Rujak Party ala RMBU SMAN 1 Kota Sukabumi

Written on 01.51 by Viny Alfiyah

Ada yang sedikit berbeda dari kegiatan anggota dan pengurus RMBU di Jumat siang, tanggal 19 Oktober 2012 itu. Suasana di gazebo Smansa yang berdekatan dengan Mushola Ar-Rohmah tampak ramai dengan aktivitas para anggota ekstrakurikuler Remaja Mesjid Bahrul Ulum (RMBU) SMA N 1 Sukabumi. Para akhwat RMBU yang terdiri dari kelas X dan XI tersebut terlihat sibuk mengupas buah-buahan sambil menunggu para anggota ikhwan RMBU yang sedang melaksanakan shalat Jumat di mesjid Bahrul Ulum. Mereka terlihat menikmati kegiatan mereka tersebut yang diselingi senda gurau yang bersahabat.

















Satu persatu buah-buahan yang terdiri dari mentimun,bengkuang, kedondong, nanas, papaya, jambu air (jambu lonceng), bahkan jambu biji yang segar-segar dibersihkan, dikupas, lalu dipotong kecil-kecil dan dimasukkan ke dalam wadah yang bersih. Beberapa dari akhwat pun kompak untuk membuat sambal gula merah yang dicampur rempah-rempah hingga membuat sambal gula merah lebih nikmat dan harum saat “dicoél” dengan potongan buah-buahan.



Setelah selesai mengupas buah-buahan, para akhwat pun melaksakan shalat Dhuhur sepulang para ikhwan yang telah melakukan shalat Jumat di mesjid. Saat para akhwat selesai melaksanakan shalat Dhuhur, rujak buah-buahan ini dibagi dua, sebagian untuk para ikhwan yang berkumpul di gazebo dan sebagian lagi untuk para akhwat di teras Ar-Rohmah.


Selain kegiatan Islami lainnya seperti membersihkan masjid Bahrul Ulum atau mushola Ar-Rohmah, RMBU juga memiliki agenda lain, yaitu Rujak Party! Kegiatan ini masuk dalam Program Kerja (Proker) pengurus RMBU masa bakti 2012/2013. Kegiatan Rujak Party ini bukan hanya sekedar kegiatan refreshing dari kegiatan belajar mengajar dan tugas-tugas sekolah, kegiatan ini bermaksud untuk mempererat tali silaturahmi persaudaraan dan kekeluargaan khususnya antar anggota RMBU agar menjadi lebih kompak.
Selain itu, ternyata tiap buah-buahan segar yang dijadikan rujak ini memiliki arti masing-masing secara kreatif oleh para anggota RMBU. Misalnya mentimun yang memiliki makna ‘menuntut ilmu itu tidak banyak melamun’ atau jambu yang mempunyai arti ‘jaga iman dalam qalbu’.
Nah, jadi selain mengenyangkan perut, acara Rujak Party ini bukan hanya sekedar ‘pesta’ atau ‘party’ belaka, tetapi merupakan kegiatan yang patut direnungi dan diselami maknanya.


www.ikomsmansa.org
www.expo.ekomsmansa.org

Biota Laut yang Kepanasan

Written on 22.54 by Viny Alfiyah



Pemanasan global atau biasa disebut dengan 'Global Warming' ternyata tidak hanya memengaruhi komunitas daratan saja, populasi biota laut pun ikut terancam keberadaannya. Kristopher Karnauskas, salah satu peneliti di Woods Hole Oceanographic Institution (WHOI) menyebutkan bahwa terumbu karang di kawasan Ekuator Pasifik mengalami kenaikan suhu. Sehingga beberapa kelompok terumbu karang pun memilih mengungsi ke beberapa pulau kecil yang sejuk. Kepulauan Gilbert di Kiribati merupakan daerah dengan kenaikan suhu yang relatif rendah dan membuat terumbu karang pindah dan membuat koloni baru di bekas tempat terumbu karang yang sudah mati karena pemanasan global juga.

Terumbu karang atau Coral Reefs adalah rumah bagi tumbuhan kecil lainnya dan alga, ia juga menjadi tempat berlindung bagi ikan-ikan kecil di lautan. Proses fotosintesis organisme penumpang ini menjadi sumber energi bagi terumbu karang. Ketika air laut berubah menjadi panas, terumbu karang akan melepaskan tumbuhan kecil dan alga. Jadi pemanasan global sama saja dengan membunuh organisme-organisme biota laut tersebut. Setelah mengetahui akibat tambahan dari pemanasan global, akankah kita terus melakukan kerusakan terhadap bumi kita ini?

Sumber gambar: wikipedia.org

Dari Zaman Otot ke Zaman Otak

Written on 05.24 by Viny Alfiyah




Beberapa waktu lalu, peristiwa tawuran di daerah Jakarta Selatan antara dua sekolah yang sempat menggemparkan seantero negeri ini. Beritanya menjadi headline di tiap surat kabar, perkembangan kasusnya sesalu ditayangkan, hingga menjadi tema dialog interaktif di berbagai channel televisi.


Tetapi penulis sendiri sebagai seorang pelajar merasa ironis sekali jika harus menunjukkan kesetiaan dan kebanggan diri terhadap sekolah dengan jalan tawuran. Bukan bermaksud membandingkan, tetapi hanya mengambil contoh yang baik saja bahwa terdapat beberapa sekolah favorit di Jawa Barat, khususnya di daerah Kota Bandung yang terkenal karena keunggulan intelektualitas para siswa-siswinya. Setiap pelajar dari sekolah-sekolah tersebut terpacu untuk memberikan yang terbaik bagi sekolahnya masing-masing setiap ada kompetisi, baik di kancah daerah, nasional, maupun internasional. Mereka memiliki semangat tidak mau kalah dalam arti positif dan ngotot untuk menang demi kebanggaan sekolah.


Setiap pelajar pasti memiliki kecintaan terhadap almamaternya, ia pasti tidak akan terima jika ada orang lain yang menjelek-jelekkan nama sekolahnya. Tetapi akan terasa pantas sekali jika seorang pelajar mampu menunjukkan pribadi seorang pelajar yang ‘terpelajar’. Ia akan berusaha semampunya agar sekolahnya dihormati dan dihargai orang lain.


Penulis yakin sekali perbuatan tawuran tersebut timbul karena perasaan tidak terima karena almamater mereka dihina orang, tetapi ‘cara’ yang digunakan oleh mereka bukan merupakan cara yang positif. Cara yang tidak positif itu seringkali malah menjerumuskan mereka kepada masalah yang lebih besar sehingga menimbulkan korban.


Namun, kini zaman telah berubah, zaman otot telah berganti menjadi zaman otak. Kita tidak lagi berada di zaman nomaden (berpindah-pindah) dimana yang paling kuat adalah sang penguasa. Memang dalam mencapai kemenangan diperlukan fisik yang sehat, tetapi kita tidak boleh terlena dengan kekuatan fisik (otot), kita juga harus memiliki kecerdasan otak. Jika dianalogikan dalam permainan sepak bola, suatu tim yang hebat di segala sektor jika tidak memiliki pelatih yang cerdas mengatur taktik dan strategi hanya akan mengalami kekalahan dalam setiap pertandingan.


Untuk itu penulis mengajak sobat belia sebagai sesama pelajar, marilah kita perbaiki citra kita sebagai pelajar dengan melakukan persaingan secara sehat, bukan dengan mengadu otot (tawuran) tetapi dengan mengadu kecerdasan (otak). Marilah kita berusaha untuk membuktikan pada dunia bahwa kita adalah pelajar yang mampu bersaing secara global dengan menjadi pelajar berkarakter yang mampu memadukan antara kekuatan fisik dan kecerdasan otak. Selamat Hari Pelajar Internasional!

(Dimuat di koran harian Umum Pikiran Rakyat edisi Selasa, 20 November 2012)

Pena Angkasa

Written on 07.40 by Viny Alfiyah

Dua saudara kembar, Biru dan Jingga, keduanya bersekolah di sekolah yang sama meski dengan kelas yang berbeda, Biru di kelas XI IPA 7 dan Jingga di kelas XI IPA 1, kedua kelas ini memang telah bersaing untuk mnjadi kelas unggulan. Terutama di bidang prestasi, kelas XI IPA 1 memiliki Jingga, si Jenius sains yang pendiam, dan jago menulis, baik itu prosa maupun puisi. Di kelas XI IPA 7, mereka memiliki Biru sang bintang olahraga, selain itu seorang vokalis band sekolah dan menguasai berbagai macam instrumen musik, ia juga pandai mengabadikan gambar dalam bentuk foto maupun dalam bentuk sketsa atau karikatur.


Meski saudara kembar dan wajah mereka nyaris sama, mereka berdua dapat dibedakan dengan mudah, Biru lebih tinggi dan tegap daripada Jingga, sedangkan Jingga selain agak kurus ia pun memakai kacamata minus 3 yang selalu bertengger di hidungnya. Karena Jingga menderita berbagai penyakit akibat komplikasi dari penyakit jantungnya, ia selalu mendapat perhatian dari seluruh keluarganya. Hal ini membuat Biru merasa tersisihkan dan ia selalu acuh tak acuh pada Jingga.


Hingga suatu malam.
“Baru pulang?” tanya Jingga.
“Ya, kenapa? Nggak boleh?” sahut Biru ketus.
“Tidak, aku hanya..”
“Oh, jadi sekarang lo mau ngusir gue? Setelah perhatian Papa Mama dan yang lain lo rebut? Oke, emang udah nggak ada tempat lagi buat gue disini!”
“Biru! Biru! Tunggu!!!”

Namun Biru terlanjur pergi dengan raungan sepeda motornya. Ia tidak melihat Jingga megap-megap karena asma bawaannya kambuh, dan sesaat kemudian Jingga roboh ke lantai.
3 hari berlalu sejak ia pergi dari rumah dan memutuskan untuk mendaki Gunung Gede, sejak ia pergi malam itu HP-nya ia matikan. Hingga saat ia sampai di kaki gunung lagi, ia mengaktifkan HPnya karena akan menelpon temannya. Tetapi sebelum ia menelepon ada Papanya menelepon.

“Biru!! Kamu dimana, nak? Apa kau baik-baik saja?”
“Biru baik-baik saja, Pa. Biru di kaki Gunung Gede, Pa. Ada apa?”
“Jingga, Biru. Jingga..”
“Kenapa dengan Jingga, Pa?” ada sebersit khawatir dalam nada suara Biru.
“Ji..Jingga masuk ICU sejak kamu pergi, nak.”
“Apa? Sekarang Jingga dimana Pa?”
“Di Rumah Sakit Harapan Kita, nak.”

Biru pun langsung memacu motornya pulang. Sejujurnya ada rasa bersalah yang menyelimutinya. Sesampainya di ruang ICU Biru langsung menghampiri Jingga yang terlihat lemah dan setengah sadar. Papa terlihat sedang merangkul Mama yang sedang menangis tersedu-sedu.

“Jingga! Kau tak apa-apa? Maafkan aku, Jingga. Atas segala sikap burukku selama ini.”
“Bi..Biru? Kau disini?”
“Jingga? Ya! Aku disini! Aku disini Jingga.”
“Biru.. aku akan pergi..”
“Tidak, kau tidak akan pergi kemana-mana. Kau akan sembuh dan pulang ke rumah.”
“Biru, aku tidak akan pulang. Aku akan pergi… Biru, senang melihatmu disini..”

Lalu kelopak mata Jingga terpejam untuk selamanya.

“Biru, Jingga menitipkan ini pada Mama untuk diberikan padamu.”

Kau ingat? Saat aku sakit kau duduk menemaniku dan menceritakan cita-citamu yang ingin menjadi seorang pilot, kau bilang agar bisa selalu terbang di langit. Waktu itu kau bilang bahwa kau akan mengajakku melihat bumi dari ketinggian yang tinggi. Dari awal hari dengan birunya langit hingga langit berganti menjadi jingga. Aku selalu berharap itu akan terjadi, tapi ku rasa itu tidak akan terjadi pada jasadku. Atau kau akan menceritakan kisah-kisah petualanganmu.

Kakakmu,

Jingga Prasetyo

Membaca Buku

Written on 07.17 by Viny Alfiyah





Buku adalah sahabat yang paling tenag dan setia; pembimbing yang paling bijak dan terbuka; dan guru yang paling sabar (Charles W. Eliot, mantan presiden Harvard University)
Buku merupakan lembar kertas yg berjilid, berisi tulisan atau kosong. Kertas dikenal sebagai media utama untuk menulis, mencetak serta melukis dan banyak kegunaan lain yang dapat dilakukan dengan kertas misalnya kertas pembersih (tissue) yang digunakan untuk hidangan, kebersihan ataupun toilet.
Dari Wikipedia.org diketahui  bahwa semenjak zaman peradaban Mesir Kuno menyumbangkan papirus sebagai media tulis menulis. Penggunaan papirus sebagai media tulis menulis ini digunakan pada peradaban Mesir Kuno pada masa wangsa firaun kemudian menyebar ke seluruh Timur Tengah sampai Romawi di Laut Tengah dan menyebar ke seantero Eropa, meskipun penggunaan papirus masih dirasakan sangat mahal. Dari kata papirus (papyrus) itulah dikenal sebagai paper dalam bahasa Inggris, papier dalam bahasa Belanda, bahasa Jerman, bahasa Perancis misalnya atau papel dalam bahasa Spanyol yang berarti kertas.
Adanya kertas merupakan revolusi baru dalam dunia tulis menulis yang menyumbangkan arti besar dalam peradaban dunia. Sebelum ditemukan kertas, bangsa-bangsa dahulu menggunakan tablet dari tanah lempung yang dibakar. Hal ini bisa dijumpai dari peradaban bangsa Sumeria, Prasasti dari batu, kayu, bambu, kulit atau tulang binatang, sutra, bahkan daun lontar yang dirangkai seperti dijumpai pada naskah naskah Nusantara beberapa abad lampau.
Produksi kertas di Indonesia yang dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan yang baik, menunjukkan bahwa minat baca di Indonesia di berbagai kalangan makin meningkat. Di zaman teknologi canggih ini, ketika internet seperti tak memiliki batasan, maraknya electronic book (e-book) apalagi yang gratis semakin hari semakin banyak saja jumlahnya, tetapi tetap saja tidak mengandaskan produksi buku versi hardcopy.
Buku merupakan salah satu faktor pendukung kemajuan suatu bangsa, Ray Bradbury, seorang sastrawan imigran Swedia pernah mengungkapkan bahwa tidak perlu membakar buku untuk menghancurkan sebuah bangsa, buat saja orang-orangnya berhenti membaca. Suatu bangsa dapat hancur jika orang-orangnya berhenti membaca buku  Jadi sayang sekali waktu kita jika tidak digunakan untuk membaca buku walau sejenak. Dr. Aidh bin Abdullah al-Qarni, dalam bukunya, “La Tahzan” mengungkapkan tentang banyaknya manfaat membaca, yaitu di antaranya sebagai berikut :
  • Membaca menghilangkan kecemasan dan kegundahan.
  • Ketika sibuk membaca, seseorang terhalang masuk ke dalam kebodohan.
  • Kebiasaan membaca membuat orang terlalu sibuk untuk bisa berhubungan dengan orang-orang malas dan tidak mau bekerja.
  • Dengan sering membaca, orang bisa mengembangkan keluwesan dan kefasihan dalam bertutur kata.
  • Membaca membantu mengembangkan pemikiran dan menjernihkan cara berpikir.
  • Membaca meningkatkan pengetahuan seseorang dan meningkatkan memori dan pemahaman.
  •  Dengan membaca, orang mengambil manfaat dari pengalaman orang lain: kearifan orang bijaksana dan pemahaman para sarjana.
  • Dengan sering membaca, orang mengembangkan kemampuannya; baik untuk mendapat dan memproses ilmu pengetahuan maupun untuk mempelajari berbagai disiplin ilmu dan aplikasinya dalam hidup.
  • Membaca membantu seseorang untuk menyegarkan pemikirannya dari keruwetan dan menyelamatkan waktunya agar tidak sia-sia.
  • Dengan sering membaca, orang bisa menguasai banyak kata dan mempelajari berbagai tipe dan model kalimat; lebih lanjut lagi ia bisa meningkatkan kemampuannya untuk menyerap konsep dan untuk memahami apa yang tertulis “diantara baris demi baris” (memahami apa yang tersirat).
Rahmat Mr.Power, seorang penulis utama Motivasi Islami pernah menulis bahwa ‘Tidak ada satu buku pun yang tidak bermanfaat, kecuali buku yang tidak dibaca sama sekali.’ Lagipula dikala kita kesepian, buku merupakan teman setia yang dapat dipercaya. Sekarang, setelah mengetahui manfaat membaca buku, masihkah kita melewatkan hari kita tanpa membaca buku?

Mengharapkan Pemimpin Apresiatif

Written on 07.12 by Viny Alfiyah



“Beri aku satu orang tua maka akan kucabut Gunung Semeru hingga ke akar-akarnya, dan beri aku seorang pemuda maka aku akan mengubah dunia.” Begitu pesan Bapak Proklamator Republik Indonesia, Ir. Soekarno. Perkataan tersebut membuat penulis memikirkan kata-kata penuh makna itu. Apakah gerangan yang membuat beliau berani mengatakan hal tersebut? Bahkan, kenyataan bahwa konferensi pemuda Indonesia II pada 28 Oktober 1928 yang melahirkan sebuah kesadaran untuk bersatu yang dimanakan Sumpah Pemuda. Mengapa sumpah itu dinamakan Sumpah Pemuda? Apakah maknanya bagi kita semua? Apa sebenarnya arti ‘pemuda’? Apa pengaruhnya keberadaan pemuda bagi suatu bangsa?

Begitupun di Kota Sukabumi, begitu banyak potensi pemuda dalam hal ini remaja yang beranjak dewasa dituntut untuk berkemampuan menghadapi tantangan di era globalisasi ini. Potensi apa pun itu, baik itu di bidang akademik maupun non-akademik harus digali dan dikembangkan secara optimal untuk meraih hasil yang maksimal. Penulis yang juga sebagai pelajar merasa prihatin dengan kondisi pelajar di Kota Sukabumi yang memerlukan perhatian dari pemerintah daerah.


Penulis pernah menyaksikan pemberian penghargaan yang diserahkan oleh wakil Walikota Sukabumi, DR. H. Mulyono, M.M terhadap beberapa siswa SMA Negeri 1 yang berhasil menorehkan berbagai prestasi yang dilaksanakan pada tanggal 7 Oktober 2011 yang bertepatan dengan dilangsungkannya Golden Year 50th Kota Sukabumi yang menunjukkak apresiasi atau penghargaan terhadap generasi muda.


Hal tersebut merupakan suatu contoh dan awal yang sangat baik untuk menunjukkan perhatian pemerintah terhadap potensi pemuda di Sukabumi. Apalagi pada 2013 Kota Sukabumi akan memiliki pemimpin baru yang terpilih pada Pilkada 2013 mendatang. Pemimpin yang baik menurut Metronews haruslah memiliki karakter visioner, dapat berkomunikasi dengan baik, bersahabat dan membumi, mampu menjadi motivator, paham dengan bidang yang digelutinya, mampu menjadi figur bagi orang lain, konsisten, berkarisma, tekun, dan bersemangat. Pribadi seperti itu mampu melihat suatu kesempatan dalam kesempitan, mengetahui celah positif dari suatu hal negatif, bersikap optimis disaat setiap orang berpikir pesimis.


Sayangnya, mencari seorang pemimpin seperti yang penulis uraikan di atas bukanlah hal yang mudah. Pemimpin yang memerhatikan aspirasi pemuda terutama pelajar agar dapat terus menggali bakat yang dimilikinya. Mendorong dan memotivasi pemuda dalam berwirausaha demi terciptanya salah satu visi Kota Sukabumi sebagai kota pendidikan dan perdagangan. Di samping itu, seorang pemimpin harus mempunyai kemauan dan kesanggupan untuk menolak segala godaan untuk mementingkan kepentingan kelompok dan diri sendiri harus tak tergoyahkan, serta kemampuan untuk sanggup bertindak bijaksana dalam situasi apa pun.


Jika diumpamakan dalam ekonomi seorang pemimpin yang memberi perhatian pada kaum muda, maka akan membuat suatu investasi yang sangat menguntungkan di masa depan, pemimpin seperti ini adalah seorang pemimpin yang berpikir panjang dan berorientasi jauh ke depan demi kemajuan pembangunan bangsa dan negara.


Meski tidak ikut menyumbangkan suara dalam pemilihan kepala daerah mendatang, sebagai pelajar sekaligus masyarakat Kota Sukabumi penulis mengharapkan siapa pun yang akan menjadi orang nomor satu di Kota Sukabumi nanti memberikan kontribusi dan perhatian yang nyata terhadap segala potensi yang dimiliki oleh para pemuda Kota Sukabumi. Penulis mengharakan pemimpin yang terpilih nanti mampu melakukan sinergitas segala pihak yang terkait sehingga tercipta pemuda yang merupakan generasi penerus bangsa yang akan memangku tugas mulia membangun negara, serta pemuda yang berbakat di bidangnya dengan kualitas mumpuni yang mampu mengharumkan nama Kota Sukabumi di Nusantara.

Keluarga

Written on 07.00 by Viny Alfiyah





Apa arti keluarga bagi kita? Apa mereka memiliki tempat yang istimewa di hati kita? Hingga Allah SWT pun berfirman kepada manusia untuk menjaga diri kita dan keluarga kita dari api neraka. Terkadang di saat masa remaja kita, sering kita lebih ingin menjadi dewasa. Contohnya masih malu jika membawa nasi bekal ke sekolah, karena alasan gengsi terlihat seperti anak kecil yang terkesan “anak-mami”.


Meski banyak keuntungan yang kita dapatkan dengan membawa bekal makan ke sekolah, contohnya yang paling utama tentu menghemat uang jajan, dengan membawa bekal uang yang biasanya untuk jajan dapat digunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat, seperti menabung misalnya. Padahal ibu kita sudah susah-susah membuatnya, ayah kita pagi-pagi sudah berangkat mencari nafkah agar kita bias sekolah, dan kakak kita harus seringkali berpacu dengan waktu hanya agar kita tidak terlambat ke sekolah. Begitu banyaknya pengorbanan yang keluarga kita lakukan ‘perharinya’.


Ilustrasi tersebut menunjukkan bahwa keluarga memegang peranan penting dalam kehidupan kita, bahkan merupakan komponen vital yang menjadi pondasi kejiwaan (psikis) kita. Kita dianugerahi kesempatan dengan mendapatkan curahan cinta dan kasih saying keluarga kita. Keluarga pun sering menjadi kunci kesuksesan seorang ayah dalam keluarga. Masih ingat film yang berjudul Cheaper by The Dozen? Film yang mengisahkan seorang pelatih sepak bola bernama Tom Baker yang menjadikan tim asuhannya ‘mesin pemenang’. Lalu mereka pindah ke tempat baru karena sang ayah mendapat tawaran melatih di klub besar, hingga sang ayah tak punya waktu untuk anak-anaknya.


Keluarga yang dulunya selalu kompak dan bahagia menjadi keluarga yang kacau serta salah satu anggota keluarga yang masih SD kabur dari rumah karena merasa dikucilkan. Ternyata klub hebat yang dilatih Tom pun mengalami kekalahan. Akhirnya Tom berhenti dari pekerjaanya dan mencari pekerjaan lain dimana ia tetap memiliki waktu bersama anak-anaknya dan keluarga mereka kembali menjadi keluarga yang kompak dan bahagia.
Jadi keluarga memang memegang peranan penting dalam perjalanan hidup seseorang, maka pereratlah silaturahmi dengan mereka, bersyukurlah pada jika mereka masih hidup di dunia dan doakanlah mereka jika telah tiada, setidaknya mereka turut memberikan warna dan pelajaran dalam kehidupan kita. Selamat hari keluarga!


(Dimuat di Koran Harian Umum Pikiran Rakyat edisi Selasa, 18 Mei 2012)


GFCS Regular Exercise

Written on 18.51 by Viny Alfiyah



Every sport club always have their regular exercise, including GFCS too. They exercise twice a week. Sport clubs activities at schools mostly focused on exercise, not in theory. Therefore, a sport club have many agenda's activities performed, which the members of the club activities by exercising together, whether it will be a championship or not. It just a regular exercise only or to increase their skill.
Regular exercise activities usually begins at 3 pm until 4.30 pm and GFCS members stretching together and then they run surrounding the school for three time.

After that, they have to do basically movement, like passing, try to strike a soccer ball with the head, learning a ‘clean tackle’, and try a free kick from another position.


The coach give tips and trick how to take a ball from the opponent team. The coach teach strategies when the team against another team, try to working together with the team, and what should they do if they meet the opponent player by face to face.
Usually, at 4.15 the exercise is over, and when they take a rest, the coach will tell them his experience with football or just give motivation to them to more and more having performance. In another day, sometime the coach ordered them not to exercise, but just sharing their experience, memories, motivation, annoyance, one by one. So, they feel that GFCS is not only a common sport club or extracurricular, but also is a family.


In the holy month of Ramadhan, the exercise always being held like another month, the members of GFCS still doing stretching, warm up with run surrounding the school, the coach said that if we were fasting, that will be great if we are always moving our body, because if you are a true athlete, you must being ready to be playing sports everytime, everywhere. The regular exercise could extend when we breathing, and being the best of the best need the best hard work too.


There were thousands hours who used by Michael Jackson, Michael Jordan, Cristiano Ronaldo, Wayne Rooney, Lionel Messi, Zinedine Zidane, Marco van Basten, and another great player to exercise.


Let’s exercise harder to get the better result!

The Great Thing of GFCS and Football

Written on 18.47 by Viny Alfiyah






Football game is a game who have been played in the whole world. If you doing a trespassing, the referee would give you a punishment,such as free kick, penalty, corner kick, yellow card, or even red card. Remember what is Oscar Wilde’s says? He said that football is all very well a good game for rough girls, but not for delicate boys? Because in the reality, if you doing a crime and the cop arrested to you, you will go to the jail.


