Kembalinya Handphone yang Hilang

Written on 07.30 by Viny Alfiyah



“Eh, hp-ku mana ya? Kok nggak ada?” tanya Vandri pada Danu sambil menghentikan langkahnya.
“Lha? Mana aku tahu?” sahut Danu yang ikut berhenti berjalan.
“Beneran nggak ada!” seru Vandri terdengar agak panik. Kedua tangannya meraba-raba ke dalam saku baju dan celana tapi ia tetap tidak menemukan wujud alat komunikasi berbentuk balok kecil itu.
“Seriusan, Dan. Hp-ku nggak ada di kantong, nih! Padahal tadi jelas-jelas aku taro di saku depan!”
“Oke, tenang dulu. Mendingan kita balik lagi ke Labkom aja, mungkin kamu lupa naro di sana, Van.”
“Tadi kamu duduk disini ‘kan? Sekarang sambil nyari hp kamu, coba inget-inget pas terakhir kamu ngeluarin hp. Gimana?”
“Oke, lah.”

Danu dan Vandri pun berkeliling Labkom untuk menyisir tempat-tempat yang mungkin menjadi area jatuhnya hp Vandri. Kolong kursi dan meja tak luput dari pencarian mereka. Setelah beberapa lama mencari tapi hasilnya tetap nihil.
“Masa nggak ada? Terakhir aku pegang hp ‘kan disini?” kata Vandri sedikit frustasi.
“Gimana kalo aku call hp kamu? Di-silent nggak? Mungkin kalo di-call bakal kedengeran ringtone hp kamu..”
“Ahhh, tapi masalahnya hp-ku itu di-silent, Dan!”
“Hmm, agak susah sih kalo di-silent. Tapi patut dicoba.”
“Oke.”
“Nyambung, Van. Tapi kok malah di-reject ya, Van?”
“Coba telepon lagi, Dan..”
Danu mencoba menelepon 5 kali lagi. Tapi pada saat ia akan menelepon untuk yang ketujuh kalinya, hp Vandri tidak aktif. Danu pun mengirimkan SMS yang berisi bahwa hp itu adalah milik Vandri dari kelas X.1.
“Kita coba cari di kelas dulu, Dan.”

“Ada nggak, Van?”
“Nggak.”
“Udah, mending kamu ke mushala, berdo’a dan serahin semuanya sama Allah, lagian sekarang udah waktunya sholat Dhuhur.”
Saat melaksanakan shalat dhuhur, Vandri mencoba mempraktekan cara shalat khusyuk yang pernah dipelajarinya. Ia pun berdo’a sambil bersujud, ia yakinkan jika hp itu memang rezekinya, hp itu pasti akan kembali padanya. Jika tidak, maka Vandri bertawakal serta sabar terhadap takdir Allah SWT. Saat memakai sepatu sambil membilang zikir, seseorang bertubuh kecil dan memakai kacamata menghampiri Vandri.
“Mmmm, Vandri?”
“Ya? Eh, kamu kan..”
“Aku tahu kamu Romi.” Vandri memang tidak begitu mengenal Romi yang dicap kuper oleh teman-teman sekelas mereka.
“Ngg, kamuu hilang hp?”
“Kok kamu tahu?”
“Aku tadi nemuin hp di koridor Labkom, kayaknya jatoh pas kamu mau pake sepatu. Maaf tadi aku reject soalnya aku takut dituduh nyuri hp kamu...” ujar Romi sambil mengulurkan hp Vandri.
“Alhamdulillah, tuh kan Van, Allah pasti akan menolong mereka yang meminta pertolongan.” kata Danu.

“Wah, Alhamdulillah. Duhhh, terimakasih ya Allah, Engaku masih mempercayakan hp itu pada hamba. Makasih juga ya, Rom. Nggak kok, kita nggak nuduh kamu nyuri, justru aku sangat berterimakasih sama kamu udah nyimpen hp aku. Kalo bukan kamu yang nyimpen mungkin hp ini nggak bakal balik lagi ke aku.” kata Vandri sambil tersenyum.
“Nah, masalah hp udah selesai. Yuk, kita balik ke kelas. Bel masuk juga udah bunyi tuh!” ajak Danu yang diikuti anggukan oleh Vandri dan Romi yang kini menjadi teman baru mereka.


