Dari Zaman Otot ke Zaman Otak

Written on 05.24 by Viny Alfiyah




Beberapa waktu lalu, peristiwa tawuran di daerah Jakarta Selatan antara dua sekolah yang sempat menggemparkan seantero negeri ini. Beritanya menjadi headline di tiap surat kabar, perkembangan kasusnya sesalu ditayangkan, hingga menjadi tema dialog interaktif di berbagai channel televisi.


Tetapi penulis sendiri sebagai seorang pelajar merasa ironis sekali jika harus menunjukkan kesetiaan dan kebanggan diri terhadap sekolah dengan jalan tawuran. Bukan bermaksud membandingkan, tetapi hanya mengambil contoh yang baik saja bahwa terdapat beberapa sekolah favorit di Jawa Barat, khususnya di daerah Kota Bandung yang terkenal karena keunggulan intelektualitas para siswa-siswinya. Setiap pelajar dari sekolah-sekolah tersebut terpacu untuk memberikan yang terbaik bagi sekolahnya masing-masing setiap ada kompetisi, baik di kancah daerah, nasional, maupun internasional. Mereka memiliki semangat tidak mau kalah dalam arti positif dan ngotot untuk menang demi kebanggaan sekolah.


Setiap pelajar pasti memiliki kecintaan terhadap almamaternya, ia pasti tidak akan terima jika ada orang lain yang menjelek-jelekkan nama sekolahnya. Tetapi akan terasa pantas sekali jika seorang pelajar mampu menunjukkan pribadi seorang pelajar yang ‘terpelajar’. Ia akan berusaha semampunya agar sekolahnya dihormati dan dihargai orang lain.


Penulis yakin sekali perbuatan tawuran tersebut timbul karena perasaan tidak terima karena almamater mereka dihina orang, tetapi ‘cara’ yang digunakan oleh mereka bukan merupakan cara yang positif. Cara yang tidak positif itu seringkali malah menjerumuskan mereka kepada masalah yang lebih besar sehingga menimbulkan korban.


Namun, kini zaman telah berubah, zaman otot telah berganti menjadi zaman otak. Kita tidak lagi berada di zaman nomaden (berpindah-pindah) dimana yang paling kuat adalah sang penguasa. Memang dalam mencapai kemenangan diperlukan fisik yang sehat, tetapi kita tidak boleh terlena dengan kekuatan fisik (otot), kita juga harus memiliki kecerdasan otak. Jika dianalogikan dalam permainan sepak bola, suatu tim yang hebat di segala sektor jika tidak memiliki pelatih yang cerdas mengatur taktik dan strategi hanya akan mengalami kekalahan dalam setiap pertandingan.


Untuk itu penulis mengajak sobat belia sebagai sesama pelajar, marilah kita perbaiki citra kita sebagai pelajar dengan melakukan persaingan secara sehat, bukan dengan mengadu otot (tawuran) tetapi dengan mengadu kecerdasan (otak). Marilah kita berusaha untuk membuktikan pada dunia bahwa kita adalah pelajar yang mampu bersaing secara global dengan menjadi pelajar berkarakter yang mampu memadukan antara kekuatan fisik dan kecerdasan otak. Selamat Hari Pelajar Internasional!

(Dimuat di koran harian Umum Pikiran Rakyat edisi Selasa, 20 November 2012)

If you enjoyed this post Subscribe to our feed

No Comment

Posting Komentar

Rabu, 21 November 2012

Dari Zaman Otot ke Zaman Otak




Beberapa waktu lalu, peristiwa tawuran di daerah Jakarta Selatan antara dua sekolah yang sempat menggemparkan seantero negeri ini. Beritanya menjadi headline di tiap surat kabar, perkembangan kasusnya sesalu ditayangkan, hingga menjadi tema dialog interaktif di berbagai channel televisi.


Tetapi penulis sendiri sebagai seorang pelajar merasa ironis sekali jika harus menunjukkan kesetiaan dan kebanggan diri terhadap sekolah dengan jalan tawuran. Bukan bermaksud membandingkan, tetapi hanya mengambil contoh yang baik saja bahwa terdapat beberapa sekolah favorit di Jawa Barat, khususnya di daerah Kota Bandung yang terkenal karena keunggulan intelektualitas para siswa-siswinya. Setiap pelajar dari sekolah-sekolah tersebut terpacu untuk memberikan yang terbaik bagi sekolahnya masing-masing setiap ada kompetisi, baik di kancah daerah, nasional, maupun internasional. Mereka memiliki semangat tidak mau kalah dalam arti positif dan ngotot untuk menang demi kebanggaan sekolah.


Setiap pelajar pasti memiliki kecintaan terhadap almamaternya, ia pasti tidak akan terima jika ada orang lain yang menjelek-jelekkan nama sekolahnya. Tetapi akan terasa pantas sekali jika seorang pelajar mampu menunjukkan pribadi seorang pelajar yang ‘terpelajar’. Ia akan berusaha semampunya agar sekolahnya dihormati dan dihargai orang lain.


Penulis yakin sekali perbuatan tawuran tersebut timbul karena perasaan tidak terima karena almamater mereka dihina orang, tetapi ‘cara’ yang digunakan oleh mereka bukan merupakan cara yang positif. Cara yang tidak positif itu seringkali malah menjerumuskan mereka kepada masalah yang lebih besar sehingga menimbulkan korban.


Namun, kini zaman telah berubah, zaman otot telah berganti menjadi zaman otak. Kita tidak lagi berada di zaman nomaden (berpindah-pindah) dimana yang paling kuat adalah sang penguasa. Memang dalam mencapai kemenangan diperlukan fisik yang sehat, tetapi kita tidak boleh terlena dengan kekuatan fisik (otot), kita juga harus memiliki kecerdasan otak. Jika dianalogikan dalam permainan sepak bola, suatu tim yang hebat di segala sektor jika tidak memiliki pelatih yang cerdas mengatur taktik dan strategi hanya akan mengalami kekalahan dalam setiap pertandingan.


Untuk itu penulis mengajak sobat belia sebagai sesama pelajar, marilah kita perbaiki citra kita sebagai pelajar dengan melakukan persaingan secara sehat, bukan dengan mengadu otot (tawuran) tetapi dengan mengadu kecerdasan (otak). Marilah kita berusaha untuk membuktikan pada dunia bahwa kita adalah pelajar yang mampu bersaing secara global dengan menjadi pelajar berkarakter yang mampu memadukan antara kekuatan fisik dan kecerdasan otak. Selamat Hari Pelajar Internasional!

(Dimuat di koran harian Umum Pikiran Rakyat edisi Selasa, 20 November 2012)

0 komentar:

Posting Komentar