Sejarah Polwan

Written on 01.22 by Viny Alfiyah

Ketegaran seorang perwira berpadu dengan kelembutan dan keanggunan seorang wanita yang sedang di terpa teriknya sinar mentari. Itulah yang penulis lihat di mata seorang Polwan saat mengatur arus lalu-lintas di sebuah jalan raya. Menurut Wikipedia, Polwan adalah satuan Polisi khusus yang berjenis kelamin wanita. Sejarah telah menuliskan bahwa kelahiran Polisi Wanita (Polwan) di negeri kita ini tidaklah jauh berbeda dengan kelahiran Polisi Wanita di negara lain di dunia. Polwan biasanya bertugas dalam penanganan dan penyidikan terhadap kasus – kasus kejahatan yang melibatkan kaum wanita, baik sebagai korban maupun sebagai pelaku kejahatan.
Polisi Wanita lahir di Republik Indonesia pada tanggal 1 September 1948. Daerah yang pertama kali memiliki Polwan adalah Bukit Tinggi, Sumatera Barat ketika Pemerintah Indonesia tengah menghadapi peristiwa Agresi II dan terjadi pengusian warga secara besar-besaran dari daerah Semenanjung Malaya yang sebagian besarnya berjenis kelamin perempuan. Para pengungsi ini tidak mau diperiksa dan digeledah secara fisik oleh Polisi pria.

Permasalahan ini membuat Pemerintah Indonesia menunjuk SPN (Sekolah Polisi Negara) Bukit Tinggi untuk mengadakan “Pendidikan Inspektur Polisi” bagi kaum perempuan. Setelah melalui seleksi yang ketat, terpilihlah enam orang gadis remaja yang kesemuanya asli orang Minang, yaitu : Mariana Saanin, Nelly Pauna, Rosmalina, Dahniar, Djasmaniar, dan Rosnalia yang secara resmi memulai Pendidikan Inspektur Polisi a 1 September 1948. Sejak saat itulah dinyatakan telah lahir Polisi Wanita (Polwan) yang juga merupakan para wanita ABRI pertama di NKRI yang saat pensiun rata – rata telah berpangkat Kolonel Polisi (Kombes).

Kini setelah 64 tahun berdiri, tugas Polwan di NKRI ini bukan hanya menyangkut masalah kejahatan wanita, anak – anak, dan remaja saja, tetapi telah merambah ke masalah administrasi bahkan nyaris menyamai tugas-tugas Polisi prianya. Bahkan Korps Polisi Wanita patut berbangga karena pada 23 Januari 2008 silam secara resmi telah memiliki seorang Kapolda wanita pertama di Indonesia, yaitu Kapolda Banten Brigjen Rumiah.

Jumlah Polwan di Indonesia memang masih sedikit dibanding dengan anggota Polisi pria. Wakapolri Komjen Nanan Soekarna menyebutkan jika Polri memerlukan taruni Akpol lebih banyak, karena dalam undang – undang Polri harus menyediakan kuota taruni sebanyak 30% dimana baru terpenuhi sebanyak 0,3% saja.



Di zaman modern ini, kenakalan remaja, tawuran antar pelajar, dan berbagai kasus kejahatan lainnya semakin marak di berbagai daerah merupakan tantangan bagi Korps Polisi Wanita untuk semakin bersemangat dalam membuktikan eksistensi diri sebagai anggota Polisi Republik Indonesia. Selamat Hari Ulang Tahun Polwan yang ke-64!

Dimuat di koran Harian Umum Pikiran Rakyat edisi 18 September 2012.

If you enjoyed this post Subscribe to our feed

1 Comment

  1. Nguyên Hoàng |

    làm bằng đại học
    làm bằng đại học uy tín
    làm bằng đại học giá rẻ
    làm bằng đại học tại tphcm
    làm bằng đại học tại hà nội
    làm bằng đại học không cần đặt cọc

     

Posting Komentar

Kamis, 08 November 2012

Sejarah Polwan

Ketegaran seorang perwira berpadu dengan kelembutan dan keanggunan seorang wanita yang sedang di terpa teriknya sinar mentari. Itulah yang penulis lihat di mata seorang Polwan saat mengatur arus lalu-lintas di sebuah jalan raya. Menurut Wikipedia, Polwan adalah satuan Polisi khusus yang berjenis kelamin wanita. Sejarah telah menuliskan bahwa kelahiran Polisi Wanita (Polwan) di negeri kita ini tidaklah jauh berbeda dengan kelahiran Polisi Wanita di negara lain di dunia. Polwan biasanya bertugas dalam penanganan dan penyidikan terhadap kasus – kasus kejahatan yang melibatkan kaum wanita, baik sebagai korban maupun sebagai pelaku kejahatan.
Polisi Wanita lahir di Republik Indonesia pada tanggal 1 September 1948. Daerah yang pertama kali memiliki Polwan adalah Bukit Tinggi, Sumatera Barat ketika Pemerintah Indonesia tengah menghadapi peristiwa Agresi II dan terjadi pengusian warga secara besar-besaran dari daerah Semenanjung Malaya yang sebagian besarnya berjenis kelamin perempuan. Para pengungsi ini tidak mau diperiksa dan digeledah secara fisik oleh Polisi pria.

Permasalahan ini membuat Pemerintah Indonesia menunjuk SPN (Sekolah Polisi Negara) Bukit Tinggi untuk mengadakan “Pendidikan Inspektur Polisi” bagi kaum perempuan. Setelah melalui seleksi yang ketat, terpilihlah enam orang gadis remaja yang kesemuanya asli orang Minang, yaitu : Mariana Saanin, Nelly Pauna, Rosmalina, Dahniar, Djasmaniar, dan Rosnalia yang secara resmi memulai Pendidikan Inspektur Polisi a 1 September 1948. Sejak saat itulah dinyatakan telah lahir Polisi Wanita (Polwan) yang juga merupakan para wanita ABRI pertama di NKRI yang saat pensiun rata – rata telah berpangkat Kolonel Polisi (Kombes).

Kini setelah 64 tahun berdiri, tugas Polwan di NKRI ini bukan hanya menyangkut masalah kejahatan wanita, anak – anak, dan remaja saja, tetapi telah merambah ke masalah administrasi bahkan nyaris menyamai tugas-tugas Polisi prianya. Bahkan Korps Polisi Wanita patut berbangga karena pada 23 Januari 2008 silam secara resmi telah memiliki seorang Kapolda wanita pertama di Indonesia, yaitu Kapolda Banten Brigjen Rumiah.

Jumlah Polwan di Indonesia memang masih sedikit dibanding dengan anggota Polisi pria. Wakapolri Komjen Nanan Soekarna menyebutkan jika Polri memerlukan taruni Akpol lebih banyak, karena dalam undang – undang Polri harus menyediakan kuota taruni sebanyak 30% dimana baru terpenuhi sebanyak 0,3% saja.



Di zaman modern ini, kenakalan remaja, tawuran antar pelajar, dan berbagai kasus kejahatan lainnya semakin marak di berbagai daerah merupakan tantangan bagi Korps Polisi Wanita untuk semakin bersemangat dalam membuktikan eksistensi diri sebagai anggota Polisi Republik Indonesia. Selamat Hari Ulang Tahun Polwan yang ke-64!

Dimuat di koran Harian Umum Pikiran Rakyat edisi 18 September 2012.

1 komentar: