan bacaan-bacaan romantis yang ringan, buku ini merupakan buku yang layak untuk coba kamu baca. :D

Resensi : Twilight

Written on 00.28 by Viny Alfiyah


Judul : Twilight
Penulis : Stephenie Meyer
Penerjemah : Lily Devita Sari
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Little, Brown, and Company, NY, USA.
Genre : Novel Remaja
Tebal : 520 halaman
Harga : Rp. 65.000



“Cinta terlarang tak kenal jalan kembali, selain menjadi hidup dan mati pada saat yang sama.” – Twilight

Sekuel memang telah usai difilmkan. Semenjak film Breaking Dawn Part II telah ditayangkan akhir tahun lalu di berbagai bioskop di tanah air dengan sukses mengakhiri sekuel legendaris Twilight yang mendunia tersebut. Namun, bagi Anda yang mengikuti sekuel ini dari film, Anda tidak akan kecewa untuk mencoba membaca buku terjemahannya. Buku pertama yang difilmkan dengan judul yang sama ini akan mengisahkan kepada Anda secara rinci kepindahan Isabella ‘Bella’ Swann, ke kota kecil yang selalu tertutupi awan mendung bernama Forks untuk tinggal bersama ayahnya yang menjadi kepala polisi, Charlie Swann.

Bella pun bersekolah di SMA setempat dimana ia pertama kali bertemu dengan Edward Cullen, seorang siswa yang sangat tampan dan kaya. Lebih tepatnya sang vampir tampan yang dengan pesonanya berhasil memikat hati Bella. Namun, Edward dan keluarganya terlalu misterius, Edward sendiri terlihat sangat membenci Bella bahkan semenjak mereka bertemu. Hingga terjadi insiden di lapangan parkir dimana Edward, secara mengejutkan – menyelamatkan Bella dari kecelakaan tragis. Hingga akhirnya Bella pun mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, Edward adalah seorang vampir, dan betapa Bella sangat mencintainya. Lalu sekawanan vampir lain datang yang mengakibatkan beberapa kematian di Forks, dan salah satunya, James, sangat terobsesi pada Bella. Tidak ada jalan lain, Edward dan keluarganya harus melindungi Bella serta Charlie - yang tidak tahu apa-apa. Mampukah Edward mengalahkan James yang sangat berambisi untuk ‘meminum’ darah Bella? Mampukah Bella menerima bahwa Edward dan keluarganya adalah vampir?


Dengan pemilihan kata yang apik dan penerjemahan yang baik buku ini menyuguhkan cerita yang unik dan romantis. Terlebih jika Anda belum terlalu mengerti akan alur cerita di filmnya, maka buku ini wajib Anda baca agar Anda semakin memahami plot cerita yang ditulis Stephenie Meyer ini. Selain itu efek dari ‘kelamnya’ Twilight akan semakin terasa saat Anda membaca buku ini sambil mendengarkan album Original Sound Track-nya yang juga sukses besar di kancah musik Internasional. Selamat membaca!

Ini nih penulis yang menghasilkan karya tetralogi the Twilight Saga :



Personal opinion:


Bagiku pribadi, membaca buku dimana aku lebih dulu menonton filmnya, aku suka mengimajinasikan sendiri bahwa misalnya Robert Pattinson sendiri memerankan karakter Edward Masen Cullen sesuai isi cerita secara ‘keseluruhan’, menampilkan cerita buku dengan utuh. Bagiku itu adalah salah satu hal yang mengasyikkan untuk dilakukan di waktu senggang.

Etnis Yahudi, Salah Satu Bangsa Paling Sukses di Amerika

Written on 06.45 by Viny Alfiyah

Setelah Christopher Columbus menemukan daratan besar yang kita kenal sebagai benua Amerika, banyak bangsa lain berdatangan ke benua baru ini. Jepang, Cina, Sisilia, bahkan Negro dan para pelarian dari berbagai wilayah pun bermukim disana, seakan Amerika merupakan tanah harapan bagi mereka. Hal itu tak terkecuali dengan bangsa Yahudi, mereka mencari peruntungan baru di Amerika. Terlebih saat meletus Perang Dunia kedua dimana rezim Nazi Jerman di bawah pimpinan Adolf Hitler memerintahkan untuk memusnahkan bangsa Yahudi, sehingga mereka dengan sembunyi-sembunyi lari ke Amerika, melewati 9000 mil dengan berjalan kaki, naik pedati, dan menyelundupkan diri naik kapal feri hingga sampai di negeri patung Liberty itu.

Awal kehidupan mereka di Amerika sangat sederhana, dengan tempat tinggal di pinggiran kota yang kumuh dan kotor. Namun, ada yang menonjol dari bangsa Yahudi, terutama dalam bekerja. Mereka ulet, rajin, dan disiplin, belajar dari pengalaman serta kerja keras selalu menjadi ciri khas mereka. Sebagai kulit putih mereka terbebas dari acaman politik apartheid yang melakukan diskriminasi ras terhadap bangsa kulit berwarna.

Bangsa Yahudi juga terkenal akan pengetahuannya dan dikenal sebagai bangsa yang selalu mengembangkan cara tentang pertumbuhan manusia agar berkembang menjadi lebih baik. Saat anak-anak, orang Yahudi diharuskan menguasai dan fasih berbahasa Ibrani, Inggris dan Arab. Menguasai salah satu instrumen musik juga merupakan kemampuan yang harus dimiliki tiap individu. Beranjak remaja, mereka mengadakan berbagai penelitian , semahal apa pun penelitiannya tetap akan dibiayai oleh para dermawan Yahudi yang kaya raya, dan sesepele apa pun penelitian mereka tetap akan dihargai. Memasuki masa dewasa, seorang Yahudi dituntut menjadi yang terbaik di bidangnya, bahkan ada rumor bahwa mahasiswa fakultas ekonomi belum akan lulus jika laba dari bidang yang digelutinya belum mencapai 1 juta dolar AS. Hal ini tentu akan memacu mereka untuk menjadi kreatif dan terus berinovasi.

uraian di atas, tidak heran kini bangsa Yahudi menjadi bangsa paling sukses di Amerika yang berpengaruh dalam pemerintahan yang menguasai ekonomi dan media.Contohnya, jutaan orang di dunia pergi ke kafe Starbucks setiap hari, namun hanya segelintir yang mengetahui bahwa Howard Schultz, sang pemilik dan CEO Starbucks adalah anak dari seorang supir truk yang tinggal di pinggiran kota New York.

Meski banyak pengusaha Yahudi bergerak di bidang pabrik rokok dan cerutu, bagi mereka rokok dan cerutu sendiri merupakan hal yang haram untuk dikonsumsi, dan mereka tak kan segan untuk menyilakan tamu merokok di luar rumah. Setelah membaca ini semoga ada hal positif yang dapat kita tiru untuk mambangun bangsa dan menjadi pelajar yang berkarakter

Dana Penelitian yang Masih Angan- Angan

Written on 06.43 by Viny Alfiyah

Di tengah keresahan masyarakat yang kian santer menolak atas kenaikan harga BBM mulai 1 April 2012 nanti. Para wakil rakyat yang duduk di kursi DPRD baik tingkat Kota/Kabupaten, tingkat Provinsi, bahkan wakil rakyat yang duduk di Senayan pun sebagian besar menolaknya. Penyebabnya tak lain adalah bayangan inflasi ekonomi, kenaikan harga, serta penimbunan BBM yang diprediksikan akan terjadi. Dana kompensasi senilai 150 ribu rupiah yang akan diberikan pemerintah kepada masyarakat tidak mampu selama beberapa bulan pun masih dipertanyakan pelaksanaannya.

Sedikit saya akan berbagi pengalaman saya saat naik suatu angkutan umum, seorang bapak kira-kira berusia paruh baya yang duduk di bangku depan berujar pada sopir “Pak Sopir, Bapak tahu kan bulan depan harga bensin naik? Menurut saya itu sangat aneh, katanya negeri ini banyak orang pinternya, tapi kenapa nggak bisa bikin energi alternatif seperti gas atau air?”. Saya yang duduk di belakang tercenung mendengar pertanyaan tersebut, sebagai salah satu pelaku akademisi dimana saya merupakan seorang pelajar yang notabene diharapkan untuk menjadi penerus bangsa olleh masyarakat luas. Ini bukanlah pembelaan dari pelaku akademis, terutama para peneliti. Pasalnya, dana APBN untuk penelitian masih minim sekali. Padahal menurut salah seorang periset asal Amerika Serikat, Bruce Albert menyatakan bahwa hasil riset menyumbang 10% atas keberhasilan pembangunan suatu negara. Bayangkan saja, dana untuk riset di Indonesia hanya 0,1% dari total APBN yang sangat jauh berbeda dengan Malaysia yang mengalokasikan dana sebanyak 2% dari total APBN,, ataupun dengan Israel yang sanggup mengeluarkan dana sekitar 5% dari jumlah APBN mereka pertahun.

Untuk tahun ini saja Indonesia hanya mengalokasikan 5 triliun sedangkan Malaysia 400 triliun untuk riset nasional. Gaji seorang peneliti di LIPI berkisar antara 4-5 juta rupiah perbulan, sangat jauh jika dibandingkan dengan Jepang yang berani menggaji 600 juta kepada setiap periset.

Tak terhitung banyaknya lomba-lomba dilakukan pemerintah untuk memacu dan menjaring sumber daya manusia yang diharapkan mampu mengatasi berbagai polemik yang sedang dihadapi negara. Tetapi, prosesnya hanya sampai di sana, setelah diadakan berbagai penjaringan di seantero negeri tidak ditindaklanjuti dengan usaha pemanfaatan sumber daya manusia yang telah diseleksi.

Tidak adanya perhatian dari pemerintah serta dorongan keinginan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik membuat para mahasiswa dan siswa di Indonesia mencari sendiri beasiswa yang rata-rata banyak dikeluarkan oleh universitas dari luar negeri. Hal ini terbukti dengan banyaknya ilmuwan Indonesia yang memilih hengkang dari negeri sendiri dan meraup hujan sukses di negeri orang.

Pindahnya sekitar 177 ilmuwan dari LIPI ke laboratorium atau lembaga swasta disinyalir masih dari akibat minimnya perhatian pemerintah. Akan sayang sekali jika negeri yang kaya raya akan sumber daya alamnya tidak dapat menggunakan anugerah dari Tuhan dengan optimal. Contohnya selain untuk menekan harga BBM yang berbahan baku minyak bumi, dapat ditemukan energi alternatif lain yang ramah lingkungan. Untung sekali masih ada periset yang masih mau bekerja di instansi penelitian pemerintah, meski dengan minim gaji dan perhatian pemerintah. Pemerintah juga jarang sekali menindaklanjuti hasil riset ilmuwan dan hanya dijadikan sebagai pengisi laci dan lemari.

Masyarakat yang tengah kisruh seperti saat ini, mengharapkan energi alternatif yang dapat menekan harga BBM jenis gasolin/bensin atau pun solar yang berasal dari emas hitam minyak bumi. Namun, alangkah bijaksananya jika pemerintah mau mengoptimalkan berbagai riset demi kemajuan pembangunan di masa yang akan datang.

How To Make A Chinese Sky Lantern

Written on 00.47 by Viny Alfiyah





Bahan dan Alat:
* Bambu tali untuk Lampion Chinese, belah-belah selebar 1cm, dan potong-potong dengan ukuran: 60cm (4 batang), 112cm (4 batang), 120cm (1 batang), 4cm (8 batang). Agar bambu lentur, rendam dalam air terlebih dahulu.

* Kertas emas.

* Plastik kaca ukuran 2cmx15cm.

* Lem kanji atau sagu. Buat sendiri lem ini, dengan mencampurkan sagu dan terigu (perbandingan 1/4:1). Kemudian campur dengan air, dan aduk hingga mengental.


Langkah pembuatan:


1. Buat lingkaran untuk Chinese Lampion dari tiap batang bambu. Satukan kedua ujung bambu dengan plastik kaca, kemudian rekatkan dengan lem sagu. Hasilnya adalah lingkaran bambu berdiameter 15cm (4 buah), 28cm (4 buah), dan 35cm (1 buah).

2. Gabungkan 4 lingkaran berdiameter 28cm, menjadi rangka bola. Satukan kedua bagian lingkaran, yang bersentuhan, dengan tali dan lem sagu.

3. Masukkan rangka bola ke dalam lingkaran Lampion China yang berdiameter 35cm. Posisi lingkaran tepat di tengah rangka. Ikat setiap sisi rangka bola, yang bersentuhan dengan lingkaran.

4. Gabungkan dua lingkaran untuk Lampion China sekitar 15cm, dalam posisi sejajar dengan jarak 4cm, hingga menjadi dua lingkaran ganda. Caranya dengan menempelkan empat batang kayu 4cm, masing-masing saling berhadapan.

5. Letakkan dua lingkaran ganda, masing-masing pada bagian atas dan bawah lampion. Ikat setiap batang 4cm dengan setiap rusuk bola, menggunakan tali.

6. Buat pola mal pada karton putih untuk Lampion Chinese, berupa satu bidang trapesium rangka bola. Kemudian, lipat kertas minyak, menjadi 16 lembar. Letakkan mal di atas lembaran-lembaran tadi. Gunting kertas minyak, mengikuti pola mal. Lebihkan sisi-sisinya, dengan jarak 1cm dari garis pola.

7. Beri lem sagu pada setiap rusuk rangka bola. Mulailah menempelkan kertas-kertas minyak. Bungkus lingkaran-lingkaran ganda dengan kertas emas.