Every members of GFCS will feel the importance of cooperation between the teams, learned a sense of togetherness, cooperation within the team will carry over until we grow up in the world of work, we are able to work in a team. When viewed from the perspective of leadership, a good leader (leader) will work as a team with colleagues and subordinates, but a leader (boss) will rule his colleagues as a cruel dictator or tyrant.


Besides that, they learn to be a hard worker and a strong desire, hard work is the way to achieve a miracle.... Because if you are approached failure does not mean you should give up, but looking the other way, then do it again. Do not be quick to give up. Do not forget the failure, but take this lesson. Any failure to make is your way to the top rung, which is successful. Every failure that you find, give clear direction to success. Among the thousands of opportunities and possibilities, there is no success, yet surrounded by a failure. Take a chance and opportunity, let you fail in the process of finding success.

It's Just A Game, buddy!

Written on 18.30 by Viny Alfiyah





As long as the referee have blown up the whistle yet, everything could be happen in football. And what we call a cheat is when we do a trespassing, the referee know it. But, if the referee didn’t know, that is a lucky for us. Perhaps, that was an unlucky moment for the GFCS team in the final of Indonesian Education League in Town / District Level at Suryakencana Stadion at Sukabumi City. Because GFCS’ team won the ball possession, if we look in players skill, we got so many chance but when the GFCS’s team will doing a finishing, the line referee said that it is an off side position, but actually, that isn’t. And above the paper, the GFCS’s team could be a winner easily. But, probably the Fortune Goddess is not in the GFCS’s team side. In the final, the captain must give the spirit injection to the team, to give a high defense and a good finishing.


When the opponent’s player doing diving in a box or in the penalty box, the referee said that’s happen because one of the GFCS’s team push him hardly, and like a guess, the referee give the opponent team a penalty kick from the white point. And because the penalty happened in the last second in the second-time, of course the scored change, 0-1 for the opponent’s team winning. After the match is over, the coach told them that they must have more spirit to win, more introspection their selves, get exercise harder, not underestimate or to belittle the opponent’s team ability. Respect them by give a high pressure, if the GFCS’ team still have lost, the coach told them that they have to admit the opponent’s team victory in take advantage of chance and opportunity, no need to blame friends, no need to convict the referee and the line adjudicators. Although they have lost, they are not let the opponent team won the match easily, and they still could uphold their head because they have lost with honorable.

As a champion of Indonesian Education League 2011 at Town/ District Level, they disappointed in 2012. They couldn’t gave a trophy again, just a silver medal, not the golden one. But, as a true champion they have to fair play. With a brave-heart they admit to their selves that they were unlucky at that time. They said to their selves that The Specs Futsalogy Championship 2012/2013 is the event where they must be a champion, and the coach said that is a game, where to win or to lose is nothing, but a true champion is when we could playing with a fair play, and they have never been afraid to fail because it’s just a game, buddy!


Picture: google.com

Aku Menulis, Maka Aku Eksis

Written on 07.50 by Viny Alfiyah

Puluhan mungkin lebih, definisi dari kata ‘menulis’, tetapi bagi saya menulis adalah sebuah hal yang unik dan baik. Dikatakan unik karena hasil karya seorang penulis yang satu dengan yang lain pasti berbeda dan memiliki karakter serta gaya menulis tersendiri. Disebut baik karena dengan menulis dapat memperkaya pengetahuan dan wawasan orang lain, dalam hal ini pembaca.Pernah dalam suatu buku tips menulis saya membaca suatu ungkapan yang menurut saya sarat makna, yaitu ungkapan Khalifah Ali bin Abi Thalib yang berkata, “Kemuliaan seseorang itu terltak pada pena-nya”. Dari ungkapan tersebut dapat ditafsirkan bahwa kemuliaan kita bergantung pada apa yang kita ‘tulis’ di buku catatan amalan kita, dengan kata lain kita sendirilah yang menjadi pena yang mnulis sejarah hidup kita. Lagipula, menurut hemat saya, seseorang yang menulis adalah orang yang berilmu, karena tidak mungkin seorang penulis menuliskan apa yang tidak ia ketahui.



Banyak keajaiban dan nikmat yang saya rasakan saat menulis. Diantaranya mendapatkan banyak teman baru, baik sesama penulis atau pun pembaca. Selain memanjangkan tali silaturahmi, juga memperbanyak rezeki dan ilmu pengetahuan. Hal lainnya adalah saya menjadi cukup terkenal, terutama di sekolah. Bukan sok-sok sombong tetapi Alhamdulillah setelah tulisan-tulisan saya dimuat di koran regional paling laris di Jawa Barat, saya yang awalnya menjadi siswa ‘biasa saja’ mulai dikenal orang. Apalagi setelah tulisan saya itu dipajang di mading utama yang terletak di lobi sekolah, dengan ditempeli foto, nama, dan asal kelas saya. Jadi, siapa pun yang lewat ke lobi sekolah, maka akan melihat karya saya ‘numpang mejeng’ disana.



Tetapi ada hal yang lebih penting dari itu semua, yaitu saat kedua orang tua saya membaca tulisan saya di media massa, setidaknya saya telah memberikan sedikit hiburan pada mereka bahwa apa yang telah mereka berikan pada saya selama ini tidaklah sia-sia belaka dan saya berharap hal tersebut dapat membuat mereka sedikit bangga dan bahagia. Terakhir, bagi saya pribadi, menulis itu adalah suatu bentuk ekspresi diri saya, eksistensi diri saya. Jika Rene Descrates mengatakan ‘aku berpikir, maka aku ada’, menurut saya ‘aku menulis, maka aku eksis’.

Cinta Sang Ilmuwan

Written on 07.49 by Viny Alfiyah


Seperti quark
Kecil sekali namun terasa keberadaannya
Tersimpan rapi di sudut hati yang istimewa
Seperti struktur kimia
Rasa itu membentuk cabang antar molekul dengan cepat

Begitu juga dengan dirimu
Layaknya akar tanaman rambat
Semakin erat menambat
Menjerat

Ketahuilah,
Cintaku bukanlah kisah cinta klasik di TV
Sayangku bukan pula sebuah fiksi
Atau hanya ilusi pribadi

Cintaku akan selalu ada
Walau kau tak pernah melihatnya
Tapi kuyakin aku mampu membuktikannya
Tak perlu rasanya mulutku berbusa-busa
Mengucapkan janji setia padamu
Karena aku tahu
Kau yakin akan diriku

Sesungguhnya,
Aku hanya ingin bertanya
Jika kukatakan aku cinta padamu,
Kau akan bilang apa?

'Kan Ada Aku

Written on 07.48 by Viny Alfiyah

Telah menahun kita bersama
Bersahabat dan berbagi cerita
Kau dengan dia dan
Aku dengan yang lainnya
Tak ada yang berbeda

Hingga kita beranjak dewasa
Saat kita mulai terhanyut dalam racun yang memabukkan
Aku ingin mengatakan rasa ini
Namun aku takut itu malah akan membuatmu menghindar
Dan aku tak pernah ingin kehilangan kebersamaan kita

Saat aku tahu kita merasakan hal yang sama
Dan kau juga sama takutnya untuk mengungkapkannya
Lalu di bibir pantai itu
Kau dan aku terdiam
Hanya debur ombak yang terdengar
Karena mata kita, menyiratkan segalanya

Saat kau lisankan
‘Kita memang tetap bersahabat....dengan komitmen,
Dengan ikatan,
Dan aku menginginkanmu,
Disini dan sekarang’
Dan kini aku tahu kau selalu bisa diandalkan
Ketika kau berbisik di telinga ini
‘Kan ada aku’




Putri Hujanku

Written on 07.43 by Viny Alfiyah





Pagi itu aku duduk di dekat jendela


Seperti hari-hari yang lalu


Memandangi rintik-rintik air membasahi bumi


Kunikmati secangkir kopi dan sepotong kue


Yang entah mengapa tak berasa apa-apa


Hambar saja dan membuat rasa kesal hinggap pada diriku



Lalu kulayangkan pandang pada sebuah taman di seberang jalan


Dan mataku terkunci


Pada titik fokus itu


Padamu


Yang waktu itu mengenakan baju biru


Dan tak terlihat sebuah payung pun di genggamanmu


Tapi mengapa kau malah terlihat bahagia


Menari-nari dengan jelita


Tak pedulikan titik-titik hujan menerpa


Apa yang kau lakukan disana kira-kira?


Tak dapat aku menerka



Ya, kini kutahu rasa hambar ini telah berganti


Menjadi secangkir kasih dan sepotong kue sayang


Lalu sesaat tatapan kita beradu


Matamu seakan mengajakku untuk


Menikmati hujan bersama


Merasakan tetes hujan dan berbagi cinta denganmu,


Putri hujanku

Pungguk Merindukan Bulan-kah?

Written on 07.33 by Viny Alfiyah

Mungkin aku memang diciptakan
Hanya untuk memuja
Mengagumi dan
Menyimpan rasa ini
Di palung jiwa yang terdalam

Tapi tak apa
Aku rela

Menjadi biasa saja
Karena tak kuasa
Bersaing dengan mereka
Yang kaya harta di sekolah kita

Tapi tak apa
Aku bisa terima

Meski hanya dipandang sebelah mata
Bahkan, sekedar dilirik pun
Aku tak pernah mengharapkannya
Apalagi mendapat kesempatan
Untuk kau sapa

Tapi tak apa
Aku berkata

Meski kita bertetangga
Rumahku disini
Rumahmu disana
Tapi mengapa hati kita
Tak bisa sedekat jarak rumah kita

Tapi tak apa
Aku ikhlas saja
Karena untuk bertukar sapa
Hanya berani kulakukan
Saat lebaran saja
Itu pun hanya
Beberapa patah kata

Tapi tak apa

Itu cukup membuatku bahagia
Bagiku
Mencintaimu saja
Adalah
Hal yang luar biasa

Kembalinya Handphone yang Hilang

Written on 07.30 by Viny Alfiyah



“Eh, hp-ku mana ya? Kok nggak ada?” tanya Vandri pada Danu sambil menghentikan langkahnya.
“Lha? Mana aku tahu?” sahut Danu yang ikut berhenti berjalan.
“Beneran nggak ada!” seru Vandri terdengar agak panik. Kedua tangannya meraba-raba ke dalam saku baju dan celana tapi ia tetap tidak menemukan wujud alat komunikasi berbentuk balok kecil itu.
“Seriusan, Dan. Hp-ku nggak ada di kantong, nih! Padahal tadi jelas-jelas aku taro di saku depan!”
“Oke, tenang dulu. Mendingan kita balik lagi ke Labkom aja, mungkin kamu lupa naro di sana, Van.”
“Tadi kamu duduk disini ‘kan? Sekarang sambil nyari hp kamu, coba inget-inget pas terakhir kamu ngeluarin hp. Gimana?”
“Oke, lah.”

Danu dan Vandri pun berkeliling Labkom untuk menyisir tempat-tempat yang mungkin menjadi area jatuhnya hp Vandri. Kolong kursi dan meja tak luput dari pencarian mereka. Setelah beberapa lama mencari tapi hasilnya tetap nihil.
“Masa nggak ada? Terakhir aku pegang hp ‘kan disini?” kata Vandri sedikit frustasi.
“Gimana kalo aku call hp kamu? Di-silent nggak? Mungkin kalo di-call bakal kedengeran ringtone hp kamu..”
“Ahhh, tapi masalahnya hp-ku itu di-silent, Dan!”
“Hmm, agak susah sih kalo di-silent. Tapi patut dicoba.”
“Oke.”
“Nyambung, Van. Tapi kok malah di-reject ya, Van?”
“Coba telepon lagi, Dan..”
Danu mencoba menelepon 5 kali lagi. Tapi pada saat ia akan menelepon untuk yang ketujuh kalinya, hp Vandri tidak aktif. Danu pun mengirimkan SMS yang berisi bahwa hp itu adalah milik Vandri dari kelas X.1.
“Kita coba cari di kelas dulu, Dan.”

“Ada nggak, Van?”
“Nggak.”
“Udah, mending kamu ke mushala, berdo’a dan serahin semuanya sama Allah, lagian sekarang udah waktunya sholat Dhuhur.”
Saat melaksanakan shalat dhuhur, Vandri mencoba mempraktekan cara shalat khusyuk yang pernah dipelajarinya. Ia pun berdo’a sambil bersujud, ia yakinkan jika hp itu memang rezekinya, hp itu pasti akan kembali padanya. Jika tidak, maka Vandri bertawakal serta sabar terhadap takdir Allah SWT. Saat memakai sepatu sambil membilang zikir, seseorang bertubuh kecil dan memakai kacamata menghampiri Vandri.
“Mmmm, Vandri?”
“Ya? Eh, kamu kan..”
“Aku tahu kamu Romi.” Vandri memang tidak begitu mengenal Romi yang dicap kuper oleh teman-teman sekelas mereka.
“Ngg, kamuu hilang hp?”
“Kok kamu tahu?”
“Aku tadi nemuin hp di koridor Labkom, kayaknya jatoh pas kamu mau pake sepatu. Maaf tadi aku reject soalnya aku takut dituduh nyuri hp kamu...” ujar Romi sambil mengulurkan hp Vandri.
“Alhamdulillah, tuh kan Van, Allah pasti akan menolong mereka yang meminta pertolongan.” kata Danu.

