Dana Penelitian yang Masih Angan- Angan

Written on 06.43 by Viny Alfiyah

Di tengah keresahan masyarakat yang kian santer menolak atas kenaikan harga BBM mulai 1 April 2012 nanti. Para wakil rakyat yang duduk di kursi DPRD baik tingkat Kota/Kabupaten, tingkat Provinsi, bahkan wakil rakyat yang duduk di Senayan pun sebagian besar menolaknya. Penyebabnya tak lain adalah bayangan inflasi ekonomi, kenaikan harga, serta penimbunan BBM yang diprediksikan akan terjadi. Dana kompensasi senilai 150 ribu rupiah yang akan diberikan pemerintah kepada masyarakat tidak mampu selama beberapa bulan pun masih dipertanyakan pelaksanaannya.

Sedikit saya akan berbagi pengalaman saya saat naik suatu angkutan umum, seorang bapak kira-kira berusia paruh baya yang duduk di bangku depan berujar pada sopir “Pak Sopir, Bapak tahu kan bulan depan harga bensin naik? Menurut saya itu sangat aneh, katanya negeri ini banyak orang pinternya, tapi kenapa nggak bisa bikin energi alternatif seperti gas atau air?”. Saya yang duduk di belakang tercenung mendengar pertanyaan tersebut, sebagai salah satu pelaku akademisi dimana saya merupakan seorang pelajar yang notabene diharapkan untuk menjadi penerus bangsa olleh masyarakat luas. Ini bukanlah pembelaan dari pelaku akademis, terutama para peneliti. Pasalnya, dana APBN untuk penelitian masih minim sekali. Padahal menurut salah seorang periset asal Amerika Serikat, Bruce Albert menyatakan bahwa hasil riset menyumbang 10% atas keberhasilan pembangunan suatu negara. Bayangkan saja, dana untuk riset di Indonesia hanya 0,1% dari total APBN yang sangat jauh berbeda dengan Malaysia yang mengalokasikan dana sebanyak 2% dari total APBN,, ataupun dengan Israel yang sanggup mengeluarkan dana sekitar 5% dari jumlah APBN mereka pertahun.

Untuk tahun ini saja Indonesia hanya mengalokasikan 5 triliun sedangkan Malaysia 400 triliun untuk riset nasional. Gaji seorang peneliti di LIPI berkisar antara 4-5 juta rupiah perbulan, sangat jauh jika dibandingkan dengan Jepang yang berani menggaji 600 juta kepada setiap periset.

Tak terhitung banyaknya lomba-lomba dilakukan pemerintah untuk memacu dan menjaring sumber daya manusia yang diharapkan mampu mengatasi berbagai polemik yang sedang dihadapi negara. Tetapi, prosesnya hanya sampai di sana, setelah diadakan berbagai penjaringan di seantero negeri tidak ditindaklanjuti dengan usaha pemanfaatan sumber daya manusia yang telah diseleksi.

Tidak adanya perhatian dari pemerintah serta dorongan keinginan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik membuat para mahasiswa dan siswa di Indonesia mencari sendiri beasiswa yang rata-rata banyak dikeluarkan oleh universitas dari luar negeri. Hal ini terbukti dengan banyaknya ilmuwan Indonesia yang memilih hengkang dari negeri sendiri dan meraup hujan sukses di negeri orang.

Pindahnya sekitar 177 ilmuwan dari LIPI ke laboratorium atau lembaga swasta disinyalir masih dari akibat minimnya perhatian pemerintah. Akan sayang sekali jika negeri yang kaya raya akan sumber daya alamnya tidak dapat menggunakan anugerah dari Tuhan dengan optimal. Contohnya selain untuk menekan harga BBM yang berbahan baku minyak bumi, dapat ditemukan energi alternatif lain yang ramah lingkungan. Untung sekali masih ada periset yang masih mau bekerja di instansi penelitian pemerintah, meski dengan minim gaji dan perhatian pemerintah. Pemerintah juga jarang sekali menindaklanjuti hasil riset ilmuwan dan hanya dijadikan sebagai pengisi laci dan lemari.

Masyarakat yang tengah kisruh seperti saat ini, mengharapkan energi alternatif yang dapat menekan harga BBM jenis gasolin/bensin atau pun solar yang berasal dari emas hitam minyak bumi. Namun, alangkah bijaksananya jika pemerintah mau mengoptimalkan berbagai riset demi kemajuan pembangunan di masa yang akan datang.

If you enjoyed this post Subscribe to our feed

No Comment

Posting Komentar

Jumat, 08 Februari 2013

Dana Penelitian yang Masih Angan- Angan

Di tengah keresahan masyarakat yang kian santer menolak atas kenaikan harga BBM mulai 1 April 2012 nanti. Para wakil rakyat yang duduk di kursi DPRD baik tingkat Kota/Kabupaten, tingkat Provinsi, bahkan wakil rakyat yang duduk di Senayan pun sebagian besar menolaknya. Penyebabnya tak lain adalah bayangan inflasi ekonomi, kenaikan harga, serta penimbunan BBM yang diprediksikan akan terjadi. Dana kompensasi senilai 150 ribu rupiah yang akan diberikan pemerintah kepada masyarakat tidak mampu selama beberapa bulan pun masih dipertanyakan pelaksanaannya.

Sedikit saya akan berbagi pengalaman saya saat naik suatu angkutan umum, seorang bapak kira-kira berusia paruh baya yang duduk di bangku depan berujar pada sopir “Pak Sopir, Bapak tahu kan bulan depan harga bensin naik? Menurut saya itu sangat aneh, katanya negeri ini banyak orang pinternya, tapi kenapa nggak bisa bikin energi alternatif seperti gas atau air?”. Saya yang duduk di belakang tercenung mendengar pertanyaan tersebut, sebagai salah satu pelaku akademisi dimana saya merupakan seorang pelajar yang notabene diharapkan untuk menjadi penerus bangsa olleh masyarakat luas. Ini bukanlah pembelaan dari pelaku akademis, terutama para peneliti. Pasalnya, dana APBN untuk penelitian masih minim sekali. Padahal menurut salah seorang periset asal Amerika Serikat, Bruce Albert menyatakan bahwa hasil riset menyumbang 10% atas keberhasilan pembangunan suatu negara. Bayangkan saja, dana untuk riset di Indonesia hanya 0,1% dari total APBN yang sangat jauh berbeda dengan Malaysia yang mengalokasikan dana sebanyak 2% dari total APBN,, ataupun dengan Israel yang sanggup mengeluarkan dana sekitar 5% dari jumlah APBN mereka pertahun.

Untuk tahun ini saja Indonesia hanya mengalokasikan 5 triliun sedangkan Malaysia 400 triliun untuk riset nasional. Gaji seorang peneliti di LIPI berkisar antara 4-5 juta rupiah perbulan, sangat jauh jika dibandingkan dengan Jepang yang berani menggaji 600 juta kepada setiap periset.

Tak terhitung banyaknya lomba-lomba dilakukan pemerintah untuk memacu dan menjaring sumber daya manusia yang diharapkan mampu mengatasi berbagai polemik yang sedang dihadapi negara. Tetapi, prosesnya hanya sampai di sana, setelah diadakan berbagai penjaringan di seantero negeri tidak ditindaklanjuti dengan usaha pemanfaatan sumber daya manusia yang telah diseleksi.

Tidak adanya perhatian dari pemerintah serta dorongan keinginan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik membuat para mahasiswa dan siswa di Indonesia mencari sendiri beasiswa yang rata-rata banyak dikeluarkan oleh universitas dari luar negeri. Hal ini terbukti dengan banyaknya ilmuwan Indonesia yang memilih hengkang dari negeri sendiri dan meraup hujan sukses di negeri orang.

Pindahnya sekitar 177 ilmuwan dari LIPI ke laboratorium atau lembaga swasta disinyalir masih dari akibat minimnya perhatian pemerintah. Akan sayang sekali jika negeri yang kaya raya akan sumber daya alamnya tidak dapat menggunakan anugerah dari Tuhan dengan optimal. Contohnya selain untuk menekan harga BBM yang berbahan baku minyak bumi, dapat ditemukan energi alternatif lain yang ramah lingkungan. Untung sekali masih ada periset yang masih mau bekerja di instansi penelitian pemerintah, meski dengan minim gaji dan perhatian pemerintah. Pemerintah juga jarang sekali menindaklanjuti hasil riset ilmuwan dan hanya dijadikan sebagai pengisi laci dan lemari.

Masyarakat yang tengah kisruh seperti saat ini, mengharapkan energi alternatif yang dapat menekan harga BBM jenis gasolin/bensin atau pun solar yang berasal dari emas hitam minyak bumi. Namun, alangkah bijaksananya jika pemerintah mau mengoptimalkan berbagai riset demi kemajuan pembangunan di masa yang akan datang.

0 komentar:

Posting Komentar