8. Setelah seluruh permukaan tertutup, hias Lampion China dengan guntingan-guntingan kertas emas.

Rabu, 20 Februari 2013

Review (Book) : Sebelas Patriot

Title : Sebelas Patriot

Author : Andrea Hirata

Publisher : PT Bentang Pustaka

Genre : Novel

Page : 112 pages

Price : Rp. 39.000



"If there are another thing who very amazing in this world besides love, there is football"

On his first book who printed in Juny 2011, is like another book who was printed, telling Ikal's and his father experiences in Belitong, but on this book, Andrea very accentuate his father figure that in fact he is a great football player when he was a young man. This story begin when little Ikal found an old picture at an older photo album. He asked who is the one who wear a football uniform that hold a trophy on his hand to her mother, but Ikal's mother won't to answer this question. Ikal's searching take him to found the prior times of his father, when his father being a left winger player and has a (left kick?) like a lightning, but his career on football were destroyed when the Netherlands crush his left knee when his father's team won Distric Beheerder Trophy. That is the same story who burn Ikal's spirit being a PSSI's player, with weird methods and practices from Coach Toharun, Ikal try to being a PSSI's player, and fighting to get the last Real Madrid jersey with Luis Figo's signature for 250 Euro for his beloved father.


On this book Andrea Hirata specialy appending photos who will take the reader to diving the plot, for the curious toward Andrea's father you can see him on it. Besides that, this book accompanied with a song compact disc who has a title 'Indonesia Aku Datang' which a creation from Andrea Hirata's self!


This book dedicated Andrea Hirata for his beloved father, PSSI, and Indonesian people is very inspiring and entertain, it's very suitable to be your list book on weekend. Especially for Andrea's fans and football fanatic, this book being a liable book to complete your colection. Glory Indonesia! PSSI's Patriot Regard! Salut!

If i were you, i really won't miss it. :D

Minggu, 17 Februari 2013

Resensi : Sebelas Patriot

Judul : Sebelas Patriot

Penulis : Andrea Hirata

Penerbit : PT Bentang Pustaka

Genre : Novel

Tebal : 112 halaman

Harga : Rp. 39.000




“Jika ada hal lain yang sangat menakjubkan di dunia ini selain cinta, adalah sepak bola.” – Sebelas Patriot


Buku yang pertama kali dicetak pada Juni 2011 silam ini seperti buku-buku karangan Andrea Hirata yang telah terbit lebih dulu, yaitu menceritakan pengalaman Ikal dan ayahnya di Belitong, namun di dalam buku ini, Andrea sangat menonjolkan sosok ayahnya yang ternyata seorang pemain bola yang sangat hebat saat masih berusia belasan tahun. Cerita ini bermula dari Ikal kecil yang menemukan sebauh foto usang di album foto lama. Ditanyakannya siapa sosok remaja tanggung yang dengan gagah memegang sebuah piala dengan mengenakan seragam sepak bola pada ibunya, namun ibunya tak mau menjawab. Hingga pencariannya akan sosok di foto tersebut membimbingnya menemukan masa lalu ayahnya ketika belia, sebagai seorang pemain sayap kiri yang memiliki tendangan kaki kiri laksana halilintar menyambar, yang karir sepak bolanya ikut hancur ketika Belanda meremukkan tempurung lutut kirinya demi memenangkan piala Distric Beheerder. Kisah itu pula yang membakar semangat Ikal muda untuk menjadi pemain Timnas PSSI, dengan latihan dan metode-metode aneh dari Pelatih Toharun, Ikal berusaha menjadi pemain PSSI, dan berjuang mendapatkan kaus terakhir dengan tanda tangan asli Luis Figo seharga 250 Euro untuk ayah tercintanya.


Dalam buku ini Andrea Hirata secara khusus telah melampirkan foto-foto yang akan semakin membawa pembaca menyelami alur cerita, bagi yang penasaran terhadap sosok Ayah Andrea Hirata yang sangat hebat tersebut Andrea pun berbaik hati menampilkannya di dalam buku ini. Selain itu buku ini disertai CD lagu berjudul Indonesia Aku Datang yang merupakan ciptaan Andrea Hirata sendiri!


Buku yang dipersembahkan Andrea Hirata bagi Ayahnya, PSSI, dan Rakyat Indonesia ini sangat inspiratif dan menghibur, sangat cocok menjadi bacaan Anda di akhir pekan. Terlebih untuk para penggemar Andrea Hirata dan sepak bola, buku ini menjadi buku yang wajib melengkapi koleksi buku-buku Anda. Jaya slalu Indonesiaku! Salam Patriot PSSI!

Ini merupakan salah satu pose keren lulusan Sorbonne, Perancis -- dari Belitong itu



Andrea Hirata



Personal opinion:


Buku ini membawa angin segar disaat kita gerah dengan kisruh persepakbolaan di Indonesia, masalah dualisme antara PSSI dan KPSSI? ini mempengaruhi kualitas Timnas Indonesia, dimana para pemain yang bertanding di ISL tidak dapat ikut dalam laga internasional, babak belurnya kita di ajang piala AFF 2012 lalu menjadi akibat nyata dari keberadaan masalah tersebut.


Banyak rakyat, yang kerjanya jadi pedagang asongan, pengamen, pemulung, loper koran dan lain-lain rela menyisihkan rupiah demi rupiah yang dihasilkannya hanya demi melihat pemain timnas berlaga di SUGBK, meski harus duduk di kursi Tribun dimana para pemain terlihat sangattttt jauhhhh dan tampak sebesar bat baseball dan bolanya sebesar bola golf di lapangan hijau.


Sepak bola, dari gang-gang kecil di pinggiran kota, hingga stadion besar yang luas dan megah di ibukota. Dari buah jeruk busuk, bola plastik murahan, hingga bola resmi buatan perusahaan olahraga ternama layaknya Adidas dan Nike yang digunakan di berbagai kompetisi level dunia. Dari bertelanjang kaki, pakai sendal jepit, sendal kulit, sepatu kets/sneakers, hingga sepatu bola dengan desain khusus berlabelkan inisial nama sendiri dapat diraih dalam sepak bola.
Oh,ya buku ini dapat dikatakan cukup tipis dibanding dengan buku-buku karya Andrea Hirata yang lain, jadi sekali pegang, sebaiknya Anda menyelesaikannya, karena aku pribadi, carilah waktu senggang yang cukup karena saat kamu mulai membacanya, kamu bakalan dibuat tertawa sekaligus menangis disaat yang sama. Selamat membaca. :D

Hmm, buku ini hebat… (tanda titik tiga kali memiliki makna tak terhingga) :D

Resensi : Till We Meet Again



Judul : Till We Meet Again

Penulis : Yoana Dianika

Penerbit : GagasMedia

Genre : Novel

Tebal : iv+294 halaman

Ukuran : 13 x 19 cm

Harga : Rp. 40.000




Novel karya penulis muda Yoana Dianika ini berkisah tentang kisah cinta Elena Sebastian Atmadja, seorang Indo blasteran Eropa yang saat masih sangat belia telah ditinggal pergi ibunya untuk selamanya karena kecelakaan pesawat yang tragis. Kesedihan yang begitu mendalam membuat ayahnya yang seorang notaris andala memilih untuk meninggalkan segala kenangan bersama istrinya di Wina, Austria, mengubur kesedihan yang tak tertahankan itu dengan pindah ke Bandung, Indonesia. Sesaat sebelum meninggalkan negeri kelahirannya Austria, Elena sempat berkunjung ke Istana Schönßrunn dimana ia kehilangan liontin berbentuk biola yang pernah diberikan mendiang ibunya, berjam-jam ia mencari namun tetap ia tidak menemukannya, karena kelelahan mencari dan menangis ia pun duduk di rerumputan halaman Istana tersebut, seorang bocah laki-laki bermata abu-abu menghampirinya dan mengusap air mata Elena kecil, ia pun berbaik hati memberikan kaiserschmarrn, sebuah panekuk khas Wina dengan saus cranberry yang sangat enak. Hingga ayah Elena menjemputnya, Elena dan bocah kecil itu tidak sempat berkenalan, namun bocah itu menolak mengucapkan selamat tinggal, ia lebih memilih mengucapkan Auf Wiedersehen – sampai jumpa lagi…


Bertahun-tahun kemudian, Elena menjalani kuliah di Universität Wien (Wina) untuk mengasah skill bermain biolanya – sekaligus mencari laki-laki yang dulu pernah memberinya kaiserschmarrn, di Wina pula ia berjumpa dengan Häns Steffano, seorang pria Jerman tulen yang menarik, tenang, rapi, dan memiliki warna mata abu-abu yang teduh - yang diyakini oleh Elena sebagai pangeran saus cranberry-nya dulu, Christopher von Schwind yang manis dan ramah, mata birunya yang dilindungi kacamata minus mencerminkan seorang ice breaker yang ceria. Serta seorang Jessica Pölzer, seorang Indo blasteran Asia yang makin memperumit kehidupan Elena di Austria.


Meski dalam beberapa bab awal novel ini terasa sedikit monoton, tetapi jika kamu mau sedikit bersabar, chemistry plot cerita akan segera terasa di bab-bab selanjutnya. Dengan latar Austria yang terasa kental karena penelitian dan observasi yang mendalam, Yoana menggambarkan suasana Wina dengan begitu hidup, seakan-akan ia tinggal atau setidaknya berkunjung ke sana.
Buku yang menjadi juara ke 3 di ajang 100% Roman Asli Indonesia ini dapat memberikan kita wawasan baru tentang kota Wina dan musik yang dikemas secara apik dengan cerita yang menarik menjadikan novel ini cocok menemani sore hari di saat senggang dengan secangkir teh hangat dan camilan. Selamat membaca!


Personal opinion:

Hal yang membuat aku tertarik membaca buku ini, jujur bukan karena prestasi penulisnya yang mendapat juara 3 100% Roman Indonesia (meski aku kagum juga), bukan pula dengan alur cerita romantisnya. Jujur, aku bukanlah orang yang terlalu menyenangi membaca novel roman macam chick-lit, teen-lit, (bukan berarti buku-buku semacam itu jelek untuk dikonsumsi) aku akan membacanya saat di lemari sudah tidak ada buku bacaan lain yang belum dibaca, atau sebagai pembunuh waktu, menghindari kebosanan saat menunggu sesuatu, tetapi tidak pernah benar-benar tertarik secara personal. Buku ini berhasil menarik perhatianku saat kubaca bahwa penulisnya menggambarkan setting tempat sesuai dengan aslinya, karena tidak mudah menuliskan cerita dimana kau tidak mengetahui latar seperti apa yang ingin kita sampaikan pada pembaca.

Tapi kurasa, bagi kamu yang suka dengan bacaan-bacaan romantis yang ringan, buku ini merupakan buku yang layak untuk coba kamu baca. :D

Resensi : Twilight


Judul : Twilight
Penulis : Stephenie Meyer
Penerjemah : Lily Devita Sari
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Little, Brown, and Company, NY, USA.
Genre : Novel Remaja
Tebal : 520 halaman
Harga : Rp. 65.000



“Cinta terlarang tak kenal jalan kembali, selain menjadi hidup dan mati pada saat yang sama.” – Twilight

Sekuel memang telah usai difilmkan. Semenjak film Breaking Dawn Part II telah ditayangkan akhir tahun lalu di berbagai bioskop di tanah air dengan sukses mengakhiri sekuel legendaris Twilight yang mendunia tersebut. Namun, bagi Anda yang mengikuti sekuel ini dari film, Anda tidak akan kecewa untuk mencoba membaca buku terjemahannya. Buku pertama yang difilmkan dengan judul yang sama ini akan mengisahkan kepada Anda secara rinci kepindahan Isabella ‘Bella’ Swann, ke kota kecil yang selalu tertutupi awan mendung bernama Forks untuk tinggal bersama ayahnya yang menjadi kepala polisi, Charlie Swann.

Bella pun bersekolah di SMA setempat dimana ia pertama kali bertemu dengan Edward Cullen, seorang siswa yang sangat tampan dan kaya. Lebih tepatnya sang vampir tampan yang dengan pesonanya berhasil memikat hati Bella. Namun, Edward dan keluarganya terlalu misterius, Edward sendiri terlihat sangat membenci Bella bahkan semenjak mereka bertemu. Hingga terjadi insiden di lapangan parkir dimana Edward, secara mengejutkan – menyelamatkan Bella dari kecelakaan tragis. Hingga akhirnya Bella pun mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, Edward adalah seorang vampir, dan betapa Bella sangat mencintainya. Lalu sekawanan vampir lain datang yang mengakibatkan beberapa kematian di Forks, dan salah satunya, James, sangat terobsesi pada Bella. Tidak ada jalan lain, Edward dan keluarganya harus melindungi Bella serta Charlie - yang tidak tahu apa-apa. Mampukah Edward mengalahkan James yang sangat berambisi untuk ‘meminum’ darah Bella? Mampukah Bella menerima bahwa Edward dan keluarganya adalah vampir?


Dengan pemilihan kata yang apik dan penerjemahan yang baik buku ini menyuguhkan cerita yang unik dan romantis. Terlebih jika Anda belum terlalu mengerti akan alur cerita di filmnya, maka buku ini wajib Anda baca agar Anda semakin memahami plot cerita yang ditulis Stephenie Meyer ini. Selain itu efek dari ‘kelamnya’ Twilight akan semakin terasa saat Anda membaca buku ini sambil mendengarkan album Original Sound Track-nya yang juga sukses besar di kancah musik Internasional. Selamat membaca!

Ini nih penulis yang menghasilkan karya tetralogi the Twilight Saga :



Personal opinion:


Bagiku pribadi, membaca buku dimana aku lebih dulu menonton filmnya, aku suka mengimajinasikan sendiri bahwa misalnya Robert Pattinson sendiri memerankan karakter Edward Masen Cullen sesuai isi cerita secara ‘keseluruhan’, menampilkan cerita buku dengan utuh. Bagiku itu adalah salah satu hal yang mengasyikkan untuk dilakukan di waktu senggang.

Jumat, 08 Februari 2013

Etnis Yahudi, Salah Satu Bangsa Paling Sukses di Amerika

Setelah Christopher Columbus menemukan daratan besar yang kita kenal sebagai benua Amerika, banyak bangsa lain berdatangan ke benua baru ini. Jepang, Cina, Sisilia, bahkan Negro dan para pelarian dari berbagai wilayah pun bermukim disana, seakan Amerika merupakan tanah harapan bagi mereka. Hal itu tak terkecuali dengan bangsa Yahudi, mereka mencari peruntungan baru di Amerika. Terlebih saat meletus Perang Dunia kedua dimana rezim Nazi Jerman di bawah pimpinan Adolf Hitler memerintahkan untuk memusnahkan bangsa Yahudi, sehingga mereka dengan sembunyi-sembunyi lari ke Amerika, melewati 9000 mil dengan berjalan kaki, naik pedati, dan menyelundupkan diri naik kapal feri hingga sampai di negeri patung Liberty itu.