“Wah, Alhamdulillah. Duhhh, terimakasih ya Allah, Engaku masih mempercayakan hp itu pada hamba. Makasih juga ya, Rom. Nggak kok, kita nggak nuduh kamu nyuri, justru aku sangat berterimakasih sama kamu udah nyimpen hp aku. Kalo bukan kamu yang nyimpen mungkin hp ini nggak bakal balik lagi ke aku.” kata Vandri sambil tersenyum.
“Nah, masalah hp udah selesai. Yuk, kita balik ke kelas. Bel masuk juga udah bunyi tuh!” ajak Danu yang diikuti anggukan oleh Vandri dan Romi yang kini menjadi teman baru mereka.


Tak Semua Rahasia

Written on 07.28 by Viny Alfiyah

Aga termenung sendiri di bangkunya yang terletak di pojok kelas XI IPA 1, di SMA Paxton Nusantara. Merupakan sesuatu yang tidak biasa bagi seorang Aga yang biasanya selalu penuh energi yang meletup-letup itu. Hal ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran bagi sang sahabat sekaligus kawan sebangku Aga, yaitu Donovan yang lebih sering disapa dengan Dondon oleh teman-temannya.


“Kamu kenapa, Ga? Nggak biasanya jadi pertapa kayak gitu?” tanya Dondon setengah bercanda sambil menepuk bahu Aga pelan.

“Ah, enggak. Lagi nggak mood aja.” sahut Aga dengan acuh tak acuh sambil beranjak dari kursinya dan melangkah keluar kelas. Meninggalkan Dondon yang masih berdiri dengan roman wajah penuh tanda tanya.

Rrrrrriiiiingggg!!!!

Aga dengan tergesa-gesa pergi keluar kelas seperti yang dilakukannya tadi pagi, Dondon yang ingin tahu apa yang terjadi pada sahabatnya berusaha mengejarnya.
“Hei, Ga! Mau kamu tuh apa sih? Tadi pagi kabur, sekarang kabur. Pas pelajaran Pak Rahadian tadi aku tanya berapa kali juga kamu ngga ngejawab. Kalo ada masalah cerita dong!” kata Dondon setengah berteriak.

“Bukan urusanmu.” sahut Aga ketus tanpa menghentikan langkahnya.
Dondon terperangah dan berhenti mengejar Aga, ia tidak pernah menyangka akan mendapat jawaban sedemikian rupa dari sahabatnya sejak kelas X. Hari-hari berikutnya Dondon masih terus mencoba berbicara pada Aga, namun Aga selalu mengelak. Dondon pun memutuskan untuk pindah bangku. Hingga di hari ke 7 semenjak Dondon pindah, Dondon melihat Aga sedang duduk dibawah sebatang pohon mahoni yang rindang.

“Aku tak peduli kamu dengerin atau enggak, tapi aku hanya ingin kamu tahu Aga, sekalipun kamu nggak cerita ke aku, aku tetep sahabatmu. Asal kamu tahu, aku bakalan selalu ada dan dengerin saat kamu pengen cerita. Mungkin bagi kebanyakan orang dalam persahabatan itu kita harus menceritakan semua rahasia kita pada sahabat kita, bahkan yang paling gelap sekalipun. Tapi bagiku, hal itu sama sekali nggak berlaku. Kamu berhak nyimpan cerita dan rahasia kamu sendiri, toh aku yakin suatu saat nanti akan datang padamu saat yang tepat untuk menceritakan hal yang kamu simpan selama ini ke aku. Oke, aku balik duluan, ya.”

Mendengar penuturan panjang Dondon ini Aga tercenung, ia meresapi apa yang baru saja dikatakan oleh sahabatnya itu. Aga pun menghela napas dalam-dalam, lalu ia berdiri dan memanggil Dondon.

“Don! Tunggu!”
“Ya?”
“Kau benar tentang rahasiaku itu. Aku dapat memilih menceritakannya padamu sekarang tapi kurasa akan ada saatnya aku memberitahu hal itu padamu. Dan yang terpenting kini aku sadar bahwa kau tak pernah menuntut apa-apa dariku dan satu hal pula yang aku ingin kau tahu, kau selalu dan akan selalu menjadi sahabat terbaikku. Jadi, kuharap kita masih bersahabat, kan?” tanya Aga penuh harap.

“Tentu saja, kawan.” jawab Dondon tersenyum lalu merangkul pundak Aga brotherly. Akhirnya mereka berdua pun menjadi sahabat karib yang akrab selamanya.

Generation of Football Club Smansa

Written on 07.24 by Viny Alfiyah

by: Viny Alfiyah



Football is the greatest sport in the whole world, this is makes football played in 200 difference country. Include in Indonesia to most of students and youth generation in Indonesia. At High School 1, GFCS available to facilitate the football talent from Smansa’s students. GFSCS is an abbreviation of Generation of Football Club Smansa, GFCS existed in 2004, by Mulia, one of the students of High School 1. Actually, when Mulia leading GFCS, firstly this sport club was not GFCS, but Sepak Bola Smansa, but because football is not only soccer but also ‘futsal’ is a football too.


GFCS sport club, established to accommodate the interest and talent SMANSA’s (Senior High School 1) students. Not only A boy but also a girl could be the member of this sport club. Usually, besides as a player of the girl team, a girl caused to be a manager of the boy team. GFCS have more or less sixty students. GFCS was developed by a sport teacher of High School 1, his name is Dedi S.


Since 2004, there is so many achievement of this sport club. Such as become the champion of LPI 2011 Town/District Level, the second champion of LPI 2011 Region Level, the champion of The Specs Futsalogy Championship 2011/2012, the champion of The Specs Futsalogy Championship 2012/2013, and the GFCS’s player, Revi, become the top scorer of the championship.
There is a unique thing of the GFCS chief, the GFCS chief of 2011/2012 period is a chief of Class Conference Council and at his class and now, the GFCS chief of 2012/2013 period is a chief of Class Conference council and the chief of students too.
And another agenda of GFCS besides the regular exercise is ‘ifthor’, ifthor is from Arabic language, meaning of ifthor were when the muslim were fasting in the holy month of Ramadhan , the GFCS members always arrange ifthor, they could take place at school or at a member home. But usually they use the hall of High School 1.
Every year, there is the school’s agenda who held annually, usually it be held the second-half term, in January or March. In that time Smansa’s citizen called it with BP (Bulan Prestasi) or Achievement Month, every extracurricular must arrange a competition or tournament, included GFCS. In the last Achievement Month. GFCS arrange the Futsal Tournament at Tour / District Level, the tournament divided with 2 categories. Woman Championship and Man Championship for Junior or Middle School’s Student.


Actually, because GFCS is a sport club, that were so many sponsor, but they are from the cigarette corporation, one of the members said that, “Should we sell the cigarette to get much money?”. But they choose to refuse it, because they think that perhaps money is important, but money is not the most important, is it?
Nearly expiration date of period position of the managing an organization, there was a great agenda who called with LPTJ (Laporan Pertanggung Jawaban) or Responsibility Report. RR is the book where the chief made responsible what were he did in the past. In the same agenda, the last chief must choose a new chief with his or her staff. This agenda also witnessed by someone from the delegation of the vice headmaster and invite another extracurricular.



Reference: Sumarni, Sri. 2012. Yang Tersisa Dari The Specs Futsalogy Championship 2012. http://radarsukabumi.com/?p=29278. (Accessed October,12,2012)

Picture: google.com



Sport Club! Make us Healthy, Make us Smart!

Written on 07.11 by Viny Alfiyah

by: Viny Alfiyah


Do you follow an extracurricular activities at your school? Are you a member of Organization of Intra-School Students management? It's excellent if you following it both.

According to Wikipedia.org, extracurricular activities are activities performed by students that fall outside the realm of the normal curriculum of school or university education. Extracurricular activities exist at all levels of education, from 4th-6th, junior school/high school, college, and university education.

Such activities are generally voluntary as opposed to mandatory, non-paying, social, philantropic as opposed to scholastic, and often involve others of the same age. Students often organize and direct these activities under faculty sponsorship, although student-led initiatives, such as independent newspapers, are common.

Extracurricular activities itself could like the events of arts, sports, personality development, and other activities to meaning on the positively progressive from the students themselves.

In Indonesia, extracurricular activities are based on the Decree of the Minister of Education No. 0461/U/1964 and Decree of Director General (Primary and Secondary) Dikdasmen No. 226/C/Kep/O/1992. Stated that extracurricular is one of the pathway for the students, besides Organization of Intra-School Students, Leader Training and Environmental Insight.
Example of sport extracurriculars are:
 Basket ball
 Volley ball
 Soccer
 Badminton
 Swimming

Some school added their sport extracurricular with Rock climbing, Gymnastic, Parkour, Free Running, etc.

Sport clubs activities at schools mostly focused on practice, not in theory. Therefore, a sport club have many agenda's activities performed, which the members of the club activities by exercising together, whether it will be a championship or not. It just a routine exercise only or to adding skill. Sport activities definitely requires a lot of energy, which means a lot of movement by the muscles too, and muscle get the energy from respiration or breathing.

It makes the circulation of oxygen in the brain becomes more smoothly and will make our brain easier to catch material from the teacher, and make our memory better. Moreover, the right side of the brain associated with motoric nerves and kinesthetic ability to balance the development from the left side of our brain. Thus, the two parts of our brain become balanced and more optimal.
So, being a member of a sport club, we could achieving our skill, we could get a healthy lifestyle by following it. We could make our body looks great, great muscles, an ideal body shape, etc. You can’t being sick easily because you have a great immune in your body.


Be healthy and smarter with the sport club!

Reference : Narmoatmojo, Winarno. 2009. Ekstrakurikuler di Sekolah: Dasar Kebijakan dan Aktualisasinya. (Accessed:

18 Oktober 2012).
Picture: personal document

Sejarah Polwan

Written on 01.22 by Viny Alfiyah

Ketegaran seorang perwira berpadu dengan kelembutan dan keanggunan seorang wanita yang sedang di terpa teriknya sinar mentari. Itulah yang penulis lihat di mata seorang Polwan saat mengatur arus lalu-lintas di sebuah jalan raya. Menurut Wikipedia, Polwan adalah satuan Polisi khusus yang berjenis kelamin wanita. Sejarah telah menuliskan bahwa kelahiran Polisi Wanita (Polwan) di negeri kita ini tidaklah jauh berbeda dengan kelahiran Polisi Wanita di negara lain di dunia. Polwan biasanya bertugas dalam penanganan dan penyidikan terhadap kasus – kasus kejahatan yang melibatkan kaum wanita, baik sebagai korban maupun sebagai pelaku kejahatan.
Polisi Wanita lahir di Republik Indonesia pada tanggal 1 September 1948. Daerah yang pertama kali memiliki Polwan adalah Bukit Tinggi, Sumatera Barat ketika Pemerintah Indonesia tengah menghadapi peristiwa Agresi II dan terjadi pengusian warga secara besar-besaran dari daerah Semenanjung Malaya yang sebagian besarnya berjenis kelamin perempuan. Para pengungsi ini tidak mau diperiksa dan digeledah secara fisik oleh Polisi pria.

Permasalahan ini membuat Pemerintah Indonesia menunjuk SPN (Sekolah Polisi Negara) Bukit Tinggi untuk mengadakan “Pendidikan Inspektur Polisi” bagi kaum perempuan. Setelah melalui seleksi yang ketat, terpilihlah enam orang gadis remaja yang kesemuanya asli orang Minang, yaitu : Mariana Saanin, Nelly Pauna, Rosmalina, Dahniar, Djasmaniar, dan Rosnalia yang secara resmi memulai Pendidikan Inspektur Polisi a 1 September 1948. Sejak saat itulah dinyatakan telah lahir Polisi Wanita (Polwan) yang juga merupakan para wanita ABRI pertama di NKRI yang saat pensiun rata – rata telah berpangkat Kolonel Polisi (Kombes).

Kini setelah 64 tahun berdiri, tugas Polwan di NKRI ini bukan hanya menyangkut masalah kejahatan wanita, anak – anak, dan remaja saja, tetapi telah merambah ke masalah administrasi bahkan nyaris menyamai tugas-tugas Polisi prianya. Bahkan Korps Polisi Wanita patut berbangga karena pada 23 Januari 2008 silam secara resmi telah memiliki seorang Kapolda wanita pertama di Indonesia, yaitu Kapolda Banten Brigjen Rumiah.

Jumlah Polwan di Indonesia memang masih sedikit dibanding dengan anggota Polisi pria. Wakapolri Komjen Nanan Soekarna menyebutkan jika Polri memerlukan taruni Akpol lebih banyak, karena dalam undang – undang Polri harus menyediakan kuota taruni sebanyak 30% dimana baru terpenuhi sebanyak 0,3% saja.



