Tak Semua Rahasia

Written on 07.28 by Viny Alfiyah

Aga termenung sendiri di bangkunya yang terletak di pojok kelas XI IPA 1, di SMA Paxton Nusantara. Merupakan sesuatu yang tidak biasa bagi seorang Aga yang biasanya selalu penuh energi yang meletup-letup itu. Hal ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran bagi sang sahabat sekaligus kawan sebangku Aga, yaitu Donovan yang lebih sering disapa dengan Dondon oleh teman-temannya.


“Kamu kenapa, Ga? Nggak biasanya jadi pertapa kayak gitu?” tanya Dondon setengah bercanda sambil menepuk bahu Aga pelan.

“Ah, enggak. Lagi nggak mood aja.” sahut Aga dengan acuh tak acuh sambil beranjak dari kursinya dan melangkah keluar kelas. Meninggalkan Dondon yang masih berdiri dengan roman wajah penuh tanda tanya.

Rrrrrriiiiingggg!!!!

Aga dengan tergesa-gesa pergi keluar kelas seperti yang dilakukannya tadi pagi, Dondon yang ingin tahu apa yang terjadi pada sahabatnya berusaha mengejarnya.
“Hei, Ga! Mau kamu tuh apa sih? Tadi pagi kabur, sekarang kabur. Pas pelajaran Pak Rahadian tadi aku tanya berapa kali juga kamu ngga ngejawab. Kalo ada masalah cerita dong!” kata Dondon setengah berteriak.

“Bukan urusanmu.” sahut Aga ketus tanpa menghentikan langkahnya.
Dondon terperangah dan berhenti mengejar Aga, ia tidak pernah menyangka akan mendapat jawaban sedemikian rupa dari sahabatnya sejak kelas X. Hari-hari berikutnya Dondon masih terus mencoba berbicara pada Aga, namun Aga selalu mengelak. Dondon pun memutuskan untuk pindah bangku. Hingga di hari ke 7 semenjak Dondon pindah, Dondon melihat Aga sedang duduk dibawah sebatang pohon mahoni yang rindang.

“Aku tak peduli kamu dengerin atau enggak, tapi aku hanya ingin kamu tahu Aga, sekalipun kamu nggak cerita ke aku, aku tetep sahabatmu. Asal kamu tahu, aku bakalan selalu ada dan dengerin saat kamu pengen cerita. Mungkin bagi kebanyakan orang dalam persahabatan itu kita harus menceritakan semua rahasia kita pada sahabat kita, bahkan yang paling gelap sekalipun. Tapi bagiku, hal itu sama sekali nggak berlaku. Kamu berhak nyimpan cerita dan rahasia kamu sendiri, toh aku yakin suatu saat nanti akan datang padamu saat yang tepat untuk menceritakan hal yang kamu simpan selama ini ke aku. Oke, aku balik duluan, ya.”

Mendengar penuturan panjang Dondon ini Aga tercenung, ia meresapi apa yang baru saja dikatakan oleh sahabatnya itu. Aga pun menghela napas dalam-dalam, lalu ia berdiri dan memanggil Dondon.

“Don! Tunggu!”
“Ya?”
“Kau benar tentang rahasiaku itu. Aku dapat memilih menceritakannya padamu sekarang tapi kurasa akan ada saatnya aku memberitahu hal itu padamu. Dan yang terpenting kini aku sadar bahwa kau tak pernah menuntut apa-apa dariku dan satu hal pula yang aku ingin kau tahu, kau selalu dan akan selalu menjadi sahabat terbaikku. Jadi, kuharap kita masih bersahabat, kan?” tanya Aga penuh harap.

“Tentu saja, kawan.” jawab Dondon tersenyum lalu merangkul pundak Aga brotherly. Akhirnya mereka berdua pun menjadi sahabat karib yang akrab selamanya.