Awal kehidupan mereka di Amerika sangat sederhana, dengan tempat tinggal di pinggiran kota yang kumuh dan kotor. Namun, ada yang menonjol dari bangsa Yahudi, terutama dalam bekerja. Mereka ulet, rajin, dan disiplin, belajar dari pengalaman serta kerja keras selalu menjadi ciri khas mereka. Sebagai kulit putih mereka terbebas dari acaman politik apartheid yang melakukan diskriminasi ras terhadap bangsa kulit berwarna.

Bangsa Yahudi juga terkenal akan pengetahuannya dan dikenal sebagai bangsa yang selalu mengembangkan cara tentang pertumbuhan manusia agar berkembang menjadi lebih baik. Saat anak-anak, orang Yahudi diharuskan menguasai dan fasih berbahasa Ibrani, Inggris dan Arab. Menguasai salah satu instrumen musik juga merupakan kemampuan yang harus dimiliki tiap individu. Beranjak remaja, mereka mengadakan berbagai penelitian , semahal apa pun penelitiannya tetap akan dibiayai oleh para dermawan Yahudi yang kaya raya, dan sesepele apa pun penelitian mereka tetap akan dihargai. Memasuki masa dewasa, seorang Yahudi dituntut menjadi yang terbaik di bidangnya, bahkan ada rumor bahwa mahasiswa fakultas ekonomi belum akan lulus jika laba dari bidang yang digelutinya belum mencapai 1 juta dolar AS. Hal ini tentu akan memacu mereka untuk menjadi kreatif dan terus berinovasi.

uraian di atas, tidak heran kini bangsa Yahudi menjadi bangsa paling sukses di Amerika yang berpengaruh dalam pemerintahan yang menguasai ekonomi dan media.Contohnya, jutaan orang di dunia pergi ke kafe Starbucks setiap hari, namun hanya segelintir yang mengetahui bahwa Howard Schultz, sang pemilik dan CEO Starbucks adalah anak dari seorang supir truk yang tinggal di pinggiran kota New York.

Meski banyak pengusaha Yahudi bergerak di bidang pabrik rokok dan cerutu, bagi mereka rokok dan cerutu sendiri merupakan hal yang haram untuk dikonsumsi, dan mereka tak kan segan untuk menyilakan tamu merokok di luar rumah. Setelah membaca ini semoga ada hal positif yang dapat kita tiru untuk mambangun bangsa dan menjadi pelajar yang berkarakter

Dana Penelitian yang Masih Angan- Angan

Di tengah keresahan masyarakat yang kian santer menolak atas kenaikan harga BBM mulai 1 April 2012 nanti. Para wakil rakyat yang duduk di kursi DPRD baik tingkat Kota/Kabupaten, tingkat Provinsi, bahkan wakil rakyat yang duduk di Senayan pun sebagian besar menolaknya. Penyebabnya tak lain adalah bayangan inflasi ekonomi, kenaikan harga, serta penimbunan BBM yang diprediksikan akan terjadi. Dana kompensasi senilai 150 ribu rupiah yang akan diberikan pemerintah kepada masyarakat tidak mampu selama beberapa bulan pun masih dipertanyakan pelaksanaannya.

Sedikit saya akan berbagi pengalaman saya saat naik suatu angkutan umum, seorang bapak kira-kira berusia paruh baya yang duduk di bangku depan berujar pada sopir “Pak Sopir, Bapak tahu kan bulan depan harga bensin naik? Menurut saya itu sangat aneh, katanya negeri ini banyak orang pinternya, tapi kenapa nggak bisa bikin energi alternatif seperti gas atau air?”. Saya yang duduk di belakang tercenung mendengar pertanyaan tersebut, sebagai salah satu pelaku akademisi dimana saya merupakan seorang pelajar yang notabene diharapkan untuk menjadi penerus bangsa olleh masyarakat luas. Ini bukanlah pembelaan dari pelaku akademis, terutama para peneliti. Pasalnya, dana APBN untuk penelitian masih minim sekali. Padahal menurut salah seorang periset asal Amerika Serikat, Bruce Albert menyatakan bahwa hasil riset menyumbang 10% atas keberhasilan pembangunan suatu negara. Bayangkan saja, dana untuk riset di Indonesia hanya 0,1% dari total APBN yang sangat jauh berbeda dengan Malaysia yang mengalokasikan dana sebanyak 2% dari total APBN,, ataupun dengan Israel yang sanggup mengeluarkan dana sekitar 5% dari jumlah APBN mereka pertahun.

Untuk tahun ini saja Indonesia hanya mengalokasikan 5 triliun sedangkan Malaysia 400 triliun untuk riset nasional. Gaji seorang peneliti di LIPI berkisar antara 4-5 juta rupiah perbulan, sangat jauh jika dibandingkan dengan Jepang yang berani menggaji 600 juta kepada setiap periset.

Tak terhitung banyaknya lomba-lomba dilakukan pemerintah untuk memacu dan menjaring sumber daya manusia yang diharapkan mampu mengatasi berbagai polemik yang sedang dihadapi negara. Tetapi, prosesnya hanya sampai di sana, setelah diadakan berbagai penjaringan di seantero negeri tidak ditindaklanjuti dengan usaha pemanfaatan sumber daya manusia yang telah diseleksi.

Tidak adanya perhatian dari pemerintah serta dorongan keinginan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik membuat para mahasiswa dan siswa di Indonesia mencari sendiri beasiswa yang rata-rata banyak dikeluarkan oleh universitas dari luar negeri. Hal ini terbukti dengan banyaknya ilmuwan Indonesia yang memilih hengkang dari negeri sendiri dan meraup hujan sukses di negeri orang.

Pindahnya sekitar 177 ilmuwan dari LIPI ke laboratorium atau lembaga swasta disinyalir masih dari akibat minimnya perhatian pemerintah. Akan sayang sekali jika negeri yang kaya raya akan sumber daya alamnya tidak dapat menggunakan anugerah dari Tuhan dengan optimal. Contohnya selain untuk menekan harga BBM yang berbahan baku minyak bumi, dapat ditemukan energi alternatif lain yang ramah lingkungan. Untung sekali masih ada periset yang masih mau bekerja di instansi penelitian pemerintah, meski dengan minim gaji dan perhatian pemerintah. Pemerintah juga jarang sekali menindaklanjuti hasil riset ilmuwan dan hanya dijadikan sebagai pengisi laci dan lemari.

Masyarakat yang tengah kisruh seperti saat ini, mengharapkan energi alternatif yang dapat menekan harga BBM jenis gasolin/bensin atau pun solar yang berasal dari emas hitam minyak bumi. Namun, alangkah bijaksananya jika pemerintah mau mengoptimalkan berbagai riset demi kemajuan pembangunan di masa yang akan datang.

Jumat, 01 Februari 2013

How To Make A Chinese Sky Lantern





Bahan dan Alat:
* Bambu tali untuk Lampion Chinese, belah-belah selebar 1cm, dan potong-potong dengan ukuran: 60cm (4 batang), 112cm (4 batang), 120cm (1 batang), 4cm (8 batang). Agar bambu lentur, rendam dalam air terlebih dahulu.

* Kertas emas.

* Plastik kaca ukuran 2cmx15cm.

* Lem kanji atau sagu. Buat sendiri lem ini, dengan mencampurkan sagu dan terigu (perbandingan 1/4:1). Kemudian campur dengan air, dan aduk hingga mengental.


Langkah pembuatan:


1. Buat lingkaran untuk Chinese Lampion dari tiap batang bambu. Satukan kedua ujung bambu dengan plastik kaca, kemudian rekatkan dengan lem sagu. Hasilnya adalah lingkaran bambu berdiameter 15cm (4 buah), 28cm (4 buah), dan 35cm (1 buah).

2. Gabungkan 4 lingkaran berdiameter 28cm, menjadi rangka bola. Satukan kedua bagian lingkaran, yang bersentuhan, dengan tali dan lem sagu.

3. Masukkan rangka bola ke dalam lingkaran Lampion China yang berdiameter 35cm. Posisi lingkaran tepat di tengah rangka. Ikat setiap sisi rangka bola, yang bersentuhan dengan lingkaran.

4. Gabungkan dua lingkaran untuk Lampion China sekitar 15cm, dalam posisi sejajar dengan jarak 4cm, hingga menjadi dua lingkaran ganda. Caranya dengan menempelkan empat batang kayu 4cm, masing-masing saling berhadapan.

5. Letakkan dua lingkaran ganda, masing-masing pada bagian atas dan bawah lampion. Ikat setiap batang 4cm dengan setiap rusuk bola, menggunakan tali.

6. Buat pola mal pada karton putih untuk Lampion Chinese, berupa satu bidang trapesium rangka bola. Kemudian, lipat kertas minyak, menjadi 16 lembar. Letakkan mal di atas lembaran-lembaran tadi. Gunting kertas minyak, mengikuti pola mal. Lebihkan sisi-sisinya, dengan jarak 1cm dari garis pola.

7. Beri lem sagu pada setiap rusuk rangka bola. Mulailah menempelkan kertas-kertas minyak. Bungkus lingkaran-lingkaran ganda dengan kertas emas.

8. Setelah seluruh permukaan tertutup, hias Lampion China dengan guntingan-guntingan kertas emas.