Di zaman modern ini, kenakalan remaja, tawuran antar pelajar, dan berbagai kasus kejahatan lainnya semakin marak di berbagai daerah merupakan tantangan bagi Korps Polisi Wanita untuk semakin bersemangat dalam membuktikan eksistensi diri sebagai anggota Polisi Republik Indonesia. Selamat Hari Ulang Tahun Polwan yang ke-64!

Dimuat di koran Harian Umum Pikiran Rakyat edisi 18 September 2012.

Sabtu, 22 Desember 2012

Rujak Party ala RMBU SMAN 1 Kota Sukabumi

Ada yang sedikit berbeda dari kegiatan anggota dan pengurus RMBU di Jumat siang, tanggal 19 Oktober 2012 itu. Suasana di gazebo Smansa yang berdekatan dengan Mushola Ar-Rohmah tampak ramai dengan aktivitas para anggota ekstrakurikuler Remaja Mesjid Bahrul Ulum (RMBU) SMA N 1 Sukabumi. Para akhwat RMBU yang terdiri dari kelas X dan XI tersebut terlihat sibuk mengupas buah-buahan sambil menunggu para anggota ikhwan RMBU yang sedang melaksanakan shalat Jumat di mesjid Bahrul Ulum. Mereka terlihat menikmati kegiatan mereka tersebut yang diselingi senda gurau yang bersahabat.

















Satu persatu buah-buahan yang terdiri dari mentimun,bengkuang, kedondong, nanas, papaya, jambu air (jambu lonceng), bahkan jambu biji yang segar-segar dibersihkan, dikupas, lalu dipotong kecil-kecil dan dimasukkan ke dalam wadah yang bersih. Beberapa dari akhwat pun kompak untuk membuat sambal gula merah yang dicampur rempah-rempah hingga membuat sambal gula merah lebih nikmat dan harum saat “dicoél” dengan potongan buah-buahan.



Setelah selesai mengupas buah-buahan, para akhwat pun melaksakan shalat Dhuhur sepulang para ikhwan yang telah melakukan shalat Jumat di mesjid. Saat para akhwat selesai melaksanakan shalat Dhuhur, rujak buah-buahan ini dibagi dua, sebagian untuk para ikhwan yang berkumpul di gazebo dan sebagian lagi untuk para akhwat di teras Ar-Rohmah.


Selain kegiatan Islami lainnya seperti membersihkan masjid Bahrul Ulum atau mushola Ar-Rohmah, RMBU juga memiliki agenda lain, yaitu Rujak Party! Kegiatan ini masuk dalam Program Kerja (Proker) pengurus RMBU masa bakti 2012/2013. Kegiatan Rujak Party ini bukan hanya sekedar kegiatan refreshing dari kegiatan belajar mengajar dan tugas-tugas sekolah, kegiatan ini bermaksud untuk mempererat tali silaturahmi persaudaraan dan kekeluargaan khususnya antar anggota RMBU agar menjadi lebih kompak.
Selain itu, ternyata tiap buah-buahan segar yang dijadikan rujak ini memiliki arti masing-masing secara kreatif oleh para anggota RMBU. Misalnya mentimun yang memiliki makna ‘menuntut ilmu itu tidak banyak melamun’ atau jambu yang mempunyai arti ‘jaga iman dalam qalbu’.
Nah, jadi selain mengenyangkan perut, acara Rujak Party ini bukan hanya sekedar ‘pesta’ atau ‘party’ belaka, tetapi merupakan kegiatan yang patut direnungi dan diselami maknanya.


www.ikomsmansa.org
www.expo.ekomsmansa.org

Kamis, 13 Desember 2012

Biota Laut yang Kepanasan



Pemanasan global atau biasa disebut dengan 'Global Warming' ternyata tidak hanya memengaruhi komunitas daratan saja, populasi biota laut pun ikut terancam keberadaannya. Kristopher Karnauskas, salah satu peneliti di Woods Hole Oceanographic Institution (WHOI) menyebutkan bahwa terumbu karang di kawasan Ekuator Pasifik mengalami kenaikan suhu. Sehingga beberapa kelompok terumbu karang pun memilih mengungsi ke beberapa pulau kecil yang sejuk. Kepulauan Gilbert di Kiribati merupakan daerah dengan kenaikan suhu yang relatif rendah dan membuat terumbu karang pindah dan membuat koloni baru di bekas tempat terumbu karang yang sudah mati karena pemanasan global juga.

Terumbu karang atau Coral Reefs adalah rumah bagi tumbuhan kecil lainnya dan alga, ia juga menjadi tempat berlindung bagi ikan-ikan kecil di lautan. Proses fotosintesis organisme penumpang ini menjadi sumber energi bagi terumbu karang. Ketika air laut berubah menjadi panas, terumbu karang akan melepaskan tumbuhan kecil dan alga. Jadi pemanasan global sama saja dengan membunuh organisme-organisme biota laut tersebut. Setelah mengetahui akibat tambahan dari pemanasan global, akankah kita terus melakukan kerusakan terhadap bumi kita ini?

Sumber gambar: wikipedia.org

Rabu, 21 November 2012

Dari Zaman Otot ke Zaman Otak




Beberapa waktu lalu, peristiwa tawuran di daerah Jakarta Selatan antara dua sekolah yang sempat menggemparkan seantero negeri ini. Beritanya menjadi headline di tiap surat kabar, perkembangan kasusnya sesalu ditayangkan, hingga menjadi tema dialog interaktif di berbagai channel televisi.


Tetapi penulis sendiri sebagai seorang pelajar merasa ironis sekali jika harus menunjukkan kesetiaan dan kebanggan diri terhadap sekolah dengan jalan tawuran. Bukan bermaksud membandingkan, tetapi hanya mengambil contoh yang baik saja bahwa terdapat beberapa sekolah favorit di Jawa Barat, khususnya di daerah Kota Bandung yang terkenal karena keunggulan intelektualitas para siswa-siswinya. Setiap pelajar dari sekolah-sekolah tersebut terpacu untuk memberikan yang terbaik bagi sekolahnya masing-masing setiap ada kompetisi, baik di kancah daerah, nasional, maupun internasional. Mereka memiliki semangat tidak mau kalah dalam arti positif dan ngotot untuk menang demi kebanggaan sekolah.


Setiap pelajar pasti memiliki kecintaan terhadap almamaternya, ia pasti tidak akan terima jika ada orang lain yang menjelek-jelekkan nama sekolahnya. Tetapi akan terasa pantas sekali jika seorang pelajar mampu menunjukkan pribadi seorang pelajar yang ‘terpelajar’. Ia akan berusaha semampunya agar sekolahnya dihormati dan dihargai orang lain.


Penulis yakin sekali perbuatan tawuran tersebut timbul karena perasaan tidak terima karena almamater mereka dihina orang, tetapi ‘cara’ yang digunakan oleh mereka bukan merupakan cara yang positif. Cara yang tidak positif itu seringkali malah menjerumuskan mereka kepada masalah yang lebih besar sehingga menimbulkan korban.


Namun, kini zaman telah berubah, zaman otot telah berganti menjadi zaman otak. Kita tidak lagi berada di zaman nomaden (berpindah-pindah) dimana yang paling kuat adalah sang penguasa. Memang dalam mencapai kemenangan diperlukan fisik yang sehat, tetapi kita tidak boleh terlena dengan kekuatan fisik (otot), kita juga harus memiliki kecerdasan otak. Jika dianalogikan dalam permainan sepak bola, suatu tim yang hebat di segala sektor jika tidak memiliki pelatih yang cerdas mengatur taktik dan strategi hanya akan mengalami kekalahan dalam setiap pertandingan.


Untuk itu penulis mengajak sobat belia sebagai sesama pelajar, marilah kita perbaiki citra kita sebagai pelajar dengan melakukan persaingan secara sehat, bukan dengan mengadu otot (tawuran) tetapi dengan mengadu kecerdasan (otak). Marilah kita berusaha untuk membuktikan pada dunia bahwa kita adalah pelajar yang mampu bersaing secara global dengan menjadi pelajar berkarakter yang mampu memadukan antara kekuatan fisik dan kecerdasan otak. Selamat Hari Pelajar Internasional!

(Dimuat di koran harian Umum Pikiran Rakyat edisi Selasa, 20 November 2012)

Kamis, 15 November 2012

Pena Angkasa

Dua saudara kembar, Biru dan Jingga, keduanya bersekolah di sekolah yang sama meski dengan kelas yang berbeda, Biru di kelas XI IPA 7 dan Jingga di kelas XI IPA 1, kedua kelas ini memang telah bersaing untuk mnjadi kelas unggulan. Terutama di bidang prestasi, kelas XI IPA 1 memiliki Jingga, si Jenius sains yang pendiam, dan jago menulis, baik itu prosa maupun puisi. Di kelas XI IPA 7, mereka memiliki Biru sang bintang olahraga, selain itu seorang vokalis band sekolah dan menguasai berbagai macam instrumen musik, ia juga pandai mengabadikan gambar dalam bentuk foto maupun dalam bentuk sketsa atau karikatur.


Meski saudara kembar dan wajah mereka nyaris sama, mereka berdua dapat dibedakan dengan mudah, Biru lebih tinggi dan tegap daripada Jingga, sedangkan Jingga selain agak kurus ia pun memakai kacamata minus 3 yang selalu bertengger di hidungnya. Karena Jingga menderita berbagai penyakit akibat komplikasi dari penyakit jantungnya, ia selalu mendapat perhatian dari seluruh keluarganya. Hal ini membuat Biru merasa tersisihkan dan ia selalu acuh tak acuh pada Jingga.


Hingga suatu malam.
“Baru pulang?” tanya Jingga.
“Ya, kenapa? Nggak boleh?” sahut Biru ketus.
“Tidak, aku hanya..”
“Oh, jadi sekarang lo mau ngusir gue? Setelah perhatian Papa Mama dan yang lain lo rebut? Oke, emang udah nggak ada tempat lagi buat gue disini!”
“Biru! Biru! Tunggu!!!”

Namun Biru terlanjur pergi dengan raungan sepeda motornya. Ia tidak melihat Jingga megap-megap karena asma bawaannya kambuh, dan sesaat kemudian Jingga roboh ke lantai.
3 hari berlalu sejak ia pergi dari rumah dan memutuskan untuk mendaki Gunung Gede, sejak ia pergi malam itu HP-nya ia matikan. Hingga saat ia sampai di kaki gunung lagi, ia mengaktifkan HPnya karena akan menelpon temannya. Tetapi sebelum ia menelepon ada Papanya menelepon.

“Biru!! Kamu dimana, nak? Apa kau baik-baik saja?”
“Biru baik-baik saja, Pa. Biru di kaki Gunung Gede, Pa. Ada apa?”
“Jingga, Biru. Jingga..”
“Kenapa dengan Jingga, Pa?” ada sebersit khawatir dalam nada suara Biru.
“Ji..Jingga masuk ICU sejak kamu pergi, nak.”
“Apa? Sekarang Jingga dimana Pa?”
“Di Rumah Sakit Harapan Kita, nak.”

Biru pun langsung memacu motornya pulang. Sejujurnya ada rasa bersalah yang menyelimutinya. Sesampainya di ruang ICU Biru langsung menghampiri Jingga yang terlihat lemah dan setengah sadar. Papa terlihat sedang merangkul Mama yang sedang menangis tersedu-sedu.

“Jingga! Kau tak apa-apa? Maafkan aku, Jingga. Atas segala sikap burukku selama ini.”
“Bi..Biru? Kau disini?”
“Jingga? Ya! Aku disini! Aku disini Jingga.”
“Biru.. aku akan pergi..”
“Tidak, kau tidak akan pergi kemana-mana. Kau akan sembuh dan pulang ke rumah.”
“Biru, aku tidak akan pulang. Aku akan pergi… Biru, senang melihatmu disini..”

Lalu kelopak mata Jingga terpejam untuk selamanya.

“Biru, Jingga menitipkan ini pada Mama untuk diberikan padamu.”

Kau ingat? Saat aku sakit kau duduk menemaniku dan menceritakan cita-citamu yang ingin menjadi seorang pilot, kau bilang agar bisa selalu terbang di langit. Waktu itu kau bilang bahwa kau akan mengajakku melihat bumi dari ketinggian yang tinggi. Dari awal hari dengan birunya langit hingga langit berganti menjadi jingga. Aku selalu berharap itu akan terjadi, tapi ku rasa itu tidak akan terjadi pada jasadku. Atau kau akan menceritakan kisah-kisah petualanganmu.

Kakakmu,

Jingga Prasetyo

Rabu, 14 November 2012

Membaca Buku





Buku adalah sahabat yang paling tenag dan setia; pembimbing yang paling bijak dan terbuka; dan guru yang paling sabar (Charles W. Eliot, mantan presiden Harvard University)
Buku merupakan lembar kertas yg berjilid, berisi tulisan atau kosong. Kertas dikenal sebagai media utama untuk menulis, mencetak serta melukis dan banyak kegunaan lain yang dapat dilakukan dengan kertas misalnya kertas pembersih (tissue) yang digunakan untuk hidangan, kebersihan ataupun toilet.
Dari Wikipedia.org diketahui  bahwa semenjak zaman peradaban Mesir Kuno menyumbangkan papirus sebagai media tulis menulis. Penggunaan papirus sebagai media tulis menulis ini digunakan pada peradaban Mesir Kuno pada masa wangsa firaun kemudian menyebar ke seluruh Timur Tengah sampai Romawi di Laut Tengah dan menyebar ke seantero Eropa, meskipun penggunaan papirus masih dirasakan sangat mahal. Dari kata papirus (papyrus) itulah dikenal sebagai paper dalam bahasa Inggris, papier dalam bahasa Belanda, bahasa Jerman, bahasa Perancis misalnya atau papel dalam bahasa Spanyol yang berarti kertas.
Adanya kertas merupakan revolusi baru dalam dunia tulis menulis yang menyumbangkan arti besar dalam peradaban dunia. Sebelum ditemukan kertas, bangsa-bangsa dahulu menggunakan tablet dari tanah lempung yang dibakar. Hal ini bisa dijumpai dari peradaban bangsa Sumeria, Prasasti dari batu, kayu, bambu, kulit atau tulang binatang, sutra, bahkan daun lontar yang dirangkai seperti dijumpai pada naskah naskah Nusantara beberapa abad lampau.
Produksi kertas di Indonesia yang dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan yang baik, menunjukkan bahwa minat baca di Indonesia di berbagai kalangan makin meningkat. Di zaman teknologi canggih ini, ketika internet seperti tak memiliki batasan, maraknya electronic book (e-book) apalagi yang gratis semakin hari semakin banyak saja jumlahnya, tetapi tetap saja tidak mengandaskan produksi buku versi hardcopy.
Buku merupakan salah satu faktor pendukung kemajuan suatu bangsa, Ray Bradbury, seorang sastrawan imigran Swedia pernah mengungkapkan bahwa tidak perlu membakar buku untuk menghancurkan sebuah bangsa, buat saja orang-orangnya berhenti membaca. Suatu bangsa dapat hancur jika orang-orangnya berhenti membaca buku  Jadi sayang sekali waktu kita jika tidak digunakan untuk membaca buku walau sejenak. Dr. Aidh bin Abdullah al-Qarni, dalam bukunya, “La Tahzan” mengungkapkan tentang banyaknya manfaat membaca, yaitu di antaranya sebagai berikut :
  • Membaca menghilangkan kecemasan dan kegundahan.
  • Ketika sibuk membaca, seseorang terhalang masuk ke dalam kebodohan.
  • Kebiasaan membaca membuat orang terlalu sibuk untuk bisa berhubungan dengan orang-orang malas dan tidak mau bekerja.
  • Dengan sering membaca, orang bisa mengembangkan keluwesan dan kefasihan dalam bertutur kata.
  • Membaca membantu mengembangkan pemikiran dan menjernihkan cara berpikir.
  • Membaca meningkatkan pengetahuan seseorang dan meningkatkan memori dan pemahaman.
  •  Dengan membaca, orang mengambil manfaat dari pengalaman orang lain: kearifan orang bijaksana dan pemahaman para sarjana.
  • Dengan sering membaca, orang mengembangkan kemampuannya; baik untuk mendapat dan memproses ilmu pengetahuan maupun untuk mempelajari berbagai disiplin ilmu dan aplikasinya dalam hidup.
  • Membaca membantu seseorang untuk menyegarkan pemikirannya dari keruwetan dan menyelamatkan waktunya agar tidak sia-sia.
  • Dengan sering membaca, orang bisa menguasai banyak kata dan mempelajari berbagai tipe dan model kalimat; lebih lanjut lagi ia bisa meningkatkan kemampuannya untuk menyerap konsep dan untuk memahami apa yang tertulis “diantara baris demi baris” (memahami apa yang tersirat).
Rahmat Mr.Power, seorang penulis utama Motivasi Islami pernah menulis bahwa ‘Tidak ada satu buku pun yang tidak bermanfaat, kecuali buku yang tidak dibaca sama sekali.’ Lagipula dikala kita kesepian, buku merupakan teman setia yang dapat dipercaya. Sekarang, setelah mengetahui manfaat membaca buku, masihkah kita melewatkan hari kita tanpa membaca buku?

Mengharapkan Pemimpin Apresiatif



“Beri aku satu orang tua maka akan kucabut Gunung Semeru hingga ke akar-akarnya, dan beri aku seorang pemuda maka aku akan mengubah dunia.” Begitu pesan Bapak Proklamator Republik Indonesia, Ir. Soekarno. Perkataan tersebut membuat penulis memikirkan kata-kata penuh makna itu. Apakah gerangan yang membuat beliau berani mengatakan hal tersebut? Bahkan, kenyataan bahwa konferensi pemuda Indonesia II pada 28 Oktober 1928 yang melahirkan sebuah kesadaran untuk bersatu yang dimanakan Sumpah Pemuda. Mengapa sumpah itu dinamakan Sumpah Pemuda? Apakah maknanya bagi kita semua? Apa sebenarnya arti ‘pemuda’? Apa pengaruhnya keberadaan pemuda bagi suatu bangsa?

Begitupun di Kota Sukabumi, begitu banyak potensi pemuda dalam hal ini remaja yang beranjak dewasa dituntut untuk berkemampuan menghadapi tantangan di era globalisasi ini. Potensi apa pun itu, baik itu di bidang akademik maupun non-akademik harus digali dan dikembangkan secara optimal untuk meraih hasil yang maksimal. Penulis yang juga sebagai pelajar merasa prihatin dengan kondisi pelajar di Kota Sukabumi yang memerlukan perhatian dari pemerintah daerah.


Penulis pernah menyaksikan pemberian penghargaan yang diserahkan oleh wakil Walikota Sukabumi, DR. H. Mulyono, M.M terhadap beberapa siswa SMA Negeri 1 yang berhasil menorehkan berbagai prestasi yang dilaksanakan pada tanggal 7 Oktober 2011 yang bertepatan dengan dilangsungkannya Golden Year 50th Kota Sukabumi yang menunjukkak apresiasi atau penghargaan terhadap generasi muda.


Hal tersebut merupakan suatu contoh dan awal yang sangat baik untuk menunjukkan perhatian pemerintah terhadap potensi pemuda di Sukabumi. Apalagi pada 2013 Kota Sukabumi akan memiliki pemimpin baru yang terpilih pada Pilkada 2013 mendatang. Pemimpin yang baik menurut Metronews haruslah memiliki karakter visioner, dapat berkomunikasi dengan baik, bersahabat dan membumi, mampu menjadi motivator, paham dengan bidang yang digelutinya, mampu menjadi figur bagi orang lain, konsisten, berkarisma, tekun, dan bersemangat. Pribadi seperti itu mampu melihat suatu kesempatan dalam kesempitan, mengetahui celah positif dari suatu hal negatif, bersikap optimis disaat setiap orang berpikir pesimis.


Sayangnya, mencari seorang pemimpin seperti yang penulis uraikan di atas bukanlah hal yang mudah. Pemimpin yang memerhatikan aspirasi pemuda terutama pelajar agar dapat terus menggali bakat yang dimilikinya. Mendorong dan memotivasi pemuda dalam berwirausaha demi terciptanya salah satu visi Kota Sukabumi sebagai kota pendidikan dan perdagangan. Di samping itu, seorang pemimpin harus mempunyai kemauan dan kesanggupan untuk menolak segala godaan untuk mementingkan kepentingan kelompok dan diri sendiri harus tak tergoyahkan, serta kemampuan untuk sanggup bertindak bijaksana dalam situasi apa pun.


Jika diumpamakan dalam ekonomi seorang pemimpin yang memberi perhatian pada kaum muda, maka akan membuat suatu investasi yang sangat menguntungkan di masa depan, pemimpin seperti ini adalah seorang pemimpin yang berpikir panjang dan berorientasi jauh ke depan demi kemajuan pembangunan bangsa dan negara.


Meski tidak ikut menyumbangkan suara dalam pemilihan kepala daerah mendatang, sebagai pelajar sekaligus masyarakat Kota Sukabumi penulis mengharapkan siapa pun yang akan menjadi orang nomor satu di Kota Sukabumi nanti memberikan kontribusi dan perhatian yang nyata terhadap segala potensi yang dimiliki oleh para pemuda Kota Sukabumi. Penulis mengharakan pemimpin yang terpilih nanti mampu melakukan sinergitas segala pihak yang terkait sehingga tercipta pemuda yang merupakan generasi penerus bangsa yang akan memangku tugas mulia membangun negara, serta pemuda yang berbakat di bidangnya dengan kualitas mumpuni yang mampu mengharumkan nama Kota Sukabumi di Nusantara.

Keluarga





Apa arti keluarga bagi kita? Apa mereka memiliki tempat yang istimewa di hati kita? Hingga Allah SWT pun berfirman kepada manusia untuk menjaga diri kita dan keluarga kita dari api neraka. Terkadang di saat masa remaja kita, sering kita lebih ingin menjadi dewasa. Contohnya masih malu jika membawa nasi bekal ke sekolah, karena alasan gengsi terlihat seperti anak kecil yang terkesan “anak-mami”.


Meski banyak keuntungan yang kita dapatkan dengan membawa bekal makan ke sekolah, contohnya yang paling utama tentu menghemat uang jajan, dengan membawa bekal uang yang biasanya untuk jajan dapat digunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat, seperti menabung misalnya. Padahal ibu kita sudah susah-susah membuatnya, ayah kita pagi-pagi sudah berangkat mencari nafkah agar kita bias sekolah, dan kakak kita harus seringkali berpacu dengan waktu hanya agar kita tidak terlambat ke sekolah. Begitu banyaknya pengorbanan yang keluarga kita lakukan ‘perharinya’.


Ilustrasi tersebut menunjukkan bahwa keluarga memegang peranan penting dalam kehidupan kita, bahkan merupakan komponen vital yang menjadi pondasi kejiwaan (psikis) kita. Kita dianugerahi kesempatan dengan mendapatkan curahan cinta dan kasih saying keluarga kita. Keluarga pun sering menjadi kunci kesuksesan seorang ayah dalam keluarga. Masih ingat film yang berjudul Cheaper by The Dozen? Film yang mengisahkan seorang pelatih sepak bola bernama Tom Baker yang menjadikan tim asuhannya ‘mesin pemenang’. Lalu mereka pindah ke tempat baru karena sang ayah mendapat tawaran melatih di klub besar, hingga sang ayah tak punya waktu untuk anak-anaknya.


Keluarga yang dulunya selalu kompak dan bahagia menjadi keluarga yang kacau serta salah satu anggota keluarga yang masih SD kabur dari rumah karena merasa dikucilkan. Ternyata klub hebat yang dilatih Tom pun mengalami kekalahan. Akhirnya Tom berhenti dari pekerjaanya dan mencari pekerjaan lain dimana ia tetap memiliki waktu bersama anak-anaknya dan keluarga mereka kembali menjadi keluarga yang kompak dan bahagia.
Jadi keluarga memang memegang peranan penting dalam perjalanan hidup seseorang, maka pereratlah silaturahmi dengan mereka, bersyukurlah pada jika mereka masih hidup di dunia dan doakanlah mereka jika telah tiada, setidaknya mereka turut memberikan warna dan pelajaran dalam kehidupan kita. Selamat hari keluarga!


(Dimuat di Koran Harian Umum Pikiran Rakyat edisi Selasa, 18 Mei 2012)


Sabtu, 10 November 2012

GFCS Regular Exercise



Every sport club always have their regular exercise, including GFCS too. They exercise twice a week. Sport clubs activities at schools mostly focused on exercise, not in theory. Therefore, a sport club have many agenda's activities performed, which the members of the club activities by exercising together, whether it will be a championship or not. It just a regular exercise only or to increase their skill.
Regular exercise activities usually begins at 3 pm until 4.30 pm and GFCS members stretching together and then they run surrounding the school for three time.

After that, they have to do basically movement, like passing, try to strike a soccer ball with the head, learning a ‘clean tackle’, and try a free kick from another position.


The coach give tips and trick how to take a ball from the opponent team. The coach teach strategies when the team against another team, try to working together with the team, and what should they do if they meet the opponent player by face to face.
Usually, at 4.15 the exercise is over, and when they take a rest, the coach will tell them his experience with football or just give motivation to them to more and more having performance. In another day, sometime the coach ordered them not to exercise, but just sharing their experience, memories, motivation, annoyance, one by one. So, they feel that GFCS is not only a common sport club or extracurricular, but also is a family.


In the holy month of Ramadhan, the exercise always being held like another month, the members of GFCS still doing stretching, warm up with run surrounding the school, the coach said that if we were fasting, that will be great if we are always moving our body, because if you are a true athlete, you must being ready to be playing sports everytime, everywhere. The regular exercise could extend when we breathing, and being the best of the best need the best hard work too.


There were thousands hours who used by Michael Jackson, Michael Jordan, Cristiano Ronaldo, Wayne Rooney, Lionel Messi, Zinedine Zidane, Marco van Basten, and another great player to exercise.


Let’s exercise harder to get the better result!