If you enjoyed this post Subscribe to our feed

No Comment

Posting Komentar

Sabtu, 10 November 2012

Kembalinya Handphone yang Hilang



“Eh, hp-ku mana ya? Kok nggak ada?” tanya Vandri pada Danu sambil menghentikan langkahnya.
“Lha? Mana aku tahu?” sahut Danu yang ikut berhenti berjalan.
“Beneran nggak ada!” seru Vandri terdengar agak panik. Kedua tangannya meraba-raba ke dalam saku baju dan celana tapi ia tetap tidak menemukan wujud alat komunikasi berbentuk balok kecil itu.
“Seriusan, Dan. Hp-ku nggak ada di kantong, nih! Padahal tadi jelas-jelas aku taro di saku depan!”
“Oke, tenang dulu. Mendingan kita balik lagi ke Labkom aja, mungkin kamu lupa naro di sana, Van.”
“Tadi kamu duduk disini ‘kan? Sekarang sambil nyari hp kamu, coba inget-inget pas terakhir kamu ngeluarin hp. Gimana?”
“Oke, lah.”

Danu dan Vandri pun berkeliling Labkom untuk menyisir tempat-tempat yang mungkin menjadi area jatuhnya hp Vandri. Kolong kursi dan meja tak luput dari pencarian mereka. Setelah beberapa lama mencari tapi hasilnya tetap nihil.
“Masa nggak ada? Terakhir aku pegang hp ‘kan disini?” kata Vandri sedikit frustasi.
“Gimana kalo aku call hp kamu? Di-silent nggak? Mungkin kalo di-call bakal kedengeran ringtone hp kamu..”
“Ahhh, tapi masalahnya hp-ku itu di-silent, Dan!”
“Hmm, agak susah sih kalo di-silent. Tapi patut dicoba.”
“Oke.”
“Nyambung, Van. Tapi kok malah di-reject ya, Van?”
“Coba telepon lagi, Dan..”
Danu mencoba menelepon 5 kali lagi. Tapi pada saat ia akan menelepon untuk yang ketujuh kalinya, hp Vandri tidak aktif. Danu pun mengirimkan SMS yang berisi bahwa hp itu adalah milik Vandri dari kelas X.1.
“Kita coba cari di kelas dulu, Dan.”

“Ada nggak, Van?”
“Nggak.”
“Udah, mending kamu ke mushala, berdo’a dan serahin semuanya sama Allah, lagian sekarang udah waktunya sholat Dhuhur.”
Saat melaksanakan shalat dhuhur, Vandri mencoba mempraktekan cara shalat khusyuk yang pernah dipelajarinya. Ia pun berdo’a sambil bersujud, ia yakinkan jika hp itu memang rezekinya, hp itu pasti akan kembali padanya. Jika tidak, maka Vandri bertawakal serta sabar terhadap takdir Allah SWT. Saat memakai sepatu sambil membilang zikir, seseorang bertubuh kecil dan memakai kacamata menghampiri Vandri.
“Mmmm, Vandri?”
“Ya? Eh, kamu kan..”
“Aku tahu kamu Romi.” Vandri memang tidak begitu mengenal Romi yang dicap kuper oleh teman-teman sekelas mereka.
“Ngg, kamuu hilang hp?”
“Kok kamu tahu?”
“Aku tadi nemuin hp di koridor Labkom, kayaknya jatoh pas kamu mau pake sepatu. Maaf tadi aku reject soalnya aku takut dituduh nyuri hp kamu...” ujar Romi sambil mengulurkan hp Vandri.
“Alhamdulillah, tuh kan Van, Allah pasti akan menolong mereka yang meminta pertolongan.” kata Danu.

“Wah, Alhamdulillah. Duhhh, terimakasih ya Allah, Engaku masih mempercayakan hp itu pada hamba. Makasih juga ya, Rom. Nggak kok, kita nggak nuduh kamu nyuri, justru aku sangat berterimakasih sama kamu udah nyimpen hp aku. Kalo bukan kamu yang nyimpen mungkin hp ini nggak bakal balik lagi ke aku.” kata Vandri sambil tersenyum.
“Nah, masalah hp udah selesai. Yuk, kita balik ke kelas. Bel masuk juga udah bunyi tuh!” ajak Danu yang diikuti anggukan oleh Vandri dan Romi yang kini menjadi teman baru mereka.


0 komentar:

Posting Komentar