If you enjoyed this post Subscribe to our feed

No Comment

Posting Komentar

Sabtu, 10 November 2012

Tak Semua Rahasia

Aga termenung sendiri di bangkunya yang terletak di pojok kelas XI IPA 1, di SMA Paxton Nusantara. Merupakan sesuatu yang tidak biasa bagi seorang Aga yang biasanya selalu penuh energi yang meletup-letup itu. Hal ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran bagi sang sahabat sekaligus kawan sebangku Aga, yaitu Donovan yang lebih sering disapa dengan Dondon oleh teman-temannya.


“Kamu kenapa, Ga? Nggak biasanya jadi pertapa kayak gitu?” tanya Dondon setengah bercanda sambil menepuk bahu Aga pelan.

“Ah, enggak. Lagi nggak mood aja.” sahut Aga dengan acuh tak acuh sambil beranjak dari kursinya dan melangkah keluar kelas. Meninggalkan Dondon yang masih berdiri dengan roman wajah penuh tanda tanya.

Rrrrrriiiiingggg!!!!

Aga dengan tergesa-gesa pergi keluar kelas seperti yang dilakukannya tadi pagi, Dondon yang ingin tahu apa yang terjadi pada sahabatnya berusaha mengejarnya.
“Hei, Ga! Mau kamu tuh apa sih? Tadi pagi kabur, sekarang kabur. Pas pelajaran Pak Rahadian tadi aku tanya berapa kali juga kamu ngga ngejawab. Kalo ada masalah cerita dong!” kata Dondon setengah berteriak.

“Bukan urusanmu.” sahut Aga ketus tanpa menghentikan langkahnya.
Dondon terperangah dan berhenti mengejar Aga, ia tidak pernah menyangka akan mendapat jawaban sedemikian rupa dari sahabatnya sejak kelas X. Hari-hari berikutnya Dondon masih terus mencoba berbicara pada Aga, namun Aga selalu mengelak. Dondon pun memutuskan untuk pindah bangku. Hingga di hari ke 7 semenjak Dondon pindah, Dondon melihat Aga sedang duduk dibawah sebatang pohon mahoni yang rindang.

“Aku tak peduli kamu dengerin atau enggak, tapi aku hanya ingin kamu tahu Aga, sekalipun kamu nggak cerita ke aku, aku tetep sahabatmu. Asal kamu tahu, aku bakalan selalu ada dan dengerin saat kamu pengen cerita. Mungkin bagi kebanyakan orang dalam persahabatan itu kita harus menceritakan semua rahasia kita pada sahabat kita, bahkan yang paling gelap sekalipun. Tapi bagiku, hal itu sama sekali nggak berlaku. Kamu berhak nyimpan cerita dan rahasia kamu sendiri, toh aku yakin suatu saat nanti akan datang padamu saat yang tepat untuk menceritakan hal yang kamu simpan selama ini ke aku. Oke, aku balik duluan, ya.”

Mendengar penuturan panjang Dondon ini Aga tercenung, ia meresapi apa yang baru saja dikatakan oleh sahabatnya itu. Aga pun menghela napas dalam-dalam, lalu ia berdiri dan memanggil Dondon.

“Don! Tunggu!”
“Ya?”
“Kau benar tentang rahasiaku itu. Aku dapat memilih menceritakannya padamu sekarang tapi kurasa akan ada saatnya aku memberitahu hal itu padamu. Dan yang terpenting kini aku sadar bahwa kau tak pernah menuntut apa-apa dariku dan satu hal pula yang aku ingin kau tahu, kau selalu dan akan selalu menjadi sahabat terbaikku. Jadi, kuharap kita masih bersahabat, kan?” tanya Aga penuh harap.

“Tentu saja, kawan.” jawab Dondon tersenyum lalu merangkul pundak Aga brotherly. Akhirnya mereka berdua pun menjadi sahabat karib yang akrab selamanya.

0 komentar:

Posting Komentar