The Great Thing of GFCS and Football






Football game is a game who have been played in the whole world. If you doing a trespassing, the referee would give you a punishment,such as free kick, penalty, corner kick, yellow card, or even red card. Remember what is Oscar Wilde’s says? He said that football is all very well a good game for rough girls, but not for delicate boys? Because in the reality, if you doing a crime and the cop arrested to you, you will go to the jail.


Every members of GFCS will feel the importance of cooperation between the teams, learned a sense of togetherness, cooperation within the team will carry over until we grow up in the world of work, we are able to work in a team. When viewed from the perspective of leadership, a good leader (leader) will work as a team with colleagues and subordinates, but a leader (boss) will rule his colleagues as a cruel dictator or tyrant.


Besides that, they learn to be a hard worker and a strong desire, hard work is the way to achieve a miracle.... Because if you are approached failure does not mean you should give up, but looking the other way, then do it again. Do not be quick to give up. Do not forget the failure, but take this lesson. Any failure to make is your way to the top rung, which is successful. Every failure that you find, give clear direction to success. Among the thousands of opportunities and possibilities, there is no success, yet surrounded by a failure. Take a chance and opportunity, let you fail in the process of finding success.

It's Just A Game, buddy!





As long as the referee have blown up the whistle yet, everything could be happen in football. And what we call a cheat is when we do a trespassing, the referee know it. But, if the referee didn’t know, that is a lucky for us. Perhaps, that was an unlucky moment for the GFCS team in the final of Indonesian Education League in Town / District Level at Suryakencana Stadion at Sukabumi City. Because GFCS’ team won the ball possession, if we look in players skill, we got so many chance but when the GFCS’s team will doing a finishing, the line referee said that it is an off side position, but actually, that isn’t. And above the paper, the GFCS’s team could be a winner easily. But, probably the Fortune Goddess is not in the GFCS’s team side. In the final, the captain must give the spirit injection to the team, to give a high defense and a good finishing.


When the opponent’s player doing diving in a box or in the penalty box, the referee said that’s happen because one of the GFCS’s team push him hardly, and like a guess, the referee give the opponent team a penalty kick from the white point. And because the penalty happened in the last second in the second-time, of course the scored change, 0-1 for the opponent’s team winning. After the match is over, the coach told them that they must have more spirit to win, more introspection their selves, get exercise harder, not underestimate or to belittle the opponent’s team ability. Respect them by give a high pressure, if the GFCS’ team still have lost, the coach told them that they have to admit the opponent’s team victory in take advantage of chance and opportunity, no need to blame friends, no need to convict the referee and the line adjudicators. Although they have lost, they are not let the opponent team won the match easily, and they still could uphold their head because they have lost with honorable.

As a champion of Indonesian Education League 2011 at Town/ District Level, they disappointed in 2012. They couldn’t gave a trophy again, just a silver medal, not the golden one. But, as a true champion they have to fair play. With a brave-heart they admit to their selves that they were unlucky at that time. They said to their selves that The Specs Futsalogy Championship 2012/2013 is the event where they must be a champion, and the coach said that is a game, where to win or to lose is nothing, but a true champion is when we could playing with a fair play, and they have never been afraid to fail because it’s just a game, buddy!


Picture: google.com

Aku Menulis, Maka Aku Eksis

Puluhan mungkin lebih, definisi dari kata ‘menulis’, tetapi bagi saya menulis adalah sebuah hal yang unik dan baik. Dikatakan unik karena hasil karya seorang penulis yang satu dengan yang lain pasti berbeda dan memiliki karakter serta gaya menulis tersendiri. Disebut baik karena dengan menulis dapat memperkaya pengetahuan dan wawasan orang lain, dalam hal ini pembaca.Pernah dalam suatu buku tips menulis saya membaca suatu ungkapan yang menurut saya sarat makna, yaitu ungkapan Khalifah Ali bin Abi Thalib yang berkata, “Kemuliaan seseorang itu terltak pada pena-nya”. Dari ungkapan tersebut dapat ditafsirkan bahwa kemuliaan kita bergantung pada apa yang kita ‘tulis’ di buku catatan amalan kita, dengan kata lain kita sendirilah yang menjadi pena yang mnulis sejarah hidup kita. Lagipula, menurut hemat saya, seseorang yang menulis adalah orang yang berilmu, karena tidak mungkin seorang penulis menuliskan apa yang tidak ia ketahui.



Banyak keajaiban dan nikmat yang saya rasakan saat menulis. Diantaranya mendapatkan banyak teman baru, baik sesama penulis atau pun pembaca. Selain memanjangkan tali silaturahmi, juga memperbanyak rezeki dan ilmu pengetahuan. Hal lainnya adalah saya menjadi cukup terkenal, terutama di sekolah. Bukan sok-sok sombong tetapi Alhamdulillah setelah tulisan-tulisan saya dimuat di koran regional paling laris di Jawa Barat, saya yang awalnya menjadi siswa ‘biasa saja’ mulai dikenal orang. Apalagi setelah tulisan saya itu dipajang di mading utama yang terletak di lobi sekolah, dengan ditempeli foto, nama, dan asal kelas saya. Jadi, siapa pun yang lewat ke lobi sekolah, maka akan melihat karya saya ‘numpang mejeng’ disana.



Tetapi ada hal yang lebih penting dari itu semua, yaitu saat kedua orang tua saya membaca tulisan saya di media massa, setidaknya saya telah memberikan sedikit hiburan pada mereka bahwa apa yang telah mereka berikan pada saya selama ini tidaklah sia-sia belaka dan saya berharap hal tersebut dapat membuat mereka sedikit bangga dan bahagia. Terakhir, bagi saya pribadi, menulis itu adalah suatu bentuk ekspresi diri saya, eksistensi diri saya. Jika Rene Descrates mengatakan ‘aku berpikir, maka aku ada’, menurut saya ‘aku menulis, maka aku eksis’.

Cinta Sang Ilmuwan


Seperti quark
Kecil sekali namun terasa keberadaannya
Tersimpan rapi di sudut hati yang istimewa
Seperti struktur kimia
Rasa itu membentuk cabang antar molekul dengan cepat

Begitu juga dengan dirimu
Layaknya akar tanaman rambat
Semakin erat menambat
Menjerat

Ketahuilah,
Cintaku bukanlah kisah cinta klasik di TV
Sayangku bukan pula sebuah fiksi
Atau hanya ilusi pribadi

Cintaku akan selalu ada
Walau kau tak pernah melihatnya
Tapi kuyakin aku mampu membuktikannya
Tak perlu rasanya mulutku berbusa-busa
Mengucapkan janji setia padamu
Karena aku tahu
Kau yakin akan diriku

Sesungguhnya,
Aku hanya ingin bertanya
Jika kukatakan aku cinta padamu,
Kau akan bilang apa?

'Kan Ada Aku

Telah menahun kita bersama
Bersahabat dan berbagi cerita
Kau dengan dia dan
Aku dengan yang lainnya
Tak ada yang berbeda

Hingga kita beranjak dewasa
Saat kita mulai terhanyut dalam racun yang memabukkan
Aku ingin mengatakan rasa ini
Namun aku takut itu malah akan membuatmu menghindar
Dan aku tak pernah ingin kehilangan kebersamaan kita

Saat aku tahu kita merasakan hal yang sama
Dan kau juga sama takutnya untuk mengungkapkannya
Lalu di bibir pantai itu
Kau dan aku terdiam
Hanya debur ombak yang terdengar
Karena mata kita, menyiratkan segalanya

Saat kau lisankan
‘Kita memang tetap bersahabat....dengan komitmen,
Dengan ikatan,
Dan aku menginginkanmu,
Disini dan sekarang’
Dan kini aku tahu kau selalu bisa diandalkan
Ketika kau berbisik di telinga ini
‘Kan ada aku’




Putri Hujanku





Pagi itu aku duduk di dekat jendela


Seperti hari-hari yang lalu


Memandangi rintik-rintik air membasahi bumi


Kunikmati secangkir kopi dan sepotong kue


Yang entah mengapa tak berasa apa-apa


Hambar saja dan membuat rasa kesal hinggap pada diriku



Lalu kulayangkan pandang pada sebuah taman di seberang jalan


Dan mataku terkunci


Pada titik fokus itu


Padamu


Yang waktu itu mengenakan baju biru


Dan tak terlihat sebuah payung pun di genggamanmu


Tapi mengapa kau malah terlihat bahagia


Menari-nari dengan jelita


Tak pedulikan titik-titik hujan menerpa


Apa yang kau lakukan disana kira-kira?


Tak dapat aku menerka



Ya, kini kutahu rasa hambar ini telah berganti


Menjadi secangkir kasih dan sepotong kue sayang


Lalu sesaat tatapan kita beradu


Matamu seakan mengajakku untuk


Menikmati hujan bersama


Merasakan tetes hujan dan berbagi cinta denganmu,


Putri hujanku

Pungguk Merindukan Bulan-kah?

Mungkin aku memang diciptakan
Hanya untuk memuja
Mengagumi dan
Menyimpan rasa ini
Di palung jiwa yang terdalam

Tapi tak apa
Aku rela

Menjadi biasa saja
Karena tak kuasa
Bersaing dengan mereka
Yang kaya harta di sekolah kita

Tapi tak apa
Aku bisa terima

Meski hanya dipandang sebelah mata
Bahkan, sekedar dilirik pun
Aku tak pernah mengharapkannya
Apalagi mendapat kesempatan
Untuk kau sapa

Tapi tak apa
Aku berkata

Meski kita bertetangga
Rumahku disini
Rumahmu disana
Tapi mengapa hati kita
Tak bisa sedekat jarak rumah kita

Tapi tak apa
Aku ikhlas saja
Karena untuk bertukar sapa
Hanya berani kulakukan
Saat lebaran saja
Itu pun hanya
Beberapa patah kata

Tapi tak apa

Itu cukup membuatku bahagia
Bagiku
Mencintaimu saja
Adalah
Hal yang luar biasa

Kembalinya Handphone yang Hilang



“Eh, hp-ku mana ya? Kok nggak ada?” tanya Vandri pada Danu sambil menghentikan langkahnya.
“Lha? Mana aku tahu?” sahut Danu yang ikut berhenti berjalan.
“Beneran nggak ada!” seru Vandri terdengar agak panik. Kedua tangannya meraba-raba ke dalam saku baju dan celana tapi ia tetap tidak menemukan wujud alat komunikasi berbentuk balok kecil itu.
“Seriusan, Dan. Hp-ku nggak ada di kantong, nih! Padahal tadi jelas-jelas aku taro di saku depan!”
“Oke, tenang dulu. Mendingan kita balik lagi ke Labkom aja, mungkin kamu lupa naro di sana, Van.”
“Tadi kamu duduk disini ‘kan? Sekarang sambil nyari hp kamu, coba inget-inget pas terakhir kamu ngeluarin hp. Gimana?”
“Oke, lah.”

Danu dan Vandri pun berkeliling Labkom untuk menyisir tempat-tempat yang mungkin menjadi area jatuhnya hp Vandri. Kolong kursi dan meja tak luput dari pencarian mereka. Setelah beberapa lama mencari tapi hasilnya tetap nihil.
“Masa nggak ada? Terakhir aku pegang hp ‘kan disini?” kata Vandri sedikit frustasi.
“Gimana kalo aku call hp kamu? Di-silent nggak? Mungkin kalo di-call bakal kedengeran ringtone hp kamu..”
“Ahhh, tapi masalahnya hp-ku itu di-silent, Dan!”
“Hmm, agak susah sih kalo di-silent. Tapi patut dicoba.”
“Oke.”
“Nyambung, Van. Tapi kok malah di-reject ya, Van?”
“Coba telepon lagi, Dan..”
Danu mencoba menelepon 5 kali lagi. Tapi pada saat ia akan menelepon untuk yang ketujuh kalinya, hp Vandri tidak aktif. Danu pun mengirimkan SMS yang berisi bahwa hp itu adalah milik Vandri dari kelas X.1.
“Kita coba cari di kelas dulu, Dan.”

“Ada nggak, Van?”
“Nggak.”
“Udah, mending kamu ke mushala, berdo’a dan serahin semuanya sama Allah, lagian sekarang udah waktunya sholat Dhuhur.”
Saat melaksanakan shalat dhuhur, Vandri mencoba mempraktekan cara shalat khusyuk yang pernah dipelajarinya. Ia pun berdo’a sambil bersujud, ia yakinkan jika hp itu memang rezekinya, hp itu pasti akan kembali padanya. Jika tidak, maka Vandri bertawakal serta sabar terhadap takdir Allah SWT. Saat memakai sepatu sambil membilang zikir, seseorang bertubuh kecil dan memakai kacamata menghampiri Vandri.
“Mmmm, Vandri?”
“Ya? Eh, kamu kan..”
“Aku tahu kamu Romi.” Vandri memang tidak begitu mengenal Romi yang dicap kuper oleh teman-teman sekelas mereka.
“Ngg, kamuu hilang hp?”
“Kok kamu tahu?”
“Aku tadi nemuin hp di koridor Labkom, kayaknya jatoh pas kamu mau pake sepatu. Maaf tadi aku reject soalnya aku takut dituduh nyuri hp kamu...” ujar Romi sambil mengulurkan hp Vandri.
“Alhamdulillah, tuh kan Van, Allah pasti akan menolong mereka yang meminta pertolongan.” kata Danu.

“Wah, Alhamdulillah. Duhhh, terimakasih ya Allah, Engaku masih mempercayakan hp itu pada hamba. Makasih juga ya, Rom. Nggak kok, kita nggak nuduh kamu nyuri, justru aku sangat berterimakasih sama kamu udah nyimpen hp aku. Kalo bukan kamu yang nyimpen mungkin hp ini nggak bakal balik lagi ke aku.” kata Vandri sambil tersenyum.
“Nah, masalah hp udah selesai. Yuk, kita balik ke kelas. Bel masuk juga udah bunyi tuh!” ajak Danu yang diikuti anggukan oleh Vandri dan Romi yang kini menjadi teman baru mereka.


Tak Semua Rahasia

Aga termenung sendiri di bangkunya yang terletak di pojok kelas XI IPA 1, di SMA Paxton Nusantara. Merupakan sesuatu yang tidak biasa bagi seorang Aga yang biasanya selalu penuh energi yang meletup-letup itu. Hal ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran bagi sang sahabat sekaligus kawan sebangku Aga, yaitu Donovan yang lebih sering disapa dengan Dondon oleh teman-temannya.


“Kamu kenapa, Ga? Nggak biasanya jadi pertapa kayak gitu?” tanya Dondon setengah bercanda sambil menepuk bahu Aga pelan.

“Ah, enggak. Lagi nggak mood aja.” sahut Aga dengan acuh tak acuh sambil beranjak dari kursinya dan melangkah keluar kelas. Meninggalkan Dondon yang masih berdiri dengan roman wajah penuh tanda tanya.

Rrrrrriiiiingggg!!!!

Aga dengan tergesa-gesa pergi keluar kelas seperti yang dilakukannya tadi pagi, Dondon yang ingin tahu apa yang terjadi pada sahabatnya berusaha mengejarnya.
“Hei, Ga! Mau kamu tuh apa sih? Tadi pagi kabur, sekarang kabur. Pas pelajaran Pak Rahadian tadi aku tanya berapa kali juga kamu ngga ngejawab. Kalo ada masalah cerita dong!” kata Dondon setengah berteriak.

“Bukan urusanmu.” sahut Aga ketus tanpa menghentikan langkahnya.
Dondon terperangah dan berhenti mengejar Aga, ia tidak pernah menyangka akan mendapat jawaban sedemikian rupa dari sahabatnya sejak kelas X. Hari-hari berikutnya Dondon masih terus mencoba berbicara pada Aga, namun Aga selalu mengelak. Dondon pun memutuskan untuk pindah bangku. Hingga di hari ke 7 semenjak Dondon pindah, Dondon melihat Aga sedang duduk dibawah sebatang pohon mahoni yang rindang.

“Aku tak peduli kamu dengerin atau enggak, tapi aku hanya ingin kamu tahu Aga, sekalipun kamu nggak cerita ke aku, aku tetep sahabatmu. Asal kamu tahu, aku bakalan selalu ada dan dengerin saat kamu pengen cerita. Mungkin bagi kebanyakan orang dalam persahabatan itu kita harus menceritakan semua rahasia kita pada sahabat kita, bahkan yang paling gelap sekalipun. Tapi bagiku, hal itu sama sekali nggak berlaku. Kamu berhak nyimpan cerita dan rahasia kamu sendiri, toh aku yakin suatu saat nanti akan datang padamu saat yang tepat untuk menceritakan hal yang kamu simpan selama ini ke aku. Oke, aku balik duluan, ya.”

Mendengar penuturan panjang Dondon ini Aga tercenung, ia meresapi apa yang baru saja dikatakan oleh sahabatnya itu. Aga pun menghela napas dalam-dalam, lalu ia berdiri dan memanggil Dondon.

“Don! Tunggu!”
“Ya?”
“Kau benar tentang rahasiaku itu. Aku dapat memilih menceritakannya padamu sekarang tapi kurasa akan ada saatnya aku memberitahu hal itu padamu. Dan yang terpenting kini aku sadar bahwa kau tak pernah menuntut apa-apa dariku dan satu hal pula yang aku ingin kau tahu, kau selalu dan akan selalu menjadi sahabat terbaikku. Jadi, kuharap kita masih bersahabat, kan?” tanya Aga penuh harap.

“Tentu saja, kawan.” jawab Dondon tersenyum lalu merangkul pundak Aga brotherly. Akhirnya mereka berdua pun menjadi sahabat karib yang akrab selamanya.

Generation of Football Club Smansa

by: Viny Alfiyah



Football is the greatest sport in the whole world, this is makes football played in 200 difference country. Include in Indonesia to most of students and youth generation in Indonesia. At High School 1, GFCS available to facilitate the football talent from Smansa’s students. GFSCS is an abbreviation of Generation of Football Club Smansa, GFCS existed in 2004, by Mulia, one of the students of High School 1. Actually, when Mulia leading GFCS, firstly this sport club was not GFCS, but Sepak Bola Smansa, but because football is not only soccer but also ‘futsal’ is a football too.


GFCS sport club, established to accommodate the interest and talent SMANSA’s (Senior High School 1) students. Not only A boy but also a girl could be the member of this sport club. Usually, besides as a player of the girl team, a girl caused to be a manager of the boy team. GFCS have more or less sixty students. GFCS was developed by a sport teacher of High School 1, his name is Dedi S.


Since 2004, there is so many achievement of this sport club. Such as become the champion of LPI 2011 Town/District Level, the second champion of LPI 2011 Region Level, the champion of The Specs Futsalogy Championship 2011/2012, the champion of The Specs Futsalogy Championship 2012/2013, and the GFCS’s player, Revi, become the top scorer of the championship.
There is a unique thing of the GFCS chief, the GFCS chief of 2011/2012 period is a chief of Class Conference Council and at his class and now, the GFCS chief of 2012/2013 period is a chief of Class Conference council and the chief of students too.
And another agenda of GFCS besides the regular exercise is ‘ifthor’, ifthor is from Arabic language, meaning of ifthor were when the muslim were fasting in the holy month of Ramadhan , the GFCS members always arrange ifthor, they could take place at school or at a member home. But usually they use the hall of High School 1.
Every year, there is the school’s agenda who held annually, usually it be held the second-half term, in January or March. In that time Smansa’s citizen called it with BP (Bulan Prestasi) or Achievement Month, every extracurricular must arrange a competition or tournament, included GFCS. In the last Achievement Month. GFCS arrange the Futsal Tournament at Tour / District Level, the tournament divided with 2 categories. Woman Championship and Man Championship for Junior or Middle School’s Student.


Actually, because GFCS is a sport club, that were so many sponsor, but they are from the cigarette corporation, one of the members said that, “Should we sell the cigarette to get much money?”. But they choose to refuse it, because they think that perhaps money is important, but money is not the most important, is it?
Nearly expiration date of period position of the managing an organization, there was a great agenda who called with LPTJ (Laporan Pertanggung Jawaban) or Responsibility Report. RR is the book where the chief made responsible what were he did in the past. In the same agenda, the last chief must choose a new chief with his or her staff. This agenda also witnessed by someone from the delegation of the vice headmaster and invite another extracurricular.



Reference: Sumarni, Sri. 2012. Yang Tersisa Dari The Specs Futsalogy Championship 2012. http://radarsukabumi.com/?p=29278. (Accessed October,12,2012)

Picture: google.com


Sport Club! Make us Healthy, Make us Smart!

by: Viny Alfiyah

Do you follow an extracurricular activities at your school? Are you a member of Organization of Intra-School Students management? It's excellent if you following it both.

According to Wikipedia.org, extracurricular activities are activities performed by students that fall outside the realm of the normal curriculum of school or university education. Extracurricular activities exist at all levels of education, from 4th-6th, junior school/high school, college, and university education.

Such activities are generally voluntary as opposed to mandatory, non-paying, social, philantropic as opposed to scholastic, and often involve others of the same age. Students often organize and direct these activities under faculty sponsorship, although student-led initiatives, such as independent newspapers, are common.

Extracurricular activities itself could like the events of arts, sports, personality development, and other activities to meaning on the positively progressive from the students themselves.

In Indonesia, extracurricular activities are based on the Decree of the Minister of Education No. 0461/U/1964 and Decree of Director General (Primary and Secondary) Dikdasmen No. 226/C/Kep/O/1992. Stated that extracurricular is one of the pathway for the students, besides Organization of Intra-School Students, Leader Training and Environmental Insight.
Example of sport extracurriculars are:
 Basket ball
 Volley ball
 Soccer
 Badminton
 Swimming

Some school added their sport extracurricular with Rock climbing, Gymnastic, Parkour, Free Running, etc.

Sport clubs activities at schools mostly focused on practice, not in theory. Therefore, a sport club have many agenda's activities performed, which the members of the club activities by exercising together, whether it will be a championship or not. It just a routine exercise only or to adding skill. Sport activities definitely requires a lot of energy, which means a lot of movement by the muscles too, and muscle get the energy from respiration or breathing.

It makes the circulation of oxygen in the brain becomes more smoothly and will make our brain easier to catch material from the teacher, and make our memory better. Moreover, the right side of the brain associated with motoric nerves and kinesthetic ability to balance the development from the left side of our brain. Thus, the two parts of our brain become balanced and more optimal.
So, being a member of a sport club, we could achieving our skill, we could get a healthy lifestyle by following it. We could make our body looks great, great muscles, an ideal body shape, etc. You can’t being sick easily because you have a great immune in your body.


Be healthy and smarter with the sport club!

Reference : Narmoatmojo, Winarno. 2009. Ekstrakurikuler di Sekolah: Dasar Kebijakan dan Aktualisasinya. (Accessed:

18 Oktober 2012).
Picture: personal document

Kamis, 08 November 2012

Sejarah Polwan

Ketegaran seorang perwira berpadu dengan kelembutan dan keanggunan seorang wanita yang sedang di terpa teriknya sinar mentari. Itulah yang penulis lihat di mata seorang Polwan saat mengatur arus lalu-lintas di sebuah jalan raya. Menurut Wikipedia, Polwan adalah satuan Polisi khusus yang berjenis kelamin wanita. Sejarah telah menuliskan bahwa kelahiran Polisi Wanita (Polwan) di negeri kita ini tidaklah jauh berbeda dengan kelahiran Polisi Wanita di negara lain di dunia. Polwan biasanya bertugas dalam penanganan dan penyidikan terhadap kasus – kasus kejahatan yang melibatkan kaum wanita, baik sebagai korban maupun sebagai pelaku kejahatan.
Polisi Wanita lahir di Republik Indonesia pada tanggal 1 September 1948. Daerah yang pertama kali memiliki Polwan adalah Bukit Tinggi, Sumatera Barat ketika Pemerintah Indonesia tengah menghadapi peristiwa Agresi II dan terjadi pengusian warga secara besar-besaran dari daerah Semenanjung Malaya yang sebagian besarnya berjenis kelamin perempuan. Para pengungsi ini tidak mau diperiksa dan digeledah secara fisik oleh Polisi pria.

Permasalahan ini membuat Pemerintah Indonesia menunjuk SPN (Sekolah Polisi Negara) Bukit Tinggi untuk mengadakan “Pendidikan Inspektur Polisi” bagi kaum perempuan. Setelah melalui seleksi yang ketat, terpilihlah enam orang gadis remaja yang kesemuanya asli orang Minang, yaitu : Mariana Saanin, Nelly Pauna, Rosmalina, Dahniar, Djasmaniar, dan Rosnalia yang secara resmi memulai Pendidikan Inspektur Polisi a 1 September 1948. Sejak saat itulah dinyatakan telah lahir Polisi Wanita (Polwan) yang juga merupakan para wanita ABRI pertama di NKRI yang saat pensiun rata – rata telah berpangkat Kolonel Polisi (Kombes).

Kini setelah 64 tahun berdiri, tugas Polwan di NKRI ini bukan hanya menyangkut masalah kejahatan wanita, anak – anak, dan remaja saja, tetapi telah merambah ke masalah administrasi bahkan nyaris menyamai tugas-tugas Polisi prianya. Bahkan Korps Polisi Wanita patut berbangga karena pada 23 Januari 2008 silam secara resmi telah memiliki seorang Kapolda wanita pertama di Indonesia, yaitu Kapolda Banten Brigjen Rumiah.

Jumlah Polwan di Indonesia memang masih sedikit dibanding dengan anggota Polisi pria. Wakapolri Komjen Nanan Soekarna menyebutkan jika Polri memerlukan taruni Akpol lebih banyak, karena dalam undang – undang Polri harus menyediakan kuota taruni sebanyak 30% dimana baru terpenuhi sebanyak 0,3% saja.


Di zaman modern ini, kenakalan remaja, tawuran antar pelajar, dan berbagai kasus kejahatan lainnya semakin marak di berbagai daerah merupakan tantangan bagi Korps Polisi Wanita untuk semakin bersemangat dalam membuktikan eksistensi diri sebagai anggota Polisi Republik Indonesia. Selamat Hari Ulang Tahun Polwan yang ke-64!

Dimuat di koran Harian Umum Pikiran Rakyat edisi 18 September